Gerak
lakunyaindah bersahaja. manis, dalam rekahan
senyumnya nan santun menggoda. ia menatapku, lalu hatiku bergetar dilamun
asmara. ia tersenyum lagi, aih, aku demikian berbunga-bunga. kembali alunan
sebuah lagu itu terngiang dikepala. menyesakkan ruang didada saja. ku untai
berangkai-rangkai puisi mesra disana, dari relung sulbiku, dan kulantunkan
menjadi sebait lagu nan penuh dinamika cinta. Lalu anganku bersajak. Bahwa aku
rindu lagi tempat itu, rindu lagi udaranya itu, saat bibir tak mampu berucap,
ketika lidah tak cakap lagi mengeja. Maka aku telah remuk dalam tatap mata
sayunya, terpesona kala bias wajahnya merona. Kukenang kesan itu sejenak, tak
terlupa, masih membekas dipelupuk mata. lalu aku terenyuh, terbata digerus rasa
yang tak jua mereda.
Disinilah mimpi itu bermula, tentang aku, kamu, dan para sahabat lama. Embun
sejuknya bertaburan, berbulir indah diatas rekahan sekuntum bunga. Kuhirup
udara hangat itu, kugenggam tanah halus itu, lalu kenangan memelukku.
Dan dikota ini aku telah lama
membiarkan mataku terbuka, di dalam keheningan perasaan, disela waktu yang
bergulir tak peduli. Perasaan itu kian remuk saja ketika kusaksikan butir-butir
debu menghempaskan kedua kelopak mataku yang terurai basah. Maka ingin
kutenggelamkan kenangan itu bersama waktu, lalu membiarkan diri ini bersama
kelegaan, bersama rasa sejuk dan kedamaian yang telah sekian lama aku rindukan.
Namun tetap saja air mata itu mengering, karna rasa sakit yang begitu pilu
telah menusuk keyakinanku, lantas melukai perasaan itu dengan sayatan
sembilunya agar kulupakan saja semua mimpi. Dan ini teramat sulit... begitu
sulit sekali... Karna bayangan gadis nun jauh disana itu senantiasa muncul
menghantuiku, membuatku merasa sepi tak terkira, dengan dengungan sebuah lagu
rindu ditelinga, disela tangis harap nan menetes meluruhkan jiwa.
Entahlah,,
Dia selalu saja datang padaku, disetiap saat dalam imajinasiku, bahkan tanpa
aku minta, dan tanpa aku panggil.
Kini tak ada yang berubah di kota ini. maka untuk mengenang kesan itu sejenak,
biarlah kuhirup kembali udara sepi bertabur rindu ini disekelilingku. Karna dihati kecilku, bisikan itu terus saja menggema, lalu
meniupkan hasrat semu dikalbuku.
Melihat
keunikan buku kotak musik gita yang persis menyerupai sebuah kaset lagu, aku
jadi menganalogikan buku ini seperti sebuah Cassette Recorder yang dapat ku mainkan
sendiri di Portable Music Tape hayalanku. Andanari Yogaswari yang pada mulanya
adalah seorang Penulis, malah kugambarkan seolah-olah sang Composer musik Orchestra
yang begitu handal mengaransemen penulisan katanya menjadi alunan musik yang
lebih hidup, lebih mengena dan mampu menjangkau sisi tak tersentuh dari
kepekaan pengamatan kita tentang pentingnya arti sebuah kehidupan. Kemasan
bukunya yang begitu menarik, lugas serta ekpresif, sanggup mengupas tuntas tentang
sisi menarik dari kehidupan seorang aluna sagita gutawa yang sukses di usianya yang begitu muda. Hal itu lantas membuatku merasa bahwa buku ini adalah bacaan yang tepat untuk aku
jadikan ukuran, sudah sampai sejauh manakah pencapaian ku selama ini? Aku berasumsi
- jika memang ada bangsa yang begitu merindu akan kemunculan lahirnya Generasi
terbaik di Ranah Pertiwinya, maka buku Kotak musik Gita ini perludijadikan Referensinya.
Seperti
sebuah Album lagu, aku benar-benar telah terlarut dalam warna-warni seputar kehidupan
aluna sagita gutawa. Tak dapat kupungkiri, aku seakan dibuat tersenyum sendiri
ketika secara bergantian memutar ulang Side A hingga Side B buku karya Andanari
Yogaswari ini dalam imajinasiku. Penuturan Gita yang begitu transparan telah membuat aku tenggelam dalam kehidupannya, lalu serta merta terbawa ke dalam
kesehariannya. Sehingga dengan jelas, Portable Musik hayalanku tadi secara
teramat nyata menggambarkan Klipnya padaku, dengan transformasi foto-foto masa
kecil hingga remaja Gita sebagai visualisasinya. Disana aku melihat prinsip
hidup yang begitu tertata rapi, penuh warna dan selalu berirama. Prestasi luar biasa yang ia capai seakan membangunkan aku dari tidur panjang. Dan aku sadar, ternyata aku masih tertinggal jauh darinya. Bukan itu saja, selain mengispirasiku kembali, dia juga telah memberikan pencerahan padaku, lantas mengajarkan aku agar bagaimana menghadapi hidup yang sesungguhnya,
tanpa pernah mengesampingkan kewajiban lain yang seperti tidak ada habisnya. Keluarga, Persahabatan, dan pendidikan, semua juga punya arti yang
sedemikian besar untuk di selaraskan menjadi sebuah Prioritas. Belum lagi
pelajaran-pelajaran lain yang selalu dia berikan padaku sebagai modal utama
menjalani sebuah kehidupan. Seperti mengatasi rasa malu, bertanggung jawab atas
pilihan yang kita ambil, tetap semangat, pantang menyerah, tak sungkan mencoba
serta percaya bahwa mimpi itu akan menjadi nyata, semua kian mengakar kuat di benakku. Entahlah,
mungkin tak lagi dapat kujelaskan, kenapa setiap kali aku membaca buku Semi
Autobiografi gadis ajaib ini, semakin kentara pula rasa ingin berubah menggeliat
dalam diriku. Begitupun dengan berbagai pelajaran moral lain yang terus saja kudapat hingga pemutaran side B buku kecil ini berakhir. Saat kisah menawan itu benar-benar usai, aku seakan dibuat tersentak, dan seketika
itu aku seolah menjauh dari kehidupan nyata Gita sehingga terlempar
kembali ke dalam kehidupan ku semula. Saat aku benar-benar kembali, awalnya kurasa hidup ini tak kan bisa di perbaiki lagi karna kelalaianku yang
selama ini terlalu susah untuk aku akhiri. Namun buku ini seakan bernyanyi
kembali untukku, memberikan arti tersendiri buatku, baik itu perubahan,
pencerahan serta kemauan yang kuat untukku belajar bagaimana menapaki kehidupan
ini dengan lebih baik lagi di masa depan nantinya. Belum ada kata terlambat,
masih ada hari esok.. Buku ini bilang – “Gita bisa, kenapa kita tidak?”-
Dulu, ketika lamunanku tertaut ke dalam alunan
sebuah lagu, aku yang kala itu tengah blingsatan mencari jati diri, ternyata
masih terlalu lugu untuk mengenal cinta semenjak dini. Menurutku, perasaan itu masih
sebatas hitam dan putih. Maka kuterima saja rasa itu mentah-mentah ketika aku
terlarut dalam dunia kecilnya dibalik kaca. Aku bahkan tak pernah tahu, jika
pada akhirnya, keputusan itu jualah yang menyebabkan aku terpuruk dalam nestapa
yang tak berkesudahan. Ia begitu mudahnya membuat aku luluh, meremukkan harga
diriku lewat seulas senyum, dan menggetarkan hatiku melalui sebuah lagu. Aku tak
memikirkan apa-apa ketika dulu ia menjebakku dengan binar bola matanya yang
bening. Dan yang aku ingat, ketika itu ia terlihat jelita dimataku.
Dialah wanita yang membuat aku lupa akan
segalanya. Seorang gadis mungil dengan sejuta pesona. Apalagi ketika ia tengah tertawa
manja, akan ada getaran hangat menyusup dalam hati. Disudut bibirnya yang ranum
itu, selalu terselip secercah gingsul mungil yang semakin terlihat memukau kala
ia tersipu malu dengan rona wajah yang memerah. Raut wajah yang melenakan,
karna dengan siapapun ia bicara, senyumnya yang manis itu tetap akan tersaji
dengan indahnya.
Ia belum beranjak dewasa kala aku
melihatnya untuk yang pertama kali. Mungkin baru berusia sekitar tiga belasan
tahun. Namun ia sudah terlihat dewasa dimataku. Sikap manjanya, rengekan lembut
suaranya, raut wajah malunya ketika dirayu, dan sifat kekanakannya yang lucu, tak
urung telah membuatku jatuh hati padanya. Aku semakin tak berdaya ketika pada
saat pementasan musical waktu itu, ia yang dengan suara merdunya turut menyanyikan
sebuah lagu sembari menekan tuts-tuts piano dengan gemulai lentik jemari mungilnya.
Penampilan atraktif yang begitu memukau dan membuatku terpasung dalam kekaguman
yang meluluh-lantakkan perasaanku. Hanya dalam sekejap mata saja, aku yang
sebelumnya ragu membuka hatiku pada wanita lain, kini malah dibuat bertekuk
lutut dihadapan pesona gadis ayu ini.
Aku akhirnya menyadari, ternyata hasratku
begitu menggebu untuk semakin mengenal siapa dia sesungguhnya. Aku makin tak
dapat lagi mengelak, bahwa pesonanya itu telah membuatku terhanyut dalam buaian
nada indahnya nan merdu. Tatapan matanya begitu hangat, merenyuhkan jiwa, menjalari
denyut nadi, hingga menelusup lembut menyentuh kalbu. Ia serta-merta menghipnotis
pikiranku, karna dimanapun aku berada, senyumnya nan manis itu kian terasa
akrab di imajinasiku. Kemanapun aku melangkah, kehadiran bayangnya yang semu seolah
enggan berpaling dariku.
Masih jelas kuingat, sejak kejadian dihari dulu
itu, disebuah pertunjukan live performanya dibalik keanggunan gaun putihnya,
sejak itulah rasanya aku dibuat terbius lalu tenggelam dalam jerat kerinduan hati
yang begitu menggelora. Tak butuh waktu lama aku menyukainya, dan ini begitu
tak biasa. Ingin aku mengungkapkan hal ini kepada orang-orang disekelilingku,
ingin aku berkisah mencurahkan perasaan ganjil ini pada mereka, mengeluhkan
keadaan hati yang sudah lama tak dipenuhi rasa, bertanya-tanya, apakah mungkin
aku benar-benar telah jatuh cinta padanya? Atau apakah mungkin batas kenyataan
mimpi itu tak lagi ada, sehingga mudah saja aku cenderung mencintainya? Namun
hasrat tersebut urung kulakukan karna pasti menurut mereka, aku sudah terlampau jauh bermain-main
dengan anganku.
Lama aku bergelut dengan rasa ini.
Suatu perasaan aneh yang kupendam seorang diri hingga perlahan telah menjelma
menjadi rasa cinta terlarang dalam hati. Aku tak ingin dibilang punya
harapan setinggi langit, sementara aku tak kuasa mewujudkannya. Aku begitu takut
memelihara rasa tak wajar itu, karna pada kenyataannya aku memang telah terlalu jauh
dibutakan mimpi yang tak masuk akal. Kerap aku dibuat sengsara oleh rasa aneh ini,
bahwa disetiap saat aku selalu berharap dalam angan semuku agar semua ini dapat
kuungkapkan mesra dihadapannya. Namun seiring waktu berlalu, melihat takdirku
yang terkuak pilu, timbul keraguan dalam diri, bahwa semua itu telah berujung
menjadi satu kesimpulan ambigu. Dan ini makin menyesakkanku saja, karna mau tak
mau, aku harus menerima julukan absurd itu, bahwa aku ini, tak lain dan tak
bukan, hanyalah seorang pungguk tak tahu malu yang coba-coba merindukan bulan.
Selain itu, kenyataanpun berkata lain, karna
diantara kami berdua terbentanglah sebuah perbandingan mutlak diantara dua
dunia yang berbeda. Dia begitu jauh dari kehidupanku, dan sama sekali bukanlah berasal
dari kalangan orang sepertiku, melainkan jauh sekali diatas tingkat kasta
statusku yang rendah. Biasanya anganku akan menciut bila kenyataan pahit itu terbayang
lalu terurai menjadi beban dalam diri lantas makin berkecamuk hebat dihati, bahwa
ceritaku ini tak ubahnya hanyalah replikasi saja dari cerita Aladin dalam kisah
Negri seribu satu malam yang terkenal itu. Bedanya, nasib lebih memihak jalan
kisah mereka, sementara aku, selamanya akan tetap bak gayung yang tak akan pernah
bersambut.
Aku tahu sikap ini salah, karna tak
sepantasnya aku sampai mau merendahkan diri hingga sejauh itu, apalagi hanya dikarnakan
seorang wanita. Namun begitulah aku, seorang pemuda yang telah dibutakan perasaan hingga aku lupa, bahwa dia juga manusia biasa yang hakikatnya tak jauh beda denganku. Tapi kenapa aku masih saja tetap mengelu-elukan dia hingga setinggi langit? Entahlah, aku memang tak pernah peduli akan hal tersebut, karna
disatu sisi perbandingan ini benar adanya. Maka aku hanya bisa mengelus dada untuk membujuk
diri, mendustai hati dengan segala kemungkinan tak jelas bahwa itu akan terwujud
menjadi realita, agar nantinya pesimistis tak lagi menjarah harga diriku, hingga
lambat-laun, penyesalanpun usah menjadi keluh-kesah dalam sepiku. Aku tak
pernah tahu, entah kenapa demi semua itu aku bahkan bersedia menutup hatiku
dari bunga-bunga bermekaran diluar sana, sementara kembang bunga dihatiku itu
saja tak pernah mau mekar ditamanku.
