Udara kota London memasuki musim winter. Salju
menumpuh dibarisan atp rumah bergaya gypsi. Dahan-dahan kering filicim mengerut
terbungkus berbongkah-bongkah salju tipis yang membuat batang kering itu teba
seperti lengan boneka sinterklas. Kaca-kaca menguapkan embun yagn memudarkan
pemdangan dari dalam kamar. Di awan, langit putih pucat, menurunkan serbuk
serbuk salju yang melayang ringan bak terigu yagn berhamburan menyelimuti tanah
basah. Oktober d Birmingham.
Jari
mungil itu terlihat menari-nari di ats keyboar desktop computer, seorang gadis
dengan rambut terurai indah tersenyum sembara menatap layar untuk menuliskan
sedikit ungkapan rindu, sedih, dan menjalani aktifitas baru di negri empat
musim. Tut-tu itu terlihat bernada ketika jemari mungil itu
berjingkarak-jingkrak diatasnya, persis sama ketika ia memainkan piano. Ia
tersenyum penuh arti, hingga sebuah ulasan ginsul tersembul di sudut bibirnya
yang ranum kalis seperti madu. Satu kegiatan di penghujng senja. Dan melihat
gerimis yagn turun perlahan, hatinya tertegun. Rasa rindu membuncah dalam hati
gadis manis itu.
Jauh
dari rumah ternyata memberikan nuansa tersendiri di hati seorng gadis yang kini
memandang anparan alam salju dengan tersenyum. Ia memakai daster dengan sal
diselempngkan ke leher. Dingin membekukan hasratnya untuk berjalan menyusuru
keadaan kota brimingham, seperti biasanya. Ia lebih memilih untuk duduk dilayar
computer, menulis spatah kata dib lo tentang suka duka menjalani kuliah di
universitas brimigham city. Y, tahun ini adalah musim pertema ia kuliah.tak
heran belembar cv tentang universitas, silabus, dan beberapa buku wajib
fakultas harus ia baca satu persatu di meja mungil apatement marlotnya. Belum
lagi exam yang tiga bulan lagi akan segera dilangsungkan, sedikit banyak
emmbuat ia lumayan strees dan hox msnghadapi kesendian tanpa kehadiran orang
tua tercintanya.
Untuk
mengisi waktu laung, sering ia berjalan sendiri menjalani jalanan kota London.
Midland, dan dari dormnya itu ia harus berjalan emutar untuk menaiki kereta di
terminal aborrte. Pergi mengunjungi museum, pagelaran seni, sirkus, dan hunting
dress di pasa festival midland. Hidup di negri orang memberikan sesuatu abru
dalam dirinya. Yaitu betapa sekarang ia menjalani profesi dua sisi, yaitu
disini, ia bebas melakukan dan berbuat apa saja. Tidak di Indonesia, tempat
dimana ia menemui popularitas yang menghadle setiap hari-harinya. Jika di
Indonesia I menjadi penyanyi terkenal, di London, ia justru merasakan sosok
yagn biasa-biasa saja.
Sore
ini, setelah berdingin-dingin sehabis berjalan dari kawasan midlander,
bertemankan sepring spageti dan strobery sparkling tea, I sengaja merefresh
segla kepenatan dengan berselancar di dunia maya. Sesekali mencek tweet, mengupdate
status, dln. Tapi kali ini ia lebih terrobsesi untuk menulis. Menuliskan segla
pengalamamn dinegri orang. Kali ini tentang sirkuit de olelil yang abrus saja
ia lihat di abbey roa studio.
Jari
mungil itu kemudian menarinari dengan gemulai dan kata-kata inisial satu persau
tertera dimonitor lcd vaionya. Semnetara ia menuliskan ulasan mengenai
hari-harinya, kerlap-kerlip emailnya menyala. Menandakan sebuah tanggal dibulan
November. Ya, itu adalah hari kepulangannya nanti. Dua bulan lagi. Ia menjadwalkan
pada hari itu aakn mengisi pementasan disebuah konser. Sesaat ia terkenang
kembali pada kehidupannya dijakarta. Saat-saat kesibukan menjadi seorng
penyanyi dulu.
“
Jakarta hall convention center”
Memo
di i-podnya menimbulkan sederet jadwal tempat dmana ia nanti akan perform.
Seperti dulu saja, ketika tiap pementasan tertera di agenda dindingnya. Ia jadi
ingat bagaimana duetnya dengan adaband dulu menjadi titik tolak karirnya sejauh
ini. Bertahun sudah sejak hari itu, dan dua buah album dan satu mini alum
religi telah melengkapi karirnya sebagai diva muda. Berbagai prestasi itu
terbukti dengan deretan piala yang ia pajang dilemari kamarnya. Beberapa iklan
tivi, film love in pertnya, dan semua prestasi yang ia imbanagi dengan prestasi
akademiknya sudah menjadi list history of lifenya selama ini. Satu hal yang
masih ia cita-citakan kini masih tersangkut di ujung penanya. Kuliah!!
Lulus
dari SMa binus simprug ia akhirnya melanjutkan kuliah ke luar negri. Awalnya ia
mendaftar dibeberapa universitas di inggris, anmun bersadsarkan feelng, ia
melabuhkan hatinya di universitas of brimninham. Padahla di segala universitas
yang ia lamar itu ia lulus. Namun nasib memang harus mengiringya sampai ke
negri para midlander.
Dan
hari ini ia mengawali hari –hari barunya dinegri asing. Jauh dari rumah
merupakan tantangan tersendiri baginya. Demi masa depan, ia harus meninggalkan
rumah. Menjemput ilmu baru, dan
merealisasikan cita-cita masa depan.
Gadis
mungil itu tersenyum menuliskan kehidupan barunya di London. Sembari menekan “
enter “ ia mempublish artikel itu untuk mengobati kerinduan fansnya.
Hari-haripun
terasa indah di musim salju yang indah itu di kota London. Tanpa Ia tahu,
barangkali tulisan yang ia entry tersebut selalu ditunggu oleh seseorang,
berharap selalu tahu, bagaimna perkembanannya selam di negri orang. Dan rasa
rindunya, setidaknya terobati dengan sedikit kabara dari negri empat musim.
Artikel
new date itu serta merta terbuka disalah satu negri seberang. Kembali
imajinasinya menjad awal, bagaimana ulasan kehidupan tentang labuhan hatinya
bisa tertera dihadapan wajahnya. Dan lagi-lagi, senyum itu menghiasi
antusiasnya.kira- kira itulah rentetan ilustrasi kisah yagn tercipta dari
seorang pemuda kurus tinggi di depan sebuah laptop hp probok. Ia mereka-reka
berjuta kemungkinan tentang bagaimana proses ema-il yagn ia baca ini sampai
kepadanya. Dan di atas meja kecil didepan jendela kamarnya, ia tersenyum penuh
arti. Imajinasi ini sudah cukup mampu menggambarkan sseperti apa kabar sosok
labuahn hatinya saat ini. Ia lalu terus saja menulis. Dan tentu dengan rekaan
ilustrasinya yagn mencengangkan.
0 komentar:
Posting Komentar