Sabtu, 23 Februari 2013

THE SNOW IN MIDLANDER


          Udara kota London memasuki musim winter. Salju menumpuh dibarisan atp rumah bergaya gypsi. Dahan-dahan kering filicim mengerut terbungkus berbongkah-bongkah salju tipis yang membuat batang kering itu teba seperti lengan boneka sinterklas. Kaca-kaca menguapkan embun yagn memudarkan pemdangan dari dalam kamar. Di awan, langit putih pucat, menurunkan serbuk serbuk salju yang melayang ringan bak terigu yagn berhamburan menyelimuti tanah basah. Oktober d Birmingham.
          Jari mungil itu terlihat menari-nari di ats keyboar desktop computer, seorang gadis dengan rambut terurai indah tersenyum sembara menatap layar untuk menuliskan sedikit ungkapan rindu, sedih, dan menjalani aktifitas baru di negri empat musim. Tut-tu itu terlihat bernada ketika jemari mungil itu berjingkarak-jingkrak diatasnya, persis sama ketika ia memainkan piano. Ia tersenyum penuh arti, hingga sebuah ulasan ginsul tersembul di sudut bibirnya yang ranum kalis seperti madu. Satu kegiatan di penghujng senja. Dan melihat gerimis yagn turun perlahan, hatinya tertegun. Rasa rindu membuncah dalam hati gadis manis itu.
Jauh dari rumah ternyata memberikan nuansa tersendiri di hati seorng gadis yang kini memandang anparan alam salju dengan tersenyum. Ia memakai daster dengan sal diselempngkan ke leher. Dingin membekukan hasratnya untuk berjalan menyusuru keadaan kota brimingham, seperti biasanya. Ia lebih memilih untuk duduk dilayar computer, menulis spatah kata dib lo tentang suka duka menjalani kuliah di universitas brimigham city. Y, tahun ini adalah musim pertema ia kuliah.tak heran belembar cv tentang universitas, silabus, dan beberapa buku wajib fakultas harus ia baca satu persatu di meja mungil apatement marlotnya. Belum lagi exam yang tiga bulan lagi akan segera dilangsungkan, sedikit banyak emmbuat ia lumayan strees dan hox msnghadapi kesendian tanpa kehadiran orang tua tercintanya.
          Untuk mengisi waktu laung, sering ia berjalan sendiri menjalani jalanan kota London. Midland, dan dari dormnya itu ia harus berjalan emutar untuk menaiki kereta di terminal aborrte. Pergi mengunjungi museum, pagelaran seni, sirkus, dan hunting dress di pasa festival midland. Hidup di negri orang memberikan sesuatu abru dalam dirinya. Yaitu betapa sekarang ia menjalani profesi dua sisi, yaitu disini, ia bebas melakukan dan berbuat apa saja. Tidak di Indonesia, tempat dimana ia menemui popularitas yang menghadle setiap hari-harinya. Jika di Indonesia I menjadi penyanyi terkenal, di London, ia justru merasakan sosok yagn biasa-biasa saja.
          Sore ini, setelah berdingin-dingin sehabis berjalan dari kawasan midlander, bertemankan sepring spageti dan strobery sparkling tea, I sengaja merefresh segla kepenatan dengan berselancar di dunia maya. Sesekali mencek tweet, mengupdate status, dln. Tapi kali ini ia lebih terrobsesi untuk menulis. Menuliskan segla pengalamamn dinegri orang. Kali ini tentang sirkuit de olelil yang abrus saja ia lihat di abbey roa studio.
          Jari mungil itu kemudian menarinari dengan gemulai dan kata-kata inisial satu persau tertera dimonitor lcd vaionya. Semnetara ia menuliskan ulasan mengenai hari-harinya, kerlap-kerlip emailnya menyala. Menandakan sebuah tanggal dibulan November. Ya, itu adalah hari kepulangannya nanti. Dua bulan lagi. Ia menjadwalkan pada hari itu aakn mengisi pementasan disebuah konser. Sesaat ia terkenang kembali pada kehidupannya dijakarta. Saat-saat kesibukan menjadi seorng penyanyi dulu.
          “ Jakarta hall convention center”
          Memo di i-podnya menimbulkan sederet jadwal tempat dmana ia nanti akan perform. Seperti dulu saja, ketika tiap pementasan tertera di agenda dindingnya. Ia jadi ingat bagaimana duetnya dengan adaband dulu menjadi titik tolak karirnya sejauh ini. Bertahun sudah sejak hari itu, dan dua buah album dan satu mini alum religi telah melengkapi karirnya sebagai diva muda. Berbagai prestasi itu terbukti dengan deretan piala yang ia pajang dilemari kamarnya. Beberapa iklan tivi, film love in pertnya, dan semua prestasi yang ia imbanagi dengan prestasi akademiknya sudah menjadi list history of lifenya selama ini. Satu hal yang masih ia cita-citakan kini masih tersangkut di ujung penanya. Kuliah!!
          Lulus dari SMa binus simprug ia akhirnya melanjutkan kuliah ke luar negri. Awalnya ia mendaftar dibeberapa universitas di inggris, anmun bersadsarkan feelng, ia melabuhkan hatinya di universitas of brimninham. Padahla di segala universitas yang ia lamar itu ia lulus. Namun nasib memang harus mengiringya sampai ke negri para midlander.
          Dan hari ini ia mengawali hari –hari barunya dinegri asing. Jauh dari rumah merupakan tantangan tersendiri baginya. Demi masa depan, ia harus meninggalkan rumah. Menjemput ilmu  baru, dan merealisasikan cita-cita masa depan.
          Gadis mungil itu tersenyum menuliskan kehidupan barunya di London. Sembari menekan “ enter “ ia mempublish artikel itu untuk mengobati kerinduan fansnya.
          Hari-haripun terasa indah di musim salju yang indah itu di kota London. Tanpa Ia tahu, barangkali tulisan yang ia entry tersebut selalu ditunggu oleh seseorang, berharap selalu tahu, bagaimna perkembanannya selam di negri orang. Dan rasa rindunya, setidaknya terobati dengan sedikit kabara dari negri empat musim.
          Artikel new date itu serta merta terbuka disalah satu negri seberang. Kembali imajinasinya menjad awal, bagaimana ulasan kehidupan tentang labuhan hatinya bisa tertera dihadapan wajahnya. Dan lagi-lagi, senyum itu menghiasi antusiasnya.kira- kira itulah rentetan ilustrasi kisah yagn tercipta dari seorang pemuda kurus tinggi di depan sebuah laptop hp probok. Ia mereka-reka berjuta kemungkinan tentang bagaimana proses ema-il yagn ia baca ini sampai kepadanya. Dan di atas meja kecil didepan jendela kamarnya, ia tersenyum penuh arti. Imajinasi ini sudah cukup mampu menggambarkan sseperti apa kabar sosok labuahn hatinya saat ini. Ia lalu terus saja menulis. Dan tentu dengan rekaan ilustrasinya yagn mencengangkan. 

0 komentar: