Jumat,
21 februari 2013.
Pulang
kuliah !!
Belajar KAP hari ini amat menyenangkan.
Yaitu sebuah pelajaran tentang seni berkomunikasi antar individu. Satu-satunya
media interaksi manusia yang efektif menghubungkan pribadi satu dengan pribadi
lainnya. Dosenku, pak harry teozard, sangat banyak menjelaskan teori-teori
dasar yang harus menjadi patokan dalam olah komunikasi ini. Hal lain yang sangat
membuatku terpesona justru pada analogi-analogi kecilnya yang menjadi example
dari teori-teori tersebut.
Pagi tadi, sebenarnya aku telat dua
puluh menit. Jam ajar kuliah ini sendiri adalah 08.30. aku telat karna tak enak
badan dari semalam. Bahkan dari kemaren. Makan saja tak berselera, hingga
berimbas pada tidurku yang tidak terlalu pulas. Lagipula, baru jam dua malam
aku bisa lelap. Semua karna efek dari sakit ku ini. Apa-apa jadi membuatku
letih. Bahkan tidurpun terasa uring-uringan. Merasa tidur tak cukup itu
membuatku telat bangun dan solat subuh. Jam 08.00, sesuai setting alrm yang
kupasang, aku akhirnya bangun dengan sedikit dipaksakan.
Merasa waktu hanya tinggal tiga puluh
menit lagi yang tersisa, sesuai jam masuk kuliah KAP, aku buru-buru
mempersiapkan diri. Termasuk solat subuh yang mungkin saja terkategorikan
sebagai solat duha. Keadaan seperti ini sudah tiga hari belakangan. Aku selalu
solat subuh diwaktu-waktu seperti ini. Tapi apa daya, setidaknya hatiku bisa
sediki tenang karna telah berusaha untuk solat. Pernah aku mendengar
argumentasi, bahwa seseorang yang tertidur hingga melewati waktu subuh, bisa
saja diberikan keringanan andai saja tak terjaga sedikitpun dalam rentang waktu
jadwal solat tersebut. Maka merasa aku memang tidak merasa terbangun sama
sekali, aku pakai saja teori ini. Meski aku tak tahu apakah sumber itu valid
atau tidak.
Setelah terburu-buru melaksanakan
solat, aku kemudia bergegas mandi. Sialnya, perutku yang dari semalam kembung
masuk angin, malah terasa sembelit. Kubatalkan niat awal. Lima menit lebih
kuluangkan waktu untuk menuntaskan naluri alamiahku untuk memenuhi panggilan
ala mini. Sialnya lagi, setiba di TKP, birahi BAB ku down. Aku begitu
menggerutu karna tak secuilpun beban itu dapat kutuntaskan. Sepertinya aku ada
masalah dengan perut ini.
Lima belas menit berikutnya kuhabiskan
dengan mensucikan tubuh dikamar mandi. Setelah itu, aku berpakaian dengan
cepat. Menyisir rambut asal, lalu melaju kencang menuju kampus dengan vario
pinky ku. Oh,, aku lupa memberi tahu bahwa kemarin lusa ayah sudah
mengembalikan lagi motor feminim ini. beberapa menit berikutnya, aku tiba
dikelas dengan limit keterlambatan waktu sebanyak dua puluh lima menit. Saat
mengetok pintu, semua mahasiswa sudah focus melihat slide yang divisualisasika
di white board. Aku sangksi ketika mengintip dari celah pintu. Tapi ketika
dosen mempersilahkanku masuk, aku jadi berasumsi, barangkali perkuliahan baru
sebentar ini dimulai. Dan melihat ketersediaan pak harri menerima
keterlambatanku itu, sedikit banyak memberikan kesan baik tentang beliau
dihatiku.
Dua jam setengah aku melihat bapak
hari memvisualisasikan slide-slide materi KAP didepan. Selama itu, banyak hal
yang kudapat yang tentu berkaitan erat dengan teori mengolah komunikasi antar
individu. Beberapa materi itu tak lain seperti tipe-tipe komunikasi seseorang,
pembagian ilmu-ilmu interpersonal skill, sifat-sifat interaksi per
individu, dan berbagai hal lain. Tapi
yang membuatku tertarik justru dari cari bapak itu membuat analogi perumpamaan
dari teori itu. Seperti yang tertulis di buku visualisasi komunikatif skill
yang kubaca, keberhasilan komunikasi seseorang terletak pada respon yang diraih
si komunican (lawan bicara). Maka melihat reaksi dari teman-teman yang antusias
mendengar penjabaran pak hari, termasuk tawa yang meledak-ledak tadi, kurasa
pak hari berhasil dalam menjalani komunikasi interaksi antar individu tersebut.
Semua orang terkesan. Apalagi seputar example yang dia beberkan terasa lebih
identik dengan kehidupan sehari-hari, lebih simple, dan sangat fakta sesuai
realita yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita.
Namun satu hal yang hingga kini
tersimpan lama dikepalaku ada dua hal. Pertama, perbedaan budaya antar timur
dan barat, bagaimana mereka meredam konflik, melihat suatu gebrakan baru dan
bersudut pandang. Istilahnya demikian, timur identik dengan analogi paku.
Sedangkan barat, di identikkan pada kiasan rantai. Maknanya adalah : analogi
paku pada timur melambangkan reaksi yang muncul dalam menerima suatu perbedaan.
Reaksi yang timbul terhadap suatu masalah itu akan membawa mereka pada sikap
mencari jalan keluar dengan memisahkan inti permasalahan dari ketetapan yang
sebelumnya ada. Solusi lain adalah dengan mencabut akar permasalahan itu untuk
dibuang sejauh-jauhnya. Jikalau tidak memungkinkan juga, maka masalah itu akan
dileburkan menjadi ketetapan sebelumnya. Seperti pada masa kenabian rasul dulu.
Gagasan-gagasan nabi Muhammad yang terkesan ekstream, bersifat baru dan tak
lazim, waktu itu dianggap keluar jalur dari budaya jahiliah quraisy yang telah
bertahan lama ditengah kehidupan nenek moyang mereka. Tanggapan yang ada hanya
dua. Nabi di usir, atau mengikuti ajaran-ajaran dan budaya mereka sebelumnya.
Ini sesuai dengan analogi paku di dinding. Sepintas, paku itu berdiri sendiri
kala dipaku di permukaan dinding yang datar. Hanya dia saja yang menonjol. Jika
letaknya dianggap berbahaya, ia bisa melukai. Solusinya sederhana sekali.
Dicabut, atau paku tersebut dibuat berbaur dengan dinding dengan cara dipaku
sampai mentok hingga permukaanya kembali datar. Paku yang dicabut tadi adalah
analogi dari rasul yang di usir jauh-jauh, sedangkan paku yang dibenamkan
adalah tawaran pembesar-pembesar quraisy yang memaksa nabi tetap mengikuti
ajaran budaya mereka jika tidak ingin di usir dan terhindar dari perlakuan tak
wajar.
Sedangkan analogi rantai pada budaya
barat seperti halnya kita meracak sepeda. Apabila rantai itu terdengar
berderit-derit, terasa macet, dan keras saat dikayuh, maka solusi yang
terlintas di kepala tentu saja memberikan pelumas atau oli agar perputaran
rantai tadi kembali lancar. Maksudnya disini bahwa barat melihat suatu
permasalahan atau fenomena justru dari sudut pandang lain. Mereka cenderung
memberikan nilai-nilai baru yang terkesan mengayomi atau memberikan kebebasan
bereksprimen yang sekiranya harus di apresiasi sebaik mungkin. Kita tentu tahu
kasus lady gaga yang setiap konser maupun video klip single nya tak lepas dari
praktek-praktek dan ritual-ritual pemujaan setan dan cara fashionnya yang
seolah bertelanjang bulat. Disana semua itu adalah biasa saja.merupakan suatu
kebebasan, dan hak setiap diri untuk bereksperimen semau-maunya. Tapi jika di
Indonesia, hal-hal seperti itu masih dianggap tabu, tak lazim, bertentangan
sekali dengan nila-nilai budaya dan agama, dan terlebih, terkesan bertolak
belakang dari norma-norma moralitas yang ada. Tak heran hal-hal ekstream yang
malah keluar jalur justru di elu-elukan di barat sana. Salah satunya hubungan
dan pernikahan sesame jenis. Oh, damn !!
Hal kedua yang kudapat dari perkuliahan
tadi adalah cara kita menemukan pasangan.
Pak hari teozard bilang, bahwa kita
ini hidup tak ubahnya bak melintasi sebuah taman yang penuh bunga. Tak
terlukiskan betapa banyak bunga bermekaran yang kita lihat, kita hirup
aromanya, dan kita nikmati keindahannya. Saat kita memasuki gerbang taman
tersebut, kita cenderung ingin memetik satu yang terindah. tapi melihat
banyaknya keindahan bunga yang ada, kita jadi enggan dan mengurungkan niat
memetik bunga pertama karna merasa masih banyak bunga-bunga wangi di sepanjang
jalanan taman. Kita berjalan, terus berjalan sambil melihat bunga-bunga indah
yang terlewati secara tidak sengaja. Hasrat hati ingin memetik setangkai, tapi
kembali mengurungkan niat berharap menemukan bunga yang lebih indah. Akibatnya,
kita tanpa sadar terus berjalan hingga akhirnya taman bunga terlewati. Saat itu
kita tak bisa kembali karna gerbang menuju taman telah tertutup. Malangnya,
kita tak mendapatkan apa-apa, bahkan setangkai pun tidak. Penyesalanpun tiba.
Reaksi yang muncul tentu saja adalah kesedihan. Sedih karna bunga indah yang
kita lihat pertama tak sempat terpetik. Bahkan mencium baunya saja tidak,
apalagi menyentuh mahkotanya.
Kita jadi berandai, harusnya, apa yang
terlihat pertama tadi itulah yang kita petik. Tak peduli apakah masih ada
didepan sana yang lebih cantik dan indah, namun setidak-tidaknya kita telah
mempersiapkan satu untuk dibawa pergi. Tak masalah bila kita tetap menikmati
bunga-bunga bermekaran yang kita lintasi setelahnya. Karna sejatinya itu adalah
hak kita untuk menikmati setiap keindahan yang terhampar di pelupuk mata. Dan
sampainya kita didepan gerbang keluar nanti bukan merupakan sesal yang datang
di kemudian.
Mendengar analogi sederhana ini, jujur
saja membuat aku terperangah dan terpaku di tempat aku duduk. Kata-kata pak
hari terasa menusuk hatiku dari dalam. Aku takut bila analogi tersebut
menjadikan aku sebagai satu-satunya contoh hidup. Karna mau tak mau, aku
merupakan salah satu orang yang terlalu selektif dalam mencari tahu siapa
pelabuhan hati.
Jujur saja, selama ini aku terlalu
angkuh dalam menyikapi setiap perlakuan istimewa dari teman wanitaku. Aku tak
sepenuhnya welcome dengan cara mereka memasuki kehidupanku. Tak tahu kenapa,
yang jelas, aku baru akan tertarik setelah merasakan getar-getar terntentu dari
seseorang. Terbukti hingga sekarang, aku masih saja betah berlama-lama dalam
status permanentku sebagai jomblo yang tersiksa.
Perkataan pak hari ada benarnya.
Harusnya sikap yang ku ambil juga demikian. Memetik bunga pertama yang kita
lihat. Terserah, mau akan terlihat lagi bunga indah saat kita berjalan lagi ke
depan. Akupun juga demikian.
Mungkin orang-orang tidak tahu, bahwa
selama ini aku telah menemukan sendiri bunga mekar yang telah kupetik sejak
lama. Bahkan dari awal sebelum aku memasuki taman bunga. Ia telah lama kubahwa pulang, kutanami di
taman hati, dan kusirami tiap kali hingga bersemi indah di hati ini. bunga itu
adalah orang itu, si gadis mungil bersenyum ginsul yang terus membuatku
terpesona saat kulihat ia merekah indah pertama kali. Sering aroma wanginya
memenuhi ruang di dada saat kuhirup. Menyejukkan hatiku, dan menenangkan aku
yang terenyuh oleh rindu. Ia terus tumbuh
.. terus memuai, dan bersemi indah penuh pesona ditaman hatiku.
Tak terasa, dua jam pelajaran telah
membuat kuliah ini usai. Setelah absen berjalan, pak hari membubarkan kelas.
Aku tertunduk lesu saat berjalan meninggalkan kelas menuju parkiran. Menemukan
motorku yang terdiam acuh di sudut parkir, aku kian terenyuh. Kutekan tombol
starter, memutar pedal gas, lalu melesat menuju arah pulang. Di jalan,
pikiranku kembali teringat perkataan pak hari. Tentang filosofi taman bunga
tadi, menghubungkannya lagi dengan masa ku sekarang, dan terus ke masa depan.
Terdapat satu benang merah yang menjadi kesimpulan baru dikepalaku.
Aku memang telah memetik bunga
pilihanku sendiri. satu-satunya bunga terindah. Aku tak peduli pada
bertangkai-tangkai bunga indah yang akan kutemui disepanjang taman bunga
kehidupanku. karna bunga itu telah termanifestasikan kepada gadis mungilku
dulu. Hatiku tak menyisakan ruang lagi, karna jemariku hanya mampu menggenggam
satu tangkai bunga yang telah kupilih ini. meski ketertarikan akan keindahan
lainnya tetap ada, biarlah hanya sebatas mengagumi saja. Walau aku tahu, entah
bunga yang telah kupetik itu akan direbut lagi oleh seseorang dimasa depan
sana. Entah layu dalam genggamanku, entah mati tanpa bisa mekar berbunga.
Pada kenyataannya, taman bunga yang
telah kulalui hanya ada di alam imajinasiku. Dan tempat bunga itu merekah indah
amat jauh sekali dari dunia tempat aku ada. tak dapat kujangkau, kusentuh,
apalagi kuhirup aroma sejuknya. Dan ia begitu saja tumbuh subur disana. Angin
yang bertiup malah membawa aroma wanginya sampai padaku, membuat aku terjerat
oleh hasrat ingin berkunjung ketempat ia mekar berbunga. Tapi taman itu tak
begitu saja bisa kumasuki, apalagi memetik salah satu bunganya untuk kubawa
pulang. Butuh perjuangan lebih untuk memiliki setangkai bunga terindah itu
jatuh ke genggaman tanganku.
Dan tentunya …. Sebuah keajaiban.
0 komentar:
Posting Komentar