Kamis, 31 Mei 2012

Kesan Mimpi nan lalu


            Kota ini masih saja tetap sama. Dan kenangan itu, masih jelas membekas dipelupuk mata. Jangan katakan nostalgia masa lalu mampu mengobati apa saja. Karna bagiku, justru romansa seperti inilah yang membuat batinku kian tersiksa.
Udara basah disini tak jua berubah. Gerimis, deru angin, embun dikaca rumah, pantulan lampu mobil dijalan, kucing yang menguap malas, dan kesenyapan ketika hujan menyapa, perlahan melemparkan aku lagi pada cerita masa silam. Aku kemudian melepas rindu pada bulir gerimis yang bertebaran dikota ini. Berjalan pelan menjejakkan langkah guna meresapi kesejukan alam nan menentramkan.
Di tepi perbukitan inilah udara sejuk itu dulu pernah kuhirup.
Indah tak terperi.
Dari atas sini, hilir mudik kendaraan samar-samar tersingkap dari celah rerimbunan hijau dibawah sana. Mobil-mobil besar berarak pelan, berjejer panjang tak putus-putus dengan mesinnya yang meraung-raung berat. Hutan alam terhampar indah. Terlukis sempurna seitaran mata memandang. Riak sungai singgalang, kayu lapuk berserakan, ranting kering dipembatas jalan, kera-kera berkeliaran, bau basah pegunungan, dedaunan teduh nan berjuntai beriringan, hingga hempasan air terjun lembah perbukitan, kian kentara saja merebak dalam jiwa. Keindahan ini lantas menjebakku. Hingga tiba-tiba, kerinduan tentang seseorang seakan mendekapku dari dalam.
Kubuyarkan lamunan itu, lalu kutekan gemuruh rasa sesak dalam ruang didada. Ini begitu sulit. Entah kenapa aku masih belum siap.
Aku menuju rumah sambil melipat lengan. Hawa dingin seketika menyergap. Begitulah kota padang-panjang bila gerimis merekah. Kusapa orang-orang yang kutemui. Mereka tersenyum, membinarkan bola mata, dan kembali melontarkan sapa padaku. Senyuman selamat pulang, senyuman lama tak bertemu, dan senyuman penuh rindu kini bersemi didepanku.
Brrrr,, 
Tiba juga aku dikota ini. Tapi mengapa dadaku sesak ?
Aku berlalu dari mereka dengan susah payah guna menyembunyikan kemelut perasaan. Pura-pura lupa dari segalanya bukan perkara mudah, dan kegetiran ini tak akan lenyap begitu saja.
“Tenanglah, rasa itu tak sedikitpun salah.” Demikian bisik embun dipipiku.
            Alam ternyata tahu! Mereka akhirnya tahu apa yang kupendam. Tapi bukankah mereka cuma sekedar tahu ? Tak ada yang mampu memahamiku. Tak akan pernah, bahkan dia sekalipun tak akan pernah mau tahu. Dan aku tak akan mau menyuarakannya.
Kenangan itu makin mendekat.
Kulihat oma tengah tersenyum di pintu depan. Ia ternyata menungguku. Yah, wanita tua itu makin termakan usia saja. Aku balas tersenyum, melambaikan tangan, berusaha meresapi kehangatan yang tulus berasal dari hatinya.
Selalu begitu, selalu pancaran itu terkuak dari wajahnya. Bahkan semenjak dulu, ketika ia mau berbesar hati menerima keberadaanku dirumah ini.
 Rumah ku yang hangat, rumah keduaku yang damai. Meski dari jauh, rasa rindu itu sudah menelusup dalam kalbu. Apa daya, Justru dari bangunan tua inilah kenangan lama itu bersemayam di hatiku.
Kini aku pulang.
Kusalami beliau sambil tak lupa mencium tangan kurusnya. Ia mempersilahkanku masuk, lalu berlalu sesaat meninggalkanku sendiri diruang tamu. Tak lama, ia datang lagi sembari menyuguhkan segelas teh hangat untukku. Kebiasaan lama di penghujung senja. Kutiup kepulan asap dicangkir itu, kuseruput perlahan, lalu ku awali pembicaraan sore itu dengan bertanya seputar kabar oma, rekontruksi rumah, dan jualan kecil-kecilannya. Jawaban beliau masih saja tentang arisan, tensi tinggi, encok dipersendian, sakit magg, tidur yang tak pulas, hingga keluh-kesahnya tentang si sultan, cucunya yang selalu malas bersekolah.
Perbincangan kami terus berlanjut hingga senja berlalu. Dari penuturan panjang lebar beliau, aku akhirnya tahu, bahwa semenjak aku dan teman-temanku tak lagi tinggal disini, rumah jadi terlihat sepi. Tak ada lagi ribut-ribut dipagi hari, kehebohan ketika antri mandi, diskusi, take suting, debat politik yang ujung-ujungnya ngawur, makan malam bersama, hingga menertawakan sesuatu yang tak masuk akal, kini memang tak terlihat lagi. Kebersamaan itulah yang kerap dirindukan oma.
Mendengar penuturan tersebut, mataku jadi berkaca-kaca. Cerita lalu mengalir begitu saja. Dan kenangan itu kian terbesit dikepala. Sesaat .. lamunanku terlempar ke dalam dimensi ruang dan waktu.
Ingatan itu masih jelas, dan kepingan kisah itu masih tersimpan rapi dirumah ini. layaknya beberapa tahun yang lalu.
Tak terasa, hari telah larut malam.
Oma sudah berulang kali melihat aku menguap. Aku disuruh istirahat saja. Mataku memang sudah lima watt. Maklumlah, rasa penat dan lelah di atas bus tadi membuat rasa kantuk kian menyergap. Kukatakan pada oma, aku ingin tidur dikamar belakang saja. Ia menatapku heran, bukankah kamar itu sudah lama tak ditempati ? Aku hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa oma ..” Ujarku singkat.
Gagang pintu kuputar, aroma kesejukan seketika menyeruak, lalu terbukalah serpihan kenangan itu.
Lihatlah .. kamar ini belum banyak berubah. Sama persis dengan yang kuingat terakhir kali. Hanya saja poster itu tak lagi ada, dan selembar foto dia, tak lagi kusimpan dibawah bantal, seperti waktu dulu.
Aih,, andai dia bisa tahu, disinilah perasaan itu mekar berbunga. Dan di tempat inilah dulu aku pernah berkisah tentang rindu, dari semua, dan terutama, tentang dirinya.
Mata ini kupejamkan. Tapi aku masih gelisah. Bayang itu kian berkelebat di pikiranku. Kupatut posisi bantal, kuselimuti separuh wajah, percuma. Kuresapi sayup-sayup suara jangkrik di luar rumah, tak mempan juga. Padahal tadi, rasa kantuk bertubi-tubi menyerangku. Aneh!
Ini karna sebuah nama di kusen jendela. Ku ukir tiga tahun lalu.

-Aluna- -

****
 


0 komentar: