Sabtu, 23 Februari 2013

THE SNOW IN MIDLANDER


          Udara kota London memasuki musim winter. Salju menumpuh dibarisan atp rumah bergaya gypsi. Dahan-dahan kering filicim mengerut terbungkus berbongkah-bongkah salju tipis yang membuat batang kering itu teba seperti lengan boneka sinterklas. Kaca-kaca menguapkan embun yagn memudarkan pemdangan dari dalam kamar. Di awan, langit putih pucat, menurunkan serbuk serbuk salju yang melayang ringan bak terigu yagn berhamburan menyelimuti tanah basah. Oktober d Birmingham.
          Jari mungil itu terlihat menari-nari di ats keyboar desktop computer, seorang gadis dengan rambut terurai indah tersenyum sembara menatap layar untuk menuliskan sedikit ungkapan rindu, sedih, dan menjalani aktifitas baru di negri empat musim. Tut-tu itu terlihat bernada ketika jemari mungil itu berjingkarak-jingkrak diatasnya, persis sama ketika ia memainkan piano. Ia tersenyum penuh arti, hingga sebuah ulasan ginsul tersembul di sudut bibirnya yang ranum kalis seperti madu. Satu kegiatan di penghujng senja. Dan melihat gerimis yagn turun perlahan, hatinya tertegun. Rasa rindu membuncah dalam hati gadis manis itu.
Jauh dari rumah ternyata memberikan nuansa tersendiri di hati seorng gadis yang kini memandang anparan alam salju dengan tersenyum. Ia memakai daster dengan sal diselempngkan ke leher. Dingin membekukan hasratnya untuk berjalan menyusuru keadaan kota brimingham, seperti biasanya. Ia lebih memilih untuk duduk dilayar computer, menulis spatah kata dib lo tentang suka duka menjalani kuliah di universitas brimigham city. Y, tahun ini adalah musim pertema ia kuliah.tak heran belembar cv tentang universitas, silabus, dan beberapa buku wajib fakultas harus ia baca satu persatu di meja mungil apatement marlotnya. Belum lagi exam yang tiga bulan lagi akan segera dilangsungkan, sedikit banyak emmbuat ia lumayan strees dan hox msnghadapi kesendian tanpa kehadiran orang tua tercintanya.
          Untuk mengisi waktu laung, sering ia berjalan sendiri menjalani jalanan kota London. Midland, dan dari dormnya itu ia harus berjalan emutar untuk menaiki kereta di terminal aborrte. Pergi mengunjungi museum, pagelaran seni, sirkus, dan hunting dress di pasa festival midland. Hidup di negri orang memberikan sesuatu abru dalam dirinya. Yaitu betapa sekarang ia menjalani profesi dua sisi, yaitu disini, ia bebas melakukan dan berbuat apa saja. Tidak di Indonesia, tempat dimana ia menemui popularitas yang menghadle setiap hari-harinya. Jika di Indonesia I menjadi penyanyi terkenal, di London, ia justru merasakan sosok yagn biasa-biasa saja.
          Sore ini, setelah berdingin-dingin sehabis berjalan dari kawasan midlander, bertemankan sepring spageti dan strobery sparkling tea, I sengaja merefresh segla kepenatan dengan berselancar di dunia maya. Sesekali mencek tweet, mengupdate status, dln. Tapi kali ini ia lebih terrobsesi untuk menulis. Menuliskan segla pengalamamn dinegri orang. Kali ini tentang sirkuit de olelil yang abrus saja ia lihat di abbey roa studio.
          Jari mungil itu kemudian menarinari dengan gemulai dan kata-kata inisial satu persau tertera dimonitor lcd vaionya. Semnetara ia menuliskan ulasan mengenai hari-harinya, kerlap-kerlip emailnya menyala. Menandakan sebuah tanggal dibulan November. Ya, itu adalah hari kepulangannya nanti. Dua bulan lagi. Ia menjadwalkan pada hari itu aakn mengisi pementasan disebuah konser. Sesaat ia terkenang kembali pada kehidupannya dijakarta. Saat-saat kesibukan menjadi seorng penyanyi dulu.
          “ Jakarta hall convention center”
          Memo di i-podnya menimbulkan sederet jadwal tempat dmana ia nanti akan perform. Seperti dulu saja, ketika tiap pementasan tertera di agenda dindingnya. Ia jadi ingat bagaimana duetnya dengan adaband dulu menjadi titik tolak karirnya sejauh ini. Bertahun sudah sejak hari itu, dan dua buah album dan satu mini alum religi telah melengkapi karirnya sebagai diva muda. Berbagai prestasi itu terbukti dengan deretan piala yang ia pajang dilemari kamarnya. Beberapa iklan tivi, film love in pertnya, dan semua prestasi yang ia imbanagi dengan prestasi akademiknya sudah menjadi list history of lifenya selama ini. Satu hal yang masih ia cita-citakan kini masih tersangkut di ujung penanya. Kuliah!!
          Lulus dari SMa binus simprug ia akhirnya melanjutkan kuliah ke luar negri. Awalnya ia mendaftar dibeberapa universitas di inggris, anmun bersadsarkan feelng, ia melabuhkan hatinya di universitas of brimninham. Padahla di segala universitas yang ia lamar itu ia lulus. Namun nasib memang harus mengiringya sampai ke negri para midlander.
          Dan hari ini ia mengawali hari –hari barunya dinegri asing. Jauh dari rumah merupakan tantangan tersendiri baginya. Demi masa depan, ia harus meninggalkan rumah. Menjemput ilmu  baru, dan merealisasikan cita-cita masa depan.
          Gadis mungil itu tersenyum menuliskan kehidupan barunya di London. Sembari menekan “ enter “ ia mempublish artikel itu untuk mengobati kerinduan fansnya.
          Hari-haripun terasa indah di musim salju yang indah itu di kota London. Tanpa Ia tahu, barangkali tulisan yang ia entry tersebut selalu ditunggu oleh seseorang, berharap selalu tahu, bagaimna perkembanannya selam di negri orang. Dan rasa rindunya, setidaknya terobati dengan sedikit kabara dari negri empat musim.
          Artikel new date itu serta merta terbuka disalah satu negri seberang. Kembali imajinasinya menjad awal, bagaimana ulasan kehidupan tentang labuhan hatinya bisa tertera dihadapan wajahnya. Dan lagi-lagi, senyum itu menghiasi antusiasnya.kira- kira itulah rentetan ilustrasi kisah yagn tercipta dari seorang pemuda kurus tinggi di depan sebuah laptop hp probok. Ia mereka-reka berjuta kemungkinan tentang bagaimana proses ema-il yagn ia baca ini sampai kepadanya. Dan di atas meja kecil didepan jendela kamarnya, ia tersenyum penuh arti. Imajinasi ini sudah cukup mampu menggambarkan sseperti apa kabar sosok labuahn hatinya saat ini. Ia lalu terus saja menulis. Dan tentu dengan rekaan ilustrasinya yagn mencengangkan. 

LORONG WAKTU | Satu kisah di 1993



RSUD Payakumbuh | 20.22

Ucapan kecil mengalir lembut di sebuah kamar A17, Ruang ICU. Anak kecil bermata sipit itu mengguncang-guncang lengan ayahnya. Keningnya mengerut, setengah memelas ia meminta lanjutan dongeng semalam dari ayahnya ditempat tidur. Seperti biasa, ia akan bisa tidur bila ayahnya mendngengkan ia serial cerita si kacnil yang cerdik penghantar anak lelaki pertamanya untuk terlelap. Dan kini anak itu memaksa ayahnya yang matanya sudah mulai berat. Pekerjaan dikantor tadi amat sibuk. Ia hanya mampu menghela nafas, dan mendengar celotehan anaknya yang tidak juga reda, ia mengalah, dengan tersenyum ia melakukan apa yang anaknya mau.lagipula, sakit tipus yang diderita anak itu membuat ia tidur dirumah sakit selama tiga hari ini.
          “ ya udah, papa akan cerita. Kamu dengar baik-baik ya.”
          Ia kemudian mengusap kepala anaknya. Anak lelaki itu akhirnya diam. Ia memeluk erat lengan ayahnya kuat-kuat. dengan telinga terpasang, dan wajah lugu, ia menunggu sepatah dua kata keluar dari mulut ayahnya.
          “ hari ini papa akan menceritakan kisah kancil yang cerdik. Cerita bermula ketika pak budi hendak memanen timunnya. Sang kancil mengetahui …..
          Lalu cerita itu mengalir begitu saja. Selama ayahnya bercerita selama itu pula anak kecil tadi mendengarkan dengan seksama bagaimana detail peristiwa di alami si kancil. Meski cerdik, tapi sang kancil malah mencerminkan sikap tidak baik dalm dirinya. Ia mencuri timun pak budi, dan akibat itu ia menemui musibah yang menyedihkan.
          “ Kancil itu akhirnya tertangkap. Subuh lusa, pak budi akan menyembelihnya. Itulah ganjaran bagi orang yang mencuri.”
          Dengan intonasi nada yang lembut, tegas dan bekarisma, si ayah tadi menjelaskan bebarapa pelajaran moral pada anaknya. Si anak, meski baru berusia tiga tahun, namun sudah dikenalkan dengan nilai-nilai kehidupan dan agama. Hinga untuk masa dewasa nanti, dia bisa menentukan kehidupan sendiri, namun tidak lepas dari peranan dan tuntuan agama. Seperti turum temurun. Kehidupan kecil anak-anak minangkabau dianjurkan untuk memahami kejadian-kejadian yang mampu mencerminkan mana batas antara yang hak dan batil.
          Malam pun berlalu. Si ayah tetap saja bercerita dengan lugas. Ia menaydarkan kepalanya dikepala tempat tidur. Sete3ngah duduk, dan anaknya terlelap disampingnya sembari jemarinya mengusap-usap rambut anaknya. Sesekali ia menaikkan emosi, menghayati cerita agar kesan itu terasa mejalar kpada anaknya. Sang anak kadang menanggapi itu dengan bertanya dengan polos, menanayakan kenapa harus berbuat baik, kenapa tidak boleh berbohong, mencuri, dan boros. Si ayah menjawab itu semua dengan tenang. Dengan alasan-alasan dan ogika sederhana dengan berbagai analogi kecil. Hingga akhirnya, si anak tertidur pulas.
          Lelaki tadi menyadari anaknya telah masuk di alam mimpi. Ia mengamati sejenak wajah anaknya. Mencari-cari satu jejak garis yang sama tentang dirinya. Yaitu sebuah harapan. Lama menatap wajah polos anaknya, tiba-tiba ia berangan sendiri. Bahwa di suatu saat anak ini dapat mengemban segala harapan darinya. Bayangan-bayangan itu kemudian terurai menjadi visualisasi anaknya yang tengah memegang medali perak, mengangkat trofi juara sepak bola, bersujud di masjid, membca alquran, dan berjuta grafik kehidupan menjanjikan tentang masa depan anaknya.
          Menjelang tidur, setelah membetulkan posisi bantal anaknya, ia mengecup kening anaknya dengan lembut. Setengah berbisik, ia berucap dalam tarikan nafas memasrahkan segala harapan suci untuk anak lelaki pertamanya dalam doa. Layaknya kasih orang tua terhaddap sang anak.
          Anak lelaki itu akhirnya ia biarkan tidur sendiri di kasurnya. Dia sendiri tidur bersama istrinya di kasur samping anaknya. Tanpa ia tahu, anak lelaki berparas tampan itu terbawa ke dimensi ruang mimpi lain. Harapan-harapan kecil yang ia lontarkan kelangit tadi benar-benar membawa anaknya ke satu dunia lain. Seperti lengan nasib yang melingkar, sosok invisible hand itu menjalari langsung alam bawah sadar anaknya tadi lewat petualangan ganjil di alam mimpi. Satu cerita yang saling terhubung dengan seseorang ditempat lain. Dan perlahan nasib telah mengikatkan kapal pesiar mimpinya di satu dimensi aneh, pada kisah seseorang yang kelak akan mengambil alih kemudi hidupnya.
          Perlahan .. ia tenggelam memasuki alam baru. Dan tanpa ia sadar, ia terdampar dalam kehidupan seseorang yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.


***

Interval | @Jakarta

Malam kian larut di langit cerah. Bintang gemintang bertebaran di alam raya. Bulan timbul tenggelam diselimuti gugusan awan putih yang beringsut pelan. Dibawahnya, gemerlap ibukota Jakarta kian megah. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Berpadu pantulan lampu taman dan mobil di genangan air jalan raya. Gerimis baru reda.
          Ibu muda itu terlihat sedang dipapah oleh pria berkamata. Mereka memadu kasih di pelataran rumah. Pria itu mengelus perut istrinya yang tengah hamil. Ia lalu mengecup dahinya dengan penuh kasih saying. Seakan mengatakan kalau ia bersedia menemaninya sampai kapanpun. Sayu-sayup angin senja membelai kehadiran mereka. Mereka tersenyum sembari berpandangan. Lalu si pria tadi mengeluarkan earphone. Samar-samar, music classic norah jones terdengar. Dengan sedikit sentakan halus, ia menyentuhkan earphone itu ke perut istrinya.
          Sang istri hanya tersenyum. Ia turut membalas perlakuan suaminya dengan cara mengusap kepalanya. Mereka berdua larut dalam suasana hening. Berhara alunan music yang mereka sentuhkan tadi dapat didengar oleh sang anak yang masih didalam rahim. Mereka ingin berbagi keindahan. Dan menyatulah mereka dalam kebersamaan yang menghangatkan.
          “ apa dia mendengar bahasa kita mas “
          Sebuah pertanyaan meluncur halus dari bibir wanita itu.
          “ tentu .. music ini adalah pesan yang mewakili bahasa kita. Karna sejatinya music adalah bahasa. Dia pasti mendengar. “
si suami menenangkan istrinya dengan sebuah filosofi tentang kehidupan.
Kemudian bulan pun berlalu. Berganti waktu mengantarkan mereka pada sebuah peristiwa berseajrah dalam hidup mereka. Di suatu malam, ketika sang suami pulang mengguba h aransemen nada, ia mendapati sang istri tengah kesakitan dikamar. Ia panic bukan main. Melihat sang istri memegangi perut sambil meringis, ia terkejut. Dan ia paham bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. tanpa menunggu waktu lama ia membawa istrinya menuju rumah sakit bersalin. Sepanjang jalan ia berusaha meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja. Sang istri hanya menggennggam erat jemari suaminya saat mobil serena hitam itu akhirnya tiba dilobi rumah sakit. 
Pria itu begitu khawatir saat melihat rintihan istrinya di ruang bersalin. Ia tak kuasa mendengar kepedihan itu. Berulang kali ia ingin masuk, tapi suster menahan langkahnya. Karna proses berikutnya adalah hal penting. Tadi ia sudah sempat membisikkan kata-kata kuat di telinga istrinya. Dan ia berjanji akan selalu ada disampingnya. Tapi ketika ia disuruh keluar sebentar ia jadi risih. Namun ia menyerahkan sepenuhnya persoalan itu pada dokter. Lama berselang, ia memutuskan menenangkan diri sembari duduk bersandar di sebuah kursi. Jemarinya menggenggam kepalanya.dan sesekali ia mendesis sambil melirik layar kaca dipintu. Namun tirai belum juga disingkapkan.
Tiba-tiba … pukul 12 malam, suasana mendadak terang benderang baginya. Ia merasakan denyut nadi kehidupan bertedak kencang dalam dadanya. Matanya berbinar, dan ia rasakan seluruh tubunya gemetar menahan gemuruh itu. Dengan keadaan bersuka cita, telinganya jelas-jelas menangkap Sesuatu. Sebuah tangisan mendayu-dayu dari anak pertamanya. Tangis itu …. Seakan membuatnya tertawa. Lalu ia berhambur saat dokter keluar dengan raut wajah bercahaya. Beribu pertanyaan keluar dari mulutnya dengan antusias. Melihat itu, dokter jadi tertawa sendiri. Ia tak memjawab pertanyaan tadi. Namun ia membukakan pintu lebar-lebar, mengembangkan lengannya kea rah seorang suster yang tengah memeluk seorang bayi putih bersih.
Sang dokter hanya bisa tersenyum melihat laki-laki itu bergetar-getar hebat menyaksikan geliat manja bayi itu. Sejenak ia tampak gugup. Namun perlahan-lahan wajahnya merekah. dan air mata itu mengalir hangat di pipi saat bayi kecilnya terdiam didekapannya.
Berjuta rasa berkecamuk saat nafas bayi itu menyatu di dadanya. Tak terasa, air matanya mengucur deras. Anak pertamanya telah lahir ke dunia. Bayi itu berkening luas. Persis sepertinya. Tangis bayi itu semakin kuat. ia tertawa sambil mendongakkan kepalanya ke atas ubin-ubin ruangan yng pucat. Sepucat wajah bayi mungilnya. Istrinya tersenyum melihat itu. Saat tangisan bayi itu makin keras, sang suami mengecup keningnya sebelum ditidurkan di sisi istrinya. Mendengar tangis itu, mereka berdua berpelukan. Tangis itu kemudian terurai menjadi nada-nada merdu. Maka terbesitlah sebuah nama di awal subuh bertepatan dengan tabir surge yang dkmandangkan muazin saat azan. Sebuah kombinasi alunan nan merdu dari surga. Bisikan itu kemudian bergema dihati mereka. Bayi itu, gadis kecil yang jelita itu diberi nama “ Aluna  Sagita “. 
          

Masa Lajang


20 februari 2013         

Aku baru saja pulang kuliah. tak ingin pulang terlebih dahulu, aku berkunjung ke kos bulek. wajar saja, karna motor yang tengah kujadikan media transportasi tadi adalah pinjaman dari mas nop. karna itu, tak efisien rasanya jika aku berlama-lama mengeksploitasi motornya untuk kubawa pulang. Sudah hampir satu hari sejak tadi malam motornya kubawa. alasannya masih sama. Vario pinky ku belum juga dikembalikan ayah.
          Hatiku sangat berbunga-bunga saat sampai dikos ini. semua terasa berwarna. bagaimana mungkin hatiku berdebar-debar tak tentu arah? ah, jatuh hati bukan asumsi yang tepat, tapi pikirankulah yang justru telah tercuri. tadi waktu dikelas, seseorang gadis berperawakan chuby tiba-tiba saja mengalihkan duniaku. setidaknya sampai detik ini.
          Sebenarnya ini sudah pertemuan kedua kuliah. baru memang, tapi baru kali inilah kurasakan sesuatu yang beda tentang gadis itu. waktu awal kuliah kompleksitas seminggu yang lalu, gadis itu sudah ku amati. ketika ia kebetulan duduk dikursi depanku. rambut panjangnya tergerai lurus dengan poni sebatas alis matanya. pipi gadis itu bulat, hingga ketika ia bicara pipi itu akan menggembung seiring mata kecilnya yang berbinar. bibirnya berwarna ungu, aku tak tahu apakah itu pengaruh lipgloss atau apa, dan secawat behel berhias manik-manik terlihat memagari gigi putih bersihnya.
          Hari itu biasa saja, tapi kini ada yang membuat ku tertarik melihat paras wajah oriental lucu itu. saat perkuliahan usai, aku tak sengaja menatap matanya saat melewatinya di sisi pintu. pandangan kami seharusnya beradu, terlihat dari lirikannya yang coba-coba ikut menatapku. tapi aku cepat-cepat mengalihkan wajah. pura-pura menatapnya sekilas, lalu berlalu keluar kelas.
          Ah ... harusnya tadi ku ikuti insting naluriku untuk menatap bola mata bulat itu lama-lama. bisa saja pipinya yang chuby itu menggelembung lagi saat kulemparkan senyum sapa. aku yakin, ia juga akan membalas senyumku. setidaknya senyum perkenalan lewat tatapan mata.
          Aku merutuk sendiri ketika kejadian itu berlalu begitu saja, tanpa ada gereget yang harusnya tejadi dengan indah. seperti gelagat salah tingkah ketika beradu pandang, seperti pipinya yang merona malu, gugup, dan berjuta kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. ah,, kelemahanku masih saja terletak pada sifat malu yang kronis. seperti yang sudah-sudah, salah satu faktor utama yang hingga kini terus membuatku terjebak dalam status jomblo permanent. menyedihkan, tapi justru dari sifat inilah yang membuat aku berbeda dari anak-anak muda kebanyakan. jika benar kata mereka bahwa pacaran itu tidak akan asik tanpa hubungan fisik, yang merupakan bumbu dari suatu hubungan, maka aku sangat beruntung sekali karna hingga kini aku belum sedikitpun menyentuh hal-hal tidak senonoh seperti demikian. jangankan hubungan fisik, bicara pada wanita pun jujur sudah membuatku gugup, grogi, dan salah tingkah.
          Hmm .. dua sisi yang saling bertolak belakang. disatu sisi aku bisa dibilang cement karna hingga usia 22 tahun aku belum menghadirkan beberapa mantan yang pernah singgah dihatiku. pernah sih, tapi itu cuma satu kali seumur hidup waktu kelas satu SMA dulu. dan sejak itu aku tak lagi membuka diri. di satu sisi lainnya, meskipun orang-orang bilang aku payah, aku sudah cukup bersyukur telah diberikan suatu keadaan yang menjauhkan aku dari dunia menjemukan yang harus menuntutku ini-itu. dan demikian, barangkali aku juga bisa terlepas dari pengaturan waktu yang meski kubagi di masing-masing hari dalam satu minggu. seperti kapan waktu apel, jalan, nonton, nemenin doi shoping, nelfon hingga larut malam, dan beberapa aktifitas lain yang kadang tak masuk akal. sisi ini lebih membuatku kuat mendengar ocehan-ocehan mengiriskan yang sampai ditelingaku.
          Tapi tak tertutup kemungkinan masa sendiri ini ku akhiri ketika suatu saat akan ada seorang wanita yang terang-terangan telah membuat aku lupa pada segalanya. seorang gadis yang tak perlu punya spesifikasi kusus. cukup membuat hatiku tergetar saat ia tersenyum, berbicara dan menatapku lewat sepasang bola mata indahnya. maka bila itu sudah terjadi, dan sudah kurasakan pergolakan batin itu dihati ini, maka aku tak akan ragu lagi membuka diri. Dan untuk wanita spesial seperti itu, aku akan melakukan apa saja untuk merebut hatinya, meski melakukan hal-hal tak masuk akal sekalipun, termasuk mengenyahkan jauh-jauh sifat maluku yang selalu menjadi perisai akan datangnya rasa suka yang kemudian bermetamorfosis menjadi cinta. klise memang, tapi jika kesempatan itu datang, aku tak akan menunggu lama karna, saat itu jugalah perasaan ini akan ku ucapkan mesra dihadapannya. dan aku tak akan mau peduli dunia mau berkata apa.
          Seperti kesanku tentang gadis mungil di masa lalu ... gadis kecil dengan senyum ginsul yang ia punya, yang entah kenapa selalu membuat aku terpesona dalam cara apapun. apa lagi ketika ia tertawa dengan manis. Dan rasa rindu yang hadir telah  menusukku dari dalam. tentang segala hal, tentang tutur sapanya, alunan jemari mungilnya saat memainkan nada, senyumnya yang meluluhkan jiwa, dan suara indahnya yang terngiang selalu ditelinga. maka jika segala hal tentang gadis seperti dia termanifestasi melalui sosok lain diduniaku, meski defenisi pesonanya tak terlalu rinci seperti pesona yang ia punya, maka getaran yang ia sentuhkan pada hatiku sudah cukup. dan senyum yang ia punya itu bisa mengingatkan aku sewaktu-waktu  pada sebuah ulasan senyum yang pernah membuat aku terpesona .. tentang dia, tentang satu wajah yang hingga kini masih menjadi kekuatan kenapa hati ini tertutup lama dari perasaan yang terangkai menjadi kata cinta. setidaknya biarlah begitu hingga nanti aku benar-benar sampai pada masa dimana tulang rusukku nanti akan memperlihatkan diri dengan sendirinya. tak mengapalah jika dia bukanlah gadis itu.
          Tak terasa, anton dan bulek yang sedari tadi tertidur saat aku sampai kini telah terbangun. kehebohan suasana yang mereka munculkan cukup membuat rasa yang tadi mendera-dera dihatiku sedikit pudar. gadis dikelas tadi memang telah mempesonaku. tapi seperti biasa, rasa itu tak akan lama. mungkin hanya sebatas rasa kagum sementara. tadi bisa saja kubilang aku suka, tapi sekarang aku malah merasakan sosok itu biasa-biasa saja. tadi sempat terbesit dipikiranku untuk membuat rasa ini berujung pada satu akhir yang menyatukan kami dalam sebuah hubungan yang terimajinasi di kepala. Pacaran !!
Ught .. lagi-lagi khayalan ini mengambil alih. seperti biasa selalu, bila ada wanita yang ku suka, imajinasi ku akan menari-nari dengan sendirinya. menyajikan momen-momen indah yang belum sempat terjadi. aku saja jadi geli saat imajinasi di pikiranku terangkai menuju suasana saat seusai kuliah, dimana aku dengan motor baruku vixion nanti membonceng dia dan punggung jenjangku menjadi sandaran kepalanya.  berlanjut saat kami suap-suapan di sebuah pantai, makan malam di cafe restro, hingga mengantarnya lagi pulang ke rumah. adegan luar biasa justru terjadi di depan pagar rumah gadis itu  ... kami saling bertatap muka terlarut dalam suasana aneh dimana mata kami menjanjikan harapan lebih tentang masa depan. dimata itu kami sama-sama melihat cinta ini begitu suci, seakan-akan pertemuan ini adalah awal dan akhir hingga masa tua kami menjelang. Angin malampun mendesis. Hening .. sejurus kemudian, tanpa terduga sama sekali, kontan saja bibir kami bersentuhan. Begitu saja .. seolah tak ada beban. lalu berpelukan lama sekali. Sepertinya tak ada keraguan untuk melakukan hal yang lebih jauh dari sekedar kissing. Apapun bisa terjadi, karna keyakinan semu barangkali terlalu kuat hingga nilai-nilai moral yang ada menjadi terkalahkan bahwa apa yang terlakukan adalah manifestasi dari sebuah rasa cinta yang utuh. Wajar saja rasanya. Karna begitu jugalah dulu iblis mengukir sejarah saat menyesatkan adam dan hawa. Ketika iblis membutakan hati, meragukan nurani antara benar dan salah dalam rayuan sesat di telinga. Menggoda perisai keimanan manusia seperti aku yang telah melangkah jauh di alam imajiner sana.
          Ah ,, itu keterlaluan sekali. aku jadi bernafas lega karna itu hanya sebatas imajinasi. Untung saja tatapan mata kami dikelas tadi tidak bermakna lebih. dan kemauanku untuk berharap kesan pertama itu akan membuat hati kami bersemi lalu berujung menjadi sebuah jalinan hati juga belum sempat terjadi. Besar kemungkinan itu adalah awal dari gejala lahirnya sebuah hubungan baru. Dan bila nanti aku benar-benar pacaran, jujur godaan seperti itu tak akan dapat kukendalikan. Karna mau bagaimanapun, tetap saja dunia pacaran tak jauh-jauh dari yang namanya hubungan fisik. Ada sih sebagian yang dapat mengendalikan hubungannya harus seperti apa, tapi melihat fenomena seputar dunia remaja saat ini, rasanya terlalu riskan bahwa pacaran itu bersih dari hal-hal demikian. Kalaupun tidak sampai sejauh itu, minimal pegangan, pelukan, dan belaian itu pastilah ada.
          Sekali lagi .. biarlah semua perasaan ini bersemi di suatu hari nanti, dalam sebuah pertemuan tak terduga, di dalam alur cerita yang tak pernah kureka-reka. biarlah semua ini akan indah pada waktunya.

Setangkai Bunga


Jumat, 21 februari 2013.
         
Pulang kuliah !!
          Belajar KAP hari ini amat menyenangkan. Yaitu sebuah pelajaran tentang seni berkomunikasi antar individu. Satu-satunya media interaksi manusia yang efektif menghubungkan pribadi satu dengan pribadi lainnya. Dosenku, pak harry teozard, sangat banyak menjelaskan teori-teori dasar yang harus menjadi patokan dalam olah komunikasi ini. Hal lain yang sangat membuatku terpesona justru pada analogi-analogi kecilnya yang menjadi example dari teori-teori tersebut.
          Pagi tadi, sebenarnya aku telat dua puluh menit. Jam ajar kuliah ini sendiri adalah 08.30. aku telat karna tak enak badan dari semalam. Bahkan dari kemaren. Makan saja tak berselera, hingga berimbas pada tidurku yang tidak terlalu pulas. Lagipula, baru jam dua malam aku bisa lelap. Semua karna efek dari sakit ku ini. Apa-apa jadi membuatku letih. Bahkan tidurpun terasa uring-uringan. Merasa tidur tak cukup itu membuatku telat bangun dan solat subuh. Jam 08.00, sesuai setting alrm yang kupasang, aku akhirnya bangun dengan sedikit dipaksakan.
          Merasa waktu hanya tinggal tiga puluh menit lagi yang tersisa, sesuai jam masuk kuliah KAP, aku buru-buru mempersiapkan diri. Termasuk solat subuh yang mungkin saja terkategorikan sebagai solat duha. Keadaan seperti ini sudah tiga hari belakangan. Aku selalu solat subuh diwaktu-waktu seperti ini. Tapi apa daya, setidaknya hatiku bisa sediki tenang karna telah berusaha untuk solat. Pernah aku mendengar argumentasi, bahwa seseorang yang tertidur hingga melewati waktu subuh, bisa saja diberikan keringanan andai saja tak terjaga sedikitpun dalam rentang waktu jadwal solat tersebut. Maka merasa aku memang tidak merasa terbangun sama sekali, aku pakai saja teori ini. Meski aku tak tahu apakah sumber itu valid atau tidak.
          Setelah terburu-buru melaksanakan solat, aku kemudia bergegas mandi. Sialnya, perutku yang dari semalam kembung masuk angin, malah terasa sembelit. Kubatalkan niat awal. Lima menit lebih kuluangkan waktu untuk menuntaskan naluri alamiahku untuk memenuhi panggilan ala mini. Sialnya lagi, setiba di TKP, birahi BAB ku down. Aku begitu menggerutu karna tak secuilpun beban itu dapat kutuntaskan. Sepertinya aku ada masalah dengan perut ini.
          Lima belas menit berikutnya kuhabiskan dengan mensucikan tubuh dikamar mandi. Setelah itu, aku berpakaian dengan cepat. Menyisir rambut asal, lalu melaju kencang menuju kampus dengan vario pinky ku. Oh,, aku lupa memberi tahu bahwa kemarin lusa ayah sudah mengembalikan lagi motor feminim ini. beberapa menit berikutnya, aku tiba dikelas dengan limit keterlambatan waktu sebanyak dua puluh lima menit. Saat mengetok pintu, semua mahasiswa sudah focus melihat slide yang divisualisasika di white board. Aku sangksi ketika mengintip dari celah pintu. Tapi ketika dosen mempersilahkanku masuk, aku jadi berasumsi, barangkali perkuliahan baru sebentar ini dimulai. Dan melihat ketersediaan pak harri menerima keterlambatanku itu, sedikit banyak memberikan kesan baik tentang beliau dihatiku.
          Dua jam setengah aku melihat bapak hari memvisualisasikan slide-slide materi KAP didepan. Selama itu, banyak hal yang kudapat yang tentu berkaitan erat dengan teori mengolah komunikasi antar individu. Beberapa materi itu tak lain seperti tipe-tipe komunikasi seseorang, pembagian ilmu-ilmu interpersonal skill, sifat-sifat interaksi per individu,  dan berbagai hal lain. Tapi yang membuatku tertarik justru dari cari bapak itu membuat analogi perumpamaan dari teori itu. Seperti yang tertulis di buku visualisasi komunikatif skill yang kubaca, keberhasilan komunikasi seseorang terletak pada respon yang diraih si komunican (lawan bicara). Maka melihat reaksi dari teman-teman yang antusias mendengar penjabaran pak hari, termasuk tawa yang meledak-ledak tadi, kurasa pak hari berhasil dalam menjalani komunikasi interaksi antar individu tersebut. Semua orang terkesan. Apalagi seputar example yang dia beberkan terasa lebih identik dengan kehidupan sehari-hari, lebih simple, dan sangat fakta sesuai realita yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita.
          Namun satu hal yang hingga kini tersimpan lama dikepalaku ada dua hal. Pertama, perbedaan budaya antar timur dan barat, bagaimana mereka meredam konflik, melihat suatu gebrakan baru dan bersudut pandang. Istilahnya demikian, timur identik dengan analogi paku. Sedangkan barat, di identikkan pada kiasan rantai. Maknanya adalah : analogi paku pada timur melambangkan reaksi yang muncul dalam menerima suatu perbedaan. Reaksi yang timbul terhadap suatu masalah itu akan membawa mereka pada sikap mencari jalan keluar dengan memisahkan inti permasalahan dari ketetapan yang sebelumnya ada. Solusi lain adalah dengan mencabut akar permasalahan itu untuk dibuang sejauh-jauhnya. Jikalau tidak memungkinkan juga, maka masalah itu akan dileburkan menjadi ketetapan sebelumnya. Seperti pada masa kenabian rasul dulu. Gagasan-gagasan nabi Muhammad yang terkesan ekstream, bersifat baru dan tak lazim, waktu itu dianggap keluar jalur dari budaya jahiliah quraisy yang telah bertahan lama ditengah kehidupan nenek moyang mereka. Tanggapan yang ada hanya dua. Nabi di usir, atau mengikuti ajaran-ajaran dan budaya mereka sebelumnya. Ini sesuai dengan analogi paku di dinding. Sepintas, paku itu berdiri sendiri kala dipaku di permukaan dinding yang datar. Hanya dia saja yang menonjol. Jika letaknya dianggap berbahaya, ia bisa melukai. Solusinya sederhana sekali. Dicabut, atau paku tersebut dibuat berbaur dengan dinding dengan cara dipaku sampai mentok hingga permukaanya kembali datar. Paku yang dicabut tadi adalah analogi dari rasul yang di usir jauh-jauh, sedangkan paku yang dibenamkan adalah tawaran pembesar-pembesar quraisy yang memaksa nabi tetap mengikuti ajaran budaya mereka jika tidak ingin di usir dan terhindar dari perlakuan tak wajar.
          Sedangkan analogi rantai pada budaya barat seperti halnya kita meracak sepeda. Apabila rantai itu terdengar berderit-derit, terasa macet, dan keras saat dikayuh, maka solusi yang terlintas di kepala tentu saja memberikan pelumas atau oli agar perputaran rantai tadi kembali lancar. Maksudnya disini bahwa barat melihat suatu permasalahan atau fenomena justru dari sudut pandang lain. Mereka cenderung memberikan nilai-nilai baru yang terkesan mengayomi atau memberikan kebebasan bereksprimen yang sekiranya harus di apresiasi sebaik mungkin. Kita tentu tahu kasus lady gaga yang setiap konser maupun video klip single nya tak lepas dari praktek-praktek dan ritual-ritual pemujaan setan dan cara fashionnya yang seolah bertelanjang bulat. Disana semua itu adalah biasa saja.merupakan suatu kebebasan, dan hak setiap diri untuk bereksperimen semau-maunya. Tapi jika di Indonesia, hal-hal seperti itu masih dianggap tabu, tak lazim, bertentangan sekali dengan nila-nilai budaya dan agama, dan terlebih, terkesan bertolak belakang dari norma-norma moralitas yang ada. Tak heran hal-hal ekstream yang malah keluar jalur justru di elu-elukan di barat sana. Salah satunya hubungan dan pernikahan sesame jenis. Oh, damn !!
          Hal kedua yang kudapat dari perkuliahan tadi adalah cara kita menemukan pasangan.
          Pak hari teozard bilang, bahwa kita ini hidup tak ubahnya bak melintasi sebuah taman yang penuh bunga. Tak terlukiskan betapa banyak bunga bermekaran yang kita lihat, kita hirup aromanya, dan kita nikmati keindahannya. Saat kita memasuki gerbang taman tersebut, kita cenderung ingin memetik satu yang terindah. tapi melihat banyaknya keindahan bunga yang ada, kita jadi enggan dan mengurungkan niat memetik bunga pertama karna merasa masih banyak bunga-bunga wangi di sepanjang jalanan taman. Kita berjalan, terus berjalan sambil melihat bunga-bunga indah yang terlewati secara tidak sengaja. Hasrat hati ingin memetik setangkai, tapi kembali mengurungkan niat berharap menemukan bunga yang lebih indah. Akibatnya, kita tanpa sadar terus berjalan hingga akhirnya taman bunga terlewati. Saat itu kita tak bisa kembali karna gerbang menuju taman telah tertutup. Malangnya, kita tak mendapatkan apa-apa, bahkan setangkai pun tidak. Penyesalanpun tiba. Reaksi yang muncul tentu saja adalah kesedihan. Sedih karna bunga indah yang kita lihat pertama tak sempat terpetik. Bahkan mencium baunya saja tidak, apalagi menyentuh mahkotanya.
          Kita jadi berandai, harusnya, apa yang terlihat pertama tadi itulah yang kita petik. Tak peduli apakah masih ada didepan sana yang lebih cantik dan indah, namun setidak-tidaknya kita telah mempersiapkan satu untuk dibawa pergi. Tak masalah bila kita tetap menikmati bunga-bunga bermekaran yang kita lintasi setelahnya. Karna sejatinya itu adalah hak kita untuk menikmati setiap keindahan yang terhampar di pelupuk mata. Dan sampainya kita didepan gerbang keluar nanti bukan merupakan sesal yang datang di kemudian.
          Mendengar analogi sederhana ini, jujur saja membuat aku terperangah dan terpaku di tempat aku duduk. Kata-kata pak hari terasa menusuk hatiku dari dalam. Aku takut bila analogi tersebut menjadikan aku sebagai satu-satunya contoh hidup. Karna mau tak mau, aku merupakan salah satu orang yang terlalu selektif dalam mencari tahu siapa pelabuhan hati.
          Jujur saja, selama ini aku terlalu angkuh dalam menyikapi setiap perlakuan istimewa dari teman wanitaku. Aku tak sepenuhnya welcome dengan cara mereka memasuki kehidupanku. Tak tahu kenapa, yang jelas, aku baru akan tertarik setelah merasakan getar-getar terntentu dari seseorang. Terbukti hingga sekarang, aku masih saja betah berlama-lama dalam status permanentku sebagai jomblo yang tersiksa.
          Perkataan pak hari ada benarnya. Harusnya sikap yang ku ambil juga demikian. Memetik bunga pertama yang kita lihat. Terserah, mau akan terlihat lagi bunga indah saat kita berjalan lagi ke depan. Akupun juga demikian.
          Mungkin orang-orang tidak tahu, bahwa selama ini aku telah menemukan sendiri bunga mekar yang telah kupetik sejak lama. Bahkan dari awal sebelum aku memasuki taman bunga.  Ia telah lama kubahwa pulang, kutanami di taman hati, dan kusirami tiap kali hingga bersemi indah di hati ini. bunga itu adalah orang itu, si gadis mungil bersenyum ginsul yang terus membuatku terpesona saat kulihat ia merekah indah pertama kali. Sering aroma wanginya memenuhi ruang di dada saat kuhirup. Menyejukkan hatiku, dan menenangkan aku yang terenyuh oleh rindu.  Ia terus tumbuh .. terus memuai, dan bersemi indah penuh pesona ditaman hatiku.
          Tak terasa, dua jam pelajaran telah membuat kuliah ini usai. Setelah absen berjalan, pak hari membubarkan kelas. Aku tertunduk lesu saat berjalan meninggalkan kelas menuju parkiran. Menemukan motorku yang terdiam acuh di sudut parkir, aku kian terenyuh. Kutekan tombol starter, memutar pedal gas, lalu melesat menuju arah pulang. Di jalan, pikiranku kembali teringat perkataan pak hari. Tentang filosofi taman bunga tadi, menghubungkannya lagi dengan masa ku sekarang, dan terus ke masa depan. Terdapat satu benang merah yang menjadi kesimpulan baru dikepalaku.
          Aku memang telah memetik bunga pilihanku sendiri. satu-satunya bunga terindah. Aku tak peduli pada bertangkai-tangkai bunga indah yang akan kutemui disepanjang taman bunga kehidupanku. karna bunga itu telah termanifestasikan kepada gadis mungilku dulu. Hatiku tak menyisakan ruang lagi, karna jemariku hanya mampu menggenggam satu tangkai bunga yang telah kupilih ini. meski ketertarikan akan keindahan lainnya tetap ada, biarlah hanya sebatas mengagumi saja. Walau aku tahu, entah bunga yang telah kupetik itu akan direbut lagi oleh seseorang dimasa depan sana. Entah layu dalam genggamanku, entah mati tanpa bisa mekar berbunga.
          Pada kenyataannya, taman bunga yang telah kulalui hanya ada di alam imajinasiku. Dan tempat bunga itu merekah indah amat jauh sekali dari dunia tempat aku ada. tak dapat kujangkau, kusentuh, apalagi kuhirup aroma sejuknya. Dan ia begitu saja tumbuh subur disana. Angin yang bertiup malah membawa aroma wanginya sampai padaku, membuat aku terjerat oleh hasrat ingin berkunjung ketempat ia mekar berbunga. Tapi taman itu tak begitu saja bisa kumasuki, apalagi memetik salah satu bunganya untuk kubawa pulang. Butuh perjuangan lebih untuk memiliki setangkai bunga terindah itu jatuh ke genggaman tanganku.
          Dan tentunya …. Sebuah keajaiban.
          

Kamis, 31 Mei 2012

Kesan Mimpi nan lalu


            Kota ini masih saja tetap sama. Dan kenangan itu, masih jelas membekas dipelupuk mata. Jangan katakan nostalgia masa lalu mampu mengobati apa saja. Karna bagiku, justru romansa seperti inilah yang membuat batinku kian tersiksa.
Udara basah disini tak jua berubah. Gerimis, deru angin, embun dikaca rumah, pantulan lampu mobil dijalan, kucing yang menguap malas, dan kesenyapan ketika hujan menyapa, perlahan melemparkan aku lagi pada cerita masa silam. Aku kemudian melepas rindu pada bulir gerimis yang bertebaran dikota ini. Berjalan pelan menjejakkan langkah guna meresapi kesejukan alam nan menentramkan.
Di tepi perbukitan inilah udara sejuk itu dulu pernah kuhirup.
Indah tak terperi.
Dari atas sini, hilir mudik kendaraan samar-samar tersingkap dari celah rerimbunan hijau dibawah sana. Mobil-mobil besar berarak pelan, berjejer panjang tak putus-putus dengan mesinnya yang meraung-raung berat. Hutan alam terhampar indah. Terlukis sempurna seitaran mata memandang. Riak sungai singgalang, kayu lapuk berserakan, ranting kering dipembatas jalan, kera-kera berkeliaran, bau basah pegunungan, dedaunan teduh nan berjuntai beriringan, hingga hempasan air terjun lembah perbukitan, kian kentara saja merebak dalam jiwa. Keindahan ini lantas menjebakku. Hingga tiba-tiba, kerinduan tentang seseorang seakan mendekapku dari dalam.
Kubuyarkan lamunan itu, lalu kutekan gemuruh rasa sesak dalam ruang didada. Ini begitu sulit. Entah kenapa aku masih belum siap.
Aku menuju rumah sambil melipat lengan. Hawa dingin seketika menyergap. Begitulah kota padang-panjang bila gerimis merekah. Kusapa orang-orang yang kutemui. Mereka tersenyum, membinarkan bola mata, dan kembali melontarkan sapa padaku. Senyuman selamat pulang, senyuman lama tak bertemu, dan senyuman penuh rindu kini bersemi didepanku.
Brrrr,, 
Tiba juga aku dikota ini. Tapi mengapa dadaku sesak ?
Aku berlalu dari mereka dengan susah payah guna menyembunyikan kemelut perasaan. Pura-pura lupa dari segalanya bukan perkara mudah, dan kegetiran ini tak akan lenyap begitu saja.
“Tenanglah, rasa itu tak sedikitpun salah.” Demikian bisik embun dipipiku.
            Alam ternyata tahu! Mereka akhirnya tahu apa yang kupendam. Tapi bukankah mereka cuma sekedar tahu ? Tak ada yang mampu memahamiku. Tak akan pernah, bahkan dia sekalipun tak akan pernah mau tahu. Dan aku tak akan mau menyuarakannya.
Kenangan itu makin mendekat.
Kulihat oma tengah tersenyum di pintu depan. Ia ternyata menungguku. Yah, wanita tua itu makin termakan usia saja. Aku balas tersenyum, melambaikan tangan, berusaha meresapi kehangatan yang tulus berasal dari hatinya.
Selalu begitu, selalu pancaran itu terkuak dari wajahnya. Bahkan semenjak dulu, ketika ia mau berbesar hati menerima keberadaanku dirumah ini.
 Rumah ku yang hangat, rumah keduaku yang damai. Meski dari jauh, rasa rindu itu sudah menelusup dalam kalbu. Apa daya, Justru dari bangunan tua inilah kenangan lama itu bersemayam di hatiku.
Kini aku pulang.
Kusalami beliau sambil tak lupa mencium tangan kurusnya. Ia mempersilahkanku masuk, lalu berlalu sesaat meninggalkanku sendiri diruang tamu. Tak lama, ia datang lagi sembari menyuguhkan segelas teh hangat untukku. Kebiasaan lama di penghujung senja. Kutiup kepulan asap dicangkir itu, kuseruput perlahan, lalu ku awali pembicaraan sore itu dengan bertanya seputar kabar oma, rekontruksi rumah, dan jualan kecil-kecilannya. Jawaban beliau masih saja tentang arisan, tensi tinggi, encok dipersendian, sakit magg, tidur yang tak pulas, hingga keluh-kesahnya tentang si sultan, cucunya yang selalu malas bersekolah.
Perbincangan kami terus berlanjut hingga senja berlalu. Dari penuturan panjang lebar beliau, aku akhirnya tahu, bahwa semenjak aku dan teman-temanku tak lagi tinggal disini, rumah jadi terlihat sepi. Tak ada lagi ribut-ribut dipagi hari, kehebohan ketika antri mandi, diskusi, take suting, debat politik yang ujung-ujungnya ngawur, makan malam bersama, hingga menertawakan sesuatu yang tak masuk akal, kini memang tak terlihat lagi. Kebersamaan itulah yang kerap dirindukan oma.
Mendengar penuturan tersebut, mataku jadi berkaca-kaca. Cerita lalu mengalir begitu saja. Dan kenangan itu kian terbesit dikepala. Sesaat .. lamunanku terlempar ke dalam dimensi ruang dan waktu.
Ingatan itu masih jelas, dan kepingan kisah itu masih tersimpan rapi dirumah ini. layaknya beberapa tahun yang lalu.
Tak terasa, hari telah larut malam.
Oma sudah berulang kali melihat aku menguap. Aku disuruh istirahat saja. Mataku memang sudah lima watt. Maklumlah, rasa penat dan lelah di atas bus tadi membuat rasa kantuk kian menyergap. Kukatakan pada oma, aku ingin tidur dikamar belakang saja. Ia menatapku heran, bukankah kamar itu sudah lama tak ditempati ? Aku hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa oma ..” Ujarku singkat.
Gagang pintu kuputar, aroma kesejukan seketika menyeruak, lalu terbukalah serpihan kenangan itu.
Lihatlah .. kamar ini belum banyak berubah. Sama persis dengan yang kuingat terakhir kali. Hanya saja poster itu tak lagi ada, dan selembar foto dia, tak lagi kusimpan dibawah bantal, seperti waktu dulu.
Aih,, andai dia bisa tahu, disinilah perasaan itu mekar berbunga. Dan di tempat inilah dulu aku pernah berkisah tentang rindu, dari semua, dan terutama, tentang dirinya.
Mata ini kupejamkan. Tapi aku masih gelisah. Bayang itu kian berkelebat di pikiranku. Kupatut posisi bantal, kuselimuti separuh wajah, percuma. Kuresapi sayup-sayup suara jangkrik di luar rumah, tak mempan juga. Padahal tadi, rasa kantuk bertubi-tubi menyerangku. Aneh!
Ini karna sebuah nama di kusen jendela. Ku ukir tiga tahun lalu.

-Aluna- -

****
 


Minggu, 18 Maret 2012

Diaz Madun


            Ia menebar berita itu dengan deru-desah nafas yang memburu di ujung telfon sana. Untaian kata kemenangan nan terlalu menggelora untuk dikoarkan. Aku turut bersuka cita mendengar ucapan penuh takjub darinya, karna sesudah penantian yang cukup begitu lama, cecunguk gila itu akhirnya diberikan kemudahan juga untuk mengecap manisnya mimpi yang telah susah payah ia pelihara.
            “Gue dikontrak cui … , bulan depan udah bisa take shuting!! Gila ... !!”
            Aku mematung mendengar berita itu tak ubahnya bak gelegar sambaran petir yang begitu membahana. Berita itu membuatku terkejut bukan main. Ku ucap asma allah berulang kali, tak putus-putus terucap dihati, lalu langit biru kupandang … kutahan bendungan air mata sembari mendongakkan kepala ke atas sana. lalu kuhaturkan rasa kagum akan mukjizat dari langit yang penuh kejutan. Maha suci engkau yang Allah, ternyata mimpi lama itu terpeluk juga. Tak percuma rasanya bila dulu ia pernah sesumbar menjanjikan harapan itu setinggi langit. Dan akhirnya, keajaibanpun kini mulai tersingkap dengan sendirinya dari jubah kebesaranMU nan penuh keagungan itu.
            “ Kau yakin teman ? benarkah dari sekian ratus orang yang ikut seleksi, engkau termasuk kedalam segelintir makluk beruntung yang berjumlah dua puluh empat orang itu ? 
             Kupastikan kabar baik itu padanya. dan ternyata semakin pasti pula ia memberi kebenaran akan nasib baik yang telah memeluknya. Dadaku bergemuruh mendengar ia menasbihkan pengejawantahannya akan filosofi sebuah mimpi yang realitanya seolah tak terbantahkan lagi. 
            “ Kau percaya Allah cui ? Benarlah kiranya Allah yang agung itu selalu menyimpan rahasia mimpi kita dalam pelukan kasih sayangnya. Bukankah allah menyukai hamba yang meminta apapun darinya ? Inilah bingkisan dari tuhan akan harapan yang kutitipkan pada langit dulu, ketika dunia luar tertawa mematahkan semangat mimpi kita.”
           Ia terdiam untuk sesaat. Jelas sekali derai tangis keharuan itu ia sembunyikan melalui setiap getaran lirih suaranya. Perasaanku terenyuh, kurasakan jiwaku juga bergejolak ingin menumpahkan air mata kemenangan yang telah sekian lama kuragukan kedatangannya. Kudengarkan dengan seksama kata-kata penuh rasa syukur itu.
            “ Alhamduliilah.... Gue bener-bener lulus audisi itu cui !! Di serial Tendangan si Madun gue dikontrak dua tahun. Ini benar-benar diluar dugaan. Ga kebayang Allah mendengar do’a gue secepat ini.”
            Kemudian ia menuturkan berita bahagia itu dengan segenap perasaan gegap gempita. Ia mengatakan bahwa film Tendangan si Madun yang identik dengan juggling bola atau lazimnya disebut free style itu sangat butuh pemeran tambahan. Karna itulah diadakan seleksi panjang hingga diikuti oleh ratusan komunitas free styler di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, saking ketatnya audisi, banyak ajang ini mengikut sertakan komunitas-komunitas free styler hingga dari daerah luar yang juga berkualitas jauh di atas standar rata-rata. Selain tingkat persaingannya yang begitu tinggi, persentase kelulusan audisipun hanya terbatas pada dua puluh empat orang finalis akhir saja. Maka mendengar ia termasuk dari yang dua puluh empat orang itu, tak ayal begitu membuat aku terhenyak dilamun kenyataan, bahwa betapa sahabat lamaku ini telah selangkah lebih maju menuju puncak karir tertinggi dalam pendakian gemunung mimpinya.
            Aku masih ingat saja ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika aku dan dia sama-sama bermimpi selangit untuk menaklukan dunia glamour selebritas nan begitu menjanjikan itu. Kami pergi kesana kemari, berpanas-panasan mengunjungi alamat Production House diberbagai tempat, kehausan, kelaparan, terjebak macet tak sudah-sudah, antri berjam-jam menunggu giliran, hingga berbalas rasa sakit karna ditolak mentah-mentah. Tapi semua itu belum dapat membuat kami surut. Tak sedikitpun keadaan itu memaksa kami jera agar menyerah begitu saja. "kesempatan pasti datang" selalu kata-kata itu yang terngiang dikepala kami  Masih ada jalan lain, dan itu bisa dimulai dari cara apapun. Karna itu tak henti-hentinya kami mencari tahu segala informasi kapan, dimana, dan tentang apa sebuah casting dilangsungkan. Dimanapun tempatnya. Semua kami lalui dengan pengorbanan yang sungguh-sungguh tak dapat dipahami logika.
            Kami bahkan rela melepas masa depan kami yang begitu menjanjikan. membuang-buang percuma waktu, tenaga, materi dan kehidupan yang menyenangkan. Kepedihanpun seolah melengkapi penderitaan ini manakala bisikan-bisikan menyakitkan itu berhembus memuakkan dari dunia luar. Pesimistis kembali merebak dihati, lalu bertebaran menusuk ulu hati hingga mematahkan semangat kami untuk bermimpi. Orang-orang pun tertawa. Keluarga tercintapun bahkan tak setuju dengan jalan pikiran kami yang penuh hasrat gila ini. Tapi anehnya, itulah yang membuat kami kembali kuat. Karna apapun bentuk rintangan yang datang menghalang, selalu saja kami percaya bahwa nanti disuatu saat, jalan itu akan terbuka, dan mimpi itu pasti akan menjadi realita.
            Kini setelah sekian lama kami memilih untuk tetap melanjutkan cita-cita, meski dijalan dan tempat yang telah berbeda, disaat kami pincang berjalan karna keadaan memaksa kami untuk berpisah, akhirnya bayang-bayang masa lalu itu perlahan mulai menampakkan keajaibannya. Dan meskipun masih sebatas hal yang wajar-wajar saja, namun kami sadari dihati bahwa inilah awal dari perjalanan menggetarkan kami untuk kedepannya menggenngam mimpi. Dan baru saja mataku telah dibuka oleh kebenaran keyakinan ini, dari bisikan sahabat lamaku dulu, yang perlahan tapi pasti, ia sudah semakin dekat selangkah ke atas puncak mimpi-mimpinya.
            Sahabatku ini bak lounger sejati dalam hidupku. dan ia tidak sama seperti orang kebanyakan. rasanya sudah sejak lama sekali aku mengenal siapa dia. kehidupan kami selalu berjalan bersamaan, termasuk ketika dulu kami melalui ujian itu dengan tertatih tak berdaya. kami bahkan satu ambisi, satu cita-cita, dan satu keyakinan untuk menatap perjalan masa depan. dan untuk menuju semua harapan itu kami tuangkan dalam indahnya sebuah mimpi. lama aku dan dia satu arah dalam menuju dunia itu, sebuah dunia tak tersentuh yang tiada seorangpun mengerti jika bukan diri kami sendiri. tapi semua itu memudar, pupus, lenyap ditelan waktu, hingga tenggelam jauh kedasar samudra keputus-asaan karna dihadang oleh berbagai kedaan yang menuntut tanggung jawab dari kami. Hingga akhirnya waktu harus membuat perjalanan itu usai dan mau tak mau keputusan menyesakkan itu terpaksa harus kami ambil saja. Biarlah untuk sementara kami memilih jalan dulu sendiri-sendiri, hingga akhirnya, aku dan dia memutuskan meninggalkan saja semua kenangan lama kami, cita-cita kami, dan harapan kami tentang kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. ia memilih tetap melanjutkan kehidupannya ditempat tersebut, dikota mimpiku itu, sedangkan aku, akhirnya malah kembali pulang kerumah untuk menggeluti dunia lamaku yang menjenuhkan, dan sebisa mungkin selalu kuusahan untuk kujalani dengan sepenuh hati. Dengan harapan, aku dapat belajar menerima kenyataan hidup dan berharap pencerahan itu datang melalui makna yang tersirat dibalik segala beban kehidupan yang silih berganti datang menghampiri diri.

               Sebenarnya teramat menyakitkan sekali ketika sahabat lamaku ini nyata-nyatanya telah semakin dekat saja satu langkah ketempat mimpinya berada. barangkali hanya butuh beberapa jengkal lagi, maka dapat kupastikan ia akan menggenggam segala apa yang ia cita-citakan semenjak lama. dan semuanya hanya tinggal menunggu saatnya saja, ketika penaklukan gilang-gemilang darinya benar-benar indah pada waktunya. maka terberkatilah kehidupannya. Sementara aku, hingga kini masih saja berada dalam bayang-bayang mimpi yang entah kapan akan segera tiba menyertaiku.
            Disatu sisi aku begitu bangga padanya, terharu bila teringat kembali akan kisah lama yang berlika-liku dalam perjalanannya yang teramat menggetarkan jiwa akan segala rintangan dan hadangannya. tapi tak dapat juga kubohongi hati ini, bahwa disatu sisi lain aku teramat terenyuh menahan kesedihan yang mendalam. aku terbata digerus rasa melankolis yang menusuk ulu hatiku, bahwa dibalik kemenangannya untuk mewujudkan segala ambisi mimpinya, aku yang dulu juga pernah berkoar bersamanya malah masih belum dapat apapun jika dibandingkan pencapaian mendebarkan seperti apa yang ia bisa. pada akhirnya, ketika berita itu berhembus melalui bisikan-bisikan kemenangannya, tak ayal kata-kata yang terlontarkan darinya begitu menyanyat pedih relung jiwaku, tak ubahnya seutas celurit yang menebas tak bersisa dedaunan talas yang berterbaran ditepian tambak harapan lamaku.
            Aku selalu berusaha membesarkan hati agar ikhlas menerima nasib baik satu sisi ini. meskipun tabir mimpi harapan dulu masih belum dapat memihakku seperti dia. namun butuh ketegaran lebih untuk menelan pahitnya ketertinggalanku itu mentah-mentah. tak tahu kenapa, dan aku resah memelihara rasa ini bersemayam dihatiku. tak pantas rasanya aku yang sebagai sahabat malah menyambut berita baik itu dengan segala kekalutan hati. tak seharusnya aku masih juga mengedepankan ego ku yang harus pula bernasib bak pinang dibelah dua seperti dia. dimana aku juga yang harus menerima nasib baik yang sama. Aku berusaha memandang keadaan ini dari satu sisi yang berbeda, tapi semua itu seolah karam dibenamkan hasrat keangkuhan hati yang kerap  mengandaikan segala sesuatunya harus bermula dariku, termasuk berita keberhasilan yang sangat tidak adil bila aku masih saja harus meratapi penundaanku akan masa-masa gemilang tentang mimpiku. maafkan aku teman, hingga kini aku masih selalu menganggap bahwa akulah yang terbaik darimu.
            Butuh waktu lama bagiku menegarkan diri agar batinku berlapang dada menerima kebahagiaan satu sisi ini. aku memang merana, tapi aku selalu berusaha sabar untuk meredakan gejolak jeritan tak adil yang menggema dari jiwa yang menangisi mimpi dalam sepi. sulit pasti. tapi bukankah segala sesuatunya bermula dari allah, sang penguasa alam ? maka tak ada yang pantas dilakukan selain aku cepat-cepat bersimpuh memohon ampunan di permadani keharibaannya yang begitu membuatku merasa hina dina dihadapannya. aku harus mengerti sekaligus memahami, bahwa ternyata sekujur tubuhku masih saja dilumuri dosa yang tak dapat kupahami dan kumengerti. Aku bukanlah memang tanpa apa-apa dibandingkan kebesarannya. Karna mau bagaimanapun, tetap aku hanyalah makhluk kecil yang tak punya daya upaya jika ingin  memutar balikkan segala kenyataan itu agar bersemi indah layaknya apa yang aku mau. maka kenapa pula aku harus menggenggam erat kepala ini sembari berteriak protes kepada langit nan berlapis-lapis disana ? astagfirullah ... maafkanlah hambamu ini yang ya allah. sungguh iblis telah memperdaya kembali jiwa yang berlumur dosa-dosa ini.
            
            Kini aku sudah mencoba agar aku tegar menerima kemungkinan-kemungkinan itu nanti. termasuk ketika nanti dunia luar terkekeh geli menertawakan semua kesembronoanku yang masih saja bergelut dengan kebodohan tetap memelihara mimpi, sementara hasilnya nihil. belum lagi ketika tawa itu semakin meledak menjadi-jadi disaat malah teman dekatku sendiri yang justru kehujanan puncak karir dari manisnya mengecap mimpi. aih, inilah yang benar-benar tak dapat aku bayangkan nanti. entah mau kukemanakan raut wajah sembab berguguran air mata kekalahan ini nantinya. aku bisa saja menyembunyikan semua luka itu dalam senyum yang dipaksakan, tapi tetap saja guratan frustasi itu akan muncul juga tanpa kusadari. dan akhirnya, tawa cemoohan dari mereka yang menikmati kemenangan, sikap simpati yang begitu memuakkan, tatapan empati, bisikan mengibur diri dan tepukan dipundak yang mengisyaratkan dunia ini hanya sandiwara belaka yang tak harus ditangisi, malah semakin terbayang-bayang dimataku hingga membuat aku tergugu menebak masa depan. akankah kepahitan dalam hidup itu membuat masa tuaku tak berarti lagi ?
            Dan biarlah semua itu berlalu, seolah gugurunya dedaunan kenangan dihamparan ladang yang ditinggalkan. terkadang pencerahan itu datang tak jauh-jauh. semua dapat dipahami melalui alam yang terhampar dipelupuk mata. aku mungkin bisa belajar kehidupan dari pepohonan disana, angin yang berhembus menyapa, tetes hujan di pelataran rumah, pantulan wajah di kolam, dan awan-awan kuning yang berarak pelan. ketika udara sejuk itu kuhirup, aliran itu seketika menjalar memenuhi rongga dadaku. kurasakan jiwa ini membeku dalam keheningan perasaankku tentang mimpi. maka selalu kukatakan dalam hati, biarlah aku luruh seperti sehelai daun yang jatuh kedasar bumi karna tertiup angin, biarlah adanya seperti itu. barangkali seperti inilah kehidupanku nanti, meskipun berjuta-juta harapan yang kutitipkan ke angkasa sana, tapi jika memang sang pencipta yang agung telah menetapkan lembaran takdir lain bagiku, aku hanya dapat mengelus dada untuk membujuk diriku. bahwa seperti inilah aku apa adanya. Bukankah disini aku bisa bernapas dengan lega, memejamkan mata dengan penuh kedamainan, dan bersandar dihamparan rerumputan yang menghangatkan. Dan bilapun mimpi kembali terbesit dikepalaku, dan ketika sosok penghuni mimpiku itu tersenyum melambaikan jemarinya kepadaku, maka sungguh aku akan mengiklaskan semua itu nantinya, dan senyuman manis yang menyejukkan jiwa itu juga akan kubalas, kubalas dengan sepenuh hati, seperti melihat bidadari nan cantik jelita melalui jembatan penghubung dua dunia, seperti nestapanya aku yang menikmati keelokan senyumnya dari balik kaca antara mimpi dan realita.
Biarlah seperti itu saja ........

Minggu, 19 Februari 2012

Jakarta , Kota Mimpiku

-->
        
         Gerak lakunya indah bersahaja. manis, dalam rekahan senyumnya nan santun menggoda. ia menatapku, lalu hatiku bergetar dilamun asmara. ia tersenyum lagi, aih, aku demikian berbunga-bunga. kembali alunan sebuah lagu itu terngiang dikepala. menyesakkan ruang didada saja. ku untai berangkai-rangkai puisi mesra disana, dari relung sulbiku, dan kulantunkan menjadi sebait lagu nan penuh dinamika cinta. Lalu anganku bersajak. Bahwa aku rindu lagi tempat itu, rindu lagi udaranya itu, saat bibir tak mampu berucap, ketika lidah tak cakap lagi mengeja. Maka aku telah remuk dalam tatap mata sayunya, terpesona kala bias wajahnya merona. Kukenang kesan itu sejenak, tak terlupa, masih membekas dipelupuk mata. lalu aku terenyuh, terbata digerus rasa yang tak jua mereda. 


          Disinilah mimpi itu bermula, tentang aku, kamu, dan para sahabat lama. Embun sejuknya bertaburan, berbulir indah diatas rekahan sekuntum bunga. Kuhirup udara hangat itu, kugenggam tanah  halus itu, lalu kenangan memelukku. 


          Dan dikota ini aku telah lama membiarkan mataku terbuka, di dalam keheningan perasaan, disela waktu yang bergulir tak peduli. Perasaan itu kian remuk saja ketika kusaksikan butir-butir debu menghempaskan kedua kelopak mataku yang terurai basah. Maka ingin kutenggelamkan kenangan itu bersama waktu, lalu membiarkan diri ini bersama kelegaan, bersama rasa sejuk dan kedamaian yang telah sekian lama aku rindukan. Namun tetap saja air mata itu mengering, karna rasa sakit yang begitu pilu telah menusuk  keyakinanku, lantas melukai perasaan itu dengan sayatan sembilunya agar kulupakan saja semua mimpi. Dan ini teramat sulit... begitu sulit sekali... Karna bayangan gadis nun jauh disana itu senantiasa muncul menghantuiku, membuatku merasa sepi tak terkira, dengan dengungan sebuah lagu rindu ditelinga, disela tangis harap nan menetes meluruhkan jiwa.  

Entahlah,, Dia selalu saja datang padaku, disetiap saat dalam imajinasiku, bahkan tanpa aku minta, dan tanpa aku panggil.


         Kini tak ada yang berubah di kota ini. maka untuk mengenang kesan itu sejenak, biarlah kuhirup kembali udara sepi bertabur rindu ini disekelilingku. Karna dihati kecilku, bisikan itu terus saja menggema, lalu meniupkan hasrat semu dikalbuku.

Ya,,
Kumohon tunggulah,, kisahku akan berlabuh disana.