Sabtu, 23 Februari 2013

LORONG WAKTU | Satu kisah di 1993



RSUD Payakumbuh | 20.22

Ucapan kecil mengalir lembut di sebuah kamar A17, Ruang ICU. Anak kecil bermata sipit itu mengguncang-guncang lengan ayahnya. Keningnya mengerut, setengah memelas ia meminta lanjutan dongeng semalam dari ayahnya ditempat tidur. Seperti biasa, ia akan bisa tidur bila ayahnya mendngengkan ia serial cerita si kacnil yang cerdik penghantar anak lelaki pertamanya untuk terlelap. Dan kini anak itu memaksa ayahnya yang matanya sudah mulai berat. Pekerjaan dikantor tadi amat sibuk. Ia hanya mampu menghela nafas, dan mendengar celotehan anaknya yang tidak juga reda, ia mengalah, dengan tersenyum ia melakukan apa yang anaknya mau.lagipula, sakit tipus yang diderita anak itu membuat ia tidur dirumah sakit selama tiga hari ini.
          “ ya udah, papa akan cerita. Kamu dengar baik-baik ya.”
          Ia kemudian mengusap kepala anaknya. Anak lelaki itu akhirnya diam. Ia memeluk erat lengan ayahnya kuat-kuat. dengan telinga terpasang, dan wajah lugu, ia menunggu sepatