Sabtu, 23 Februari 2013

Setangkai Bunga


Jumat, 21 februari 2013.
         
Pulang kuliah !!
          Belajar KAP hari ini amat menyenangkan. Yaitu sebuah pelajaran tentang seni berkomunikasi antar individu. Satu-satunya media interaksi manusia yang efektif menghubungkan pribadi satu dengan pribadi lainnya. Dosenku, pak harry teozard, sangat banyak menjelaskan teori-teori dasar yang harus menjadi patokan dalam olah komunikasi ini. Hal lain yang sangat membuatku terpesona justru pada analogi-analogi kecilnya yang menjadi example dari teori-teori tersebut.
          Pagi tadi, sebenarnya aku telat dua puluh menit. Jam ajar kuliah ini sendiri adalah 08.30. aku telat karna tak enak badan dari semalam. Bahkan dari kemaren. Makan saja tak berselera, hingga berimbas pada tidurku yang tidak terlalu pulas. Lagipula, baru jam dua malam aku bisa lelap. Semua karna efek dari sakit ku ini. Apa-apa jadi membuatku letih. Bahkan tidurpun terasa uring-uringan. Merasa tidur tak cukup itu membuatku telat bangun dan solat subuh. Jam 08.00, sesuai setting alrm yang kupasang, aku akhirnya bangun dengan sedikit dipaksakan.
          Merasa waktu hanya tinggal tiga puluh menit lagi yang tersisa, sesuai jam masuk kuliah KAP, aku buru-buru mempersiapkan diri. Termasuk solat subuh yang mungkin saja terkategorikan sebagai solat duha. Keadaan seperti ini sudah tiga hari belakangan. Aku selalu solat subuh diwaktu-waktu seperti ini. Tapi apa daya, setidaknya hatiku bisa sediki tenang karna telah berusaha untuk solat. Pernah aku mendengar argumentasi, bahwa seseorang yang tertidur hingga melewati waktu subuh, bisa saja diberikan keringanan andai saja tak terjaga sedikitpun dalam rentang waktu jadwal solat tersebut. Maka merasa aku memang tidak merasa terbangun sama sekali, aku pakai saja teori ini. Meski aku tak tahu apakah sumber itu valid atau tidak.
          Setelah terburu-buru melaksanakan solat, aku kemudia bergegas mandi. Sialnya, perutku yang dari semalam kembung masuk angin, malah terasa sembelit. Kubatalkan niat awal. Lima menit lebih kuluangkan waktu untuk menuntaskan naluri alamiahku untuk memenuhi panggilan ala mini. Sialnya lagi, setiba di TKP, birahi BAB ku down. Aku begitu menggerutu karna tak secuilpun beban itu dapat kutuntaskan. Sepertinya aku ada masalah dengan perut ini.
          Lima belas menit berikutnya kuhabiskan dengan mensucikan tubuh dikamar mandi. Setelah itu, aku berpakaian dengan cepat. Menyisir rambut asal, lalu melaju kencang menuju kampus dengan vario pinky ku. Oh,, aku lupa memberi tahu bahwa kemarin lusa ayah sudah mengembalikan lagi motor feminim ini. beberapa menit berikutnya, aku tiba dikelas dengan limit keterlambatan waktu sebanyak dua puluh lima menit. Saat mengetok pintu, semua mahasiswa sudah focus melihat slide yang divisualisasika di white board. Aku sangksi ketika mengintip dari celah pintu. Tapi ketika dosen mempersilahkanku masuk, aku jadi berasumsi, barangkali perkuliahan baru sebentar ini dimulai. Dan melihat ketersediaan pak harri menerima keterlambatanku itu, sedikit banyak memberikan kesan baik tentang beliau dihatiku.
          Dua jam setengah aku melihat bapak hari memvisualisasikan slide-slide materi KAP didepan. Selama itu, banyak hal yang kudapat yang tentu berkaitan erat dengan teori mengolah komunikasi antar individu. Beberapa materi itu tak lain seperti tipe-tipe komunikasi seseorang, pembagian ilmu-ilmu interpersonal skill, sifat-sifat interaksi per individu,  dan berbagai hal lain. Tapi yang membuatku tertarik justru dari cari bapak itu membuat analogi perumpamaan dari teori itu. Seperti yang tertulis di buku visualisasi komunikatif skill yang kubaca, keberhasilan komunikasi seseorang terletak pada respon yang diraih si komunican (lawan bicara). Maka melihat reaksi dari teman-teman yang antusias mendengar penjabaran pak hari, termasuk tawa yang meledak-ledak tadi, kurasa pak hari berhasil dalam menjalani komunikasi interaksi antar individu tersebut. Semua orang terkesan. Apalagi seputar example yang dia beberkan terasa lebih identik dengan kehidupan sehari-hari, lebih simple, dan sangat fakta sesuai realita yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita.
          Namun satu hal yang hingga kini tersimpan lama dikepalaku ada dua hal. Pertama, perbedaan budaya antar timur dan barat, bagaimana mereka meredam konflik, melihat suatu gebrakan baru dan bersudut pandang. Istilahnya demikian, timur identik dengan analogi paku. Sedangkan barat, di identikkan pada kiasan rantai. Maknanya adalah : analogi paku pada timur melambangkan reaksi yang muncul dalam menerima suatu perbedaan. Reaksi yang timbul terhadap suatu masalah itu akan membawa mereka pada sikap mencari jalan keluar dengan memisahkan inti permasalahan dari ketetapan yang sebelumnya ada. Solusi lain adalah dengan mencabut akar permasalahan itu untuk dibuang sejauh-jauhnya. Jikalau tidak memungkinkan juga, maka masalah itu akan dileburkan menjadi ketetapan sebelumnya. Seperti pada masa kenabian rasul dulu. Gagasan-gagasan nabi Muhammad yang terkesan ekstream, bersifat baru dan tak lazim, waktu itu dianggap keluar jalur dari budaya jahiliah quraisy yang telah bertahan lama ditengah kehidupan nenek moyang mereka. Tanggapan yang ada hanya dua. Nabi di usir, atau mengikuti ajaran-ajaran dan budaya mereka sebelumnya. Ini sesuai dengan analogi paku di dinding. Sepintas, paku itu berdiri sendiri kala dipaku di permukaan dinding yang datar. Hanya dia saja yang menonjol. Jika letaknya dianggap berbahaya, ia bisa melukai. Solusinya sederhana sekali. Dicabut, atau paku tersebut dibuat berbaur dengan dinding dengan cara dipaku sampai mentok hingga permukaanya kembali datar. Paku yang dicabut tadi adalah analogi dari rasul yang di usir jauh-jauh, sedangkan paku yang dibenamkan adalah tawaran pembesar-pembesar quraisy yang memaksa nabi tetap mengikuti ajaran budaya mereka jika tidak ingin di usir dan terhindar dari perlakuan tak wajar.
          Sedangkan analogi rantai pada budaya barat seperti halnya kita meracak sepeda. Apabila rantai itu terdengar berderit-derit, terasa macet, dan keras saat dikayuh, maka solusi yang terlintas di kepala tentu saja memberikan pelumas atau oli agar perputaran rantai tadi kembali lancar. Maksudnya disini bahwa barat melihat suatu permasalahan atau fenomena justru dari sudut pandang lain. Mereka cenderung memberikan nilai-nilai baru yang terkesan mengayomi atau memberikan kebebasan bereksprimen yang sekiranya harus di apresiasi sebaik mungkin. Kita tentu tahu kasus lady gaga yang setiap konser maupun video klip single nya tak lepas dari praktek-praktek dan ritual-ritual pemujaan setan dan cara fashionnya yang seolah bertelanjang bulat. Disana semua itu adalah biasa saja.merupakan suatu kebebasan, dan hak setiap diri untuk bereksperimen semau-maunya. Tapi jika di Indonesia, hal-hal seperti itu masih dianggap tabu, tak lazim, bertentangan sekali dengan nila-nilai budaya dan agama, dan terlebih, terkesan bertolak belakang dari norma-norma moralitas yang ada. Tak heran hal-hal ekstream yang malah keluar jalur justru di elu-elukan di barat sana. Salah satunya hubungan dan pernikahan sesame jenis. Oh, damn !!
          Hal kedua yang kudapat dari perkuliahan tadi adalah cara kita menemukan pasangan.
          Pak hari teozard bilang, bahwa kita ini hidup tak ubahnya bak melintasi sebuah taman yang penuh bunga. Tak terlukiskan betapa banyak bunga bermekaran yang kita lihat, kita hirup aromanya, dan kita nikmati keindahannya. Saat kita memasuki gerbang taman tersebut, kita cenderung ingin memetik satu yang terindah. tapi melihat banyaknya keindahan bunga yang ada, kita jadi enggan dan mengurungkan niat memetik bunga pertama karna merasa masih banyak bunga-bunga wangi di sepanjang jalanan taman. Kita berjalan, terus berjalan sambil melihat bunga-bunga indah yang terlewati secara tidak sengaja. Hasrat hati ingin memetik setangkai, tapi kembali mengurungkan niat berharap menemukan bunga yang lebih indah. Akibatnya, kita tanpa sadar terus berjalan hingga akhirnya taman bunga terlewati. Saat itu kita tak bisa kembali karna gerbang menuju taman telah tertutup. Malangnya, kita tak mendapatkan apa-apa, bahkan setangkai pun tidak. Penyesalanpun tiba. Reaksi yang muncul tentu saja adalah kesedihan. Sedih karna bunga indah yang kita lihat pertama tak sempat terpetik. Bahkan mencium baunya saja tidak, apalagi menyentuh mahkotanya.