Dan sekarang aku masih saja terpuruk dalam jurang
kesalahan masa lalu. Hingga jika aku dapat berandai-andai, maka hal pertama
yang terbesit dipikiranku hanyalah kembali ke masa lampau dulu, saat takdir tak
memberi kabar bahwa secara diam-diam aku akan dipertemukan dengannya. Maka ingin
aku menjemput kembali diri yang kala itu sedang terdiam bisu merenungkan pesona
ayu manjanya, menyeret lagi angan yang tengah melayang diterbangkan alunan
nada-nada indah nyanyian merdunya, lalu menyentakkan kembali kesadaran yang
sekejap mata hilang karna telah dibuat terlelap dalam untaian lembut alunan
musik instrumental yang dimainkan jemari lentik mungilnya. Tapi apa daya, tak
ada yang dapat kulakukan sama sekali. Pelampiasan sesalku hanya sesaat itu saja, karna berharap
itu akan terjadi, rasanya akan teramat riskan. Apa mungkin, roda masa lalu bisa berputar kembali? Tak ada yang dapat kusalahkan selain kebodohan itu
sendiri.
Kadang, bila kerinduan telah jenuh
menyiksaku, dan pada akhirnya perasaan itu makin kentara meluluhkanku, maka tak
ayal aku akan selalu mencari tempat untuk menyendiri, berkeluh kesah sendiri,
dan meredakan gemuruh jantungku juga seorang diri. Biasanya aku akan pergi ke tempat-tempat
yang jauh, yang tiada seorangpun dapat melihat air mataku bercucuran. Aku
melakukan itu bukan tanpa apa-apa, melainkan memang sudah tidak sanggup lagi
menahan gejolak perasaan yang kerap berteriak parau dibagian terdalam lubuk jiwa
ini. Bahwa disetiap saat, aku selalu ingin bertemu dengannya, berbincang sesaat
bersamanya, bertanya ini-itu pada dirinya, mengunjungi keluarganya, melihat
dari dekat kesehariannya dan masih banyak lagi yang akan kutanyakan dalam
kehidupannya.
Bila sudah begini, atau karna kerinduan seolah
tak dapat kukendalikan lagi, maka aku akan menangis tersedu dalam jeritan
kerinduan yang tertahan. Lalu aku akan mencari tempat dimana dia berada seraya
membenamkan lagi ingatanku kedalam serpihan kenangan masa lalu. Seperti yang
seringkali kulakukan pada satu sore nan sahdu, ketika aku termangu dengan sendu
menikmati nuansa senja di pesisir pantai yang riak-riak kecilnya memantulkan
kemilau nirwana. Ditelingaku, sambil menyelingi pemandangan indah itu dihadapanku,
akan kusisipkan sepasang earphone portable musikku disana agar suara merdu gadis
itu mengalun lembut dalam benakku. Hingga ketika kusaksikan sang surya kembali
ke peraduannya, dan ketika kemilau indahnya
terbiaskan temaram senja, setidaknya kerinduan yang mendera dihati itu juga
turut menjadi sirna ditelan hangatnya terpaan sang bianglala. Seperti itulah
aku akan menghabiskan waktu hingga gejolak kerinduan itu mereda.
Sering kuyakini, bahwa ternyata dia adalah
sosok yang begitu menginspirasiku. Meski usianya masih muda, namun ia lebih
matang dari yang aku duga. Begitu banyak hal yang dapat ia banggakan. Prestasinya mengejutkan, baik
dibidang akademik, maupun dalam karirnya bermusik. Dalam berperilaku, dia terlihat begitu santun, dan akan langsung terlihat dari cara ia bertutur sapa, caranya bertata-krama, suara halusnya ketika berbicara, sikap
pedulinya dan terutama, tatap matanya yang meneduhkan jiwa. Biasanya,
ia akan menyapaku lewat akumulasi pesonanya yang indah itu, membisikiku dengan
untaian sajak-sajak mesra untuk mendengar segala keluh kesahku tentang kerasnya
hidup, sembari tersenyum manis seakan mau bersimpati merasakan apa yang telah
aku rasa.
Di dalam hati kecilku, Ia termanifestasikan sebagai seorang anak bertipikal gadis rumahan yang selalu menomor satukan pendidikan, keluarga,
persahabatan, dan kebersamaan. Ia memang tak mengenal kesia-siaan dalam kesehariannya.
Prinsip hidupnya selalu tertata rapi, berwarna serta selalu berirama. Hingga
bagiku, tanpa perlu tahu semua itu sekalipun, aku tetap
akan melihat ia sempurna dimataku. Karna disamping parasnya yang ayu itu,
dibalik tatapan sayu dalam kibasan rambut hitam nan tergerai lurus berhias ikatan
bando putih dulu, telah terkuak jutaan rahasia menakjubkan dari
sosoknya yang penuh misteri. Maka dialah wanita mungil yang telah menjebakku
di masa lalu, yang bahkan mampu membuat singa terlelap dalam pangkuannya ketika tengah
bernyanyi.
Karna itu, aku kerap menjadikan pencapaian
kehidupannya sebagai tolak ukurku dalam pencarian jati diri. Bahkan, ia sudah
menjadi inspirasi tersendiri bagiku. Seperti ketika aku berpetualang dalam
kehidupan, maka ia akan terus memotivasiku, memompa adrenalin dalam semangatku,
berbisik kecil dalam keputus-asaanku, hingga menghembuskan aroma positif dalam
keterpurukanku, bahwa sudah sejauh mana aku berlari, apa yang aku dapat selama
ini, dan jika aku gagal, ia akan berbisik bahwa tidak sepantasnya kegagalan itu kutangisi. Maka dialah persepsiku akan defenisi
tentang cinta dan penterjemahanku akan segala bentuk keindahan. Mengenalnya
adalah sebuah anugrah terindah bagiku. Karna sejak itulah aku jadi lebih tahu ke
arah mana aku harus melangkahkan kakiku.
Di satu sisi, pertemuanku dengannya terasa
meremukkan hati. Bukan tak mungkin kepedihan senantiasa menggerogoti luka
dalam diri, bahwa betapa senyumnya itu telah membuat aku terenyuh dalam rindu. Ia
seolah menyiksaku dengan akumulasi pesona cahaya matanya kala terkejut, reaksi
gugupnya ketika malu, sifat kemayunya saat digoda, dan untaian lagu yang dinyanyikannya
kala bersenandung. Namun disatu sisi lainnya, aku justru merasa beruntung telah
dipertemukan dengan gadis jelita ini, karna dibalik pesonanya nan tak
tersentuh, juga lahir makna hidup baru dalam kemauanku yang kuat untuk berubah
bahkan diberikan lagi kesempatan untuk mencari tahu dunia, hingga memutar
sejenak lajur-mundur masa lalu lewat beragam karunia terindah tentang anugrah
yang tengah kurasa, bahwa hidup ini terlalu indah untuk kulewatkan secara percuma.
Dulu sekali, ketika belum secuilpun perasaan itu menyelinap dihati, pendeskripsianku tentang diri hanya sebagai pemuda yang tak jelas, pemalas, tak mengenal survive menyongsong hari esok, dan terlebih, tak punya komitmen dalam hidup. Bahkan aku kerap menjalani keseharianku dengan percuma belaka, menghabiskan waktu tanpa melakukan hal-hal penting untuk kedepannya hingga membuatku takut membayangkan bagaimana masa depanku ini setelahnya. Aku seolah terintimidasi oleh derita menyedihkan yang di alami orang kebanyakan, yang masih belum menemukan apa arti hidup, jati diri dan karakter kedewasaannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghinggapi kesendiriannya. Seiring itu, apapun yang pernah kuberikan tak sedikitpun menjadi kehidupan. Tak jauh beda dengan keinginanku yang selalu menjauh dari kenyataan. Hingga akhirnya, ketika gadis bersenyuman gingsul itu hadir dengan pesonanya, itulah saat paling menakjubkan dimana hidayah allah datang lewat perantaraannya.
Inilah perlakuan cinta padaku, cinta yang
dengan caranya terkadang tak dapat kupahami. Kadang ia membuatku terjebak dalam
asa, hingga menggoreskan luka dalam tanya, bahwa sampai kapanpun diri ini tak akan
pernah terbesit dihatinya. Kadang ia memberikan harapan untukku, berbisik mesra
ditelingaku, agar disuatu saat aku bersedia memenuhi ruang dihatinya, dan itu
membuat aku pilu. Namun biarlah, apapun keluhan itu sudah tak masalah lagi
bagiku, karna dalam hati aku hanya sebatas ingin merasakan apa arti cinta saja,
bagaimana rasanya mencintai, meskipun tak pernah bisa untuk dicintai.