          Kita jadi berandai, harusnya, apa yang terlihat pertama tadi itulah yang kita petik. Tak peduli apakah masih ada didepan sana yang lebih cantik dan indah, namun setidak-tidaknya kita telah mempersiapkan satu untuk dibawa pergi. Tak masalah bila kita tetap menikmati bunga-bunga bermekaran yang kita lintasi setelahnya. Karna sejatinya itu adalah hak kita untuk menikmati setiap keindahan yang terhampar di pelupuk mata. Dan sampainya kita didepan gerbang keluar nanti bukan merupakan sesal yang datang di kemudian.
          Mendengar analogi sederhana ini, jujur saja membuat aku terperangah dan terpaku di tempat aku duduk. Kata-kata pak hari terasa menusuk hatiku dari dalam. Aku takut bila analogi tersebut menjadikan aku sebagai satu-satunya contoh hidup. Karna mau tak mau, aku merupakan salah satu orang yang terlalu selektif dalam mencari tahu siapa pelabuhan hati.
          Jujur saja, selama ini aku terlalu angkuh dalam menyikapi setiap perlakuan istimewa dari teman wanitaku. Aku tak sepenuhnya welcome dengan cara mereka memasuki kehidupanku. Tak tahu kenapa, yang jelas, aku baru akan tertarik setelah merasakan getar-getar terntentu dari seseorang. Terbukti hingga sekarang, aku masih saja betah berlama-lama dalam status permanentku sebagai jomblo yang tersiksa.
          Perkataan pak hari ada benarnya. Harusnya sikap yang ku ambil juga demikian. Memetik bunga pertama yang kita lihat. Terserah, mau akan terlihat lagi bunga indah saat kita berjalan lagi ke depan. Akupun juga demikian.
          Mungkin orang-orang tidak tahu, bahwa selama ini aku telah menemukan sendiri bunga mekar yang telah kupetik sejak lama. Bahkan dari awal sebelum aku memasuki taman bunga.  Ia telah lama kubahwa pulang, kutanami di taman hati, dan kusirami tiap kali hingga bersemi indah di hati ini. bunga itu adalah orang itu, si gadis mungil bersenyum ginsul yang terus membuatku terpesona saat kulihat ia merekah indah pertama kali. Sering aroma wanginya memenuhi ruang di dada saat kuhirup. Menyejukkan hatiku, dan menenangkan aku yang terenyuh oleh rindu.  Ia terus tumbuh .. terus memuai, dan bersemi indah penuh pesona ditaman hatiku.
          Tak terasa, dua jam pelajaran telah membuat kuliah ini usai. Setelah absen berjalan, pak hari membubarkan kelas. Aku tertunduk lesu saat berjalan meninggalkan kelas menuju parkiran. Menemukan motorku yang terdiam acuh di sudut parkir, aku kian terenyuh. Kutekan tombol starter, memutar pedal gas, lalu melesat menuju arah pulang. Di jalan, pikiranku kembali teringat perkataan pak hari. Tentang filosofi taman bunga tadi, menghubungkannya lagi dengan masa ku sekarang, dan terus ke masa depan. Terdapat satu benang merah yang menjadi kesimpulan baru dikepalaku.
          Aku memang telah memetik bunga pilihanku sendiri. satu-satunya bunga terindah. Aku tak peduli pada bertangkai-tangkai bunga indah yang akan kutemui disepanjang taman bunga kehidupanku. karna bunga itu telah termanifestasikan kepada gadis mungilku dulu. Hatiku tak menyisakan ruang lagi, karna jemariku hanya mampu menggenggam satu tangkai bunga yang telah kupilih ini. meski ketertarikan akan keindahan lainnya tetap ada, biarlah hanya sebatas mengagumi saja. Walau aku tahu, entah bunga yang telah kupetik itu akan direbut lagi oleh seseorang dimasa depan sana. Entah layu dalam genggamanku, entah mati tanpa bisa mekar berbunga.
          Pada kenyataannya, taman bunga yang telah kulalui hanya ada di alam imajinasiku. Dan tempat bunga itu merekah indah amat jauh sekali dari dunia tempat aku ada. tak dapat kujangkau, kusentuh, apalagi kuhirup aroma sejuknya. Dan ia begitu saja tumbuh subur disana. Angin yang bertiup malah membawa aroma wanginya sampai padaku, membuat aku terjerat oleh hasrat ingin berkunjung ketempat ia mekar berbunga. Tapi taman itu tak begitu saja bisa kumasuki, apalagi memetik salah satu bunganya untuk kubawa pulang. Butuh perjuangan lebih untuk memiliki setangkai bunga terindah itu jatuh ke genggaman tanganku.
          Dan tentunya …. Sebuah keajaiban.
          

0 komentar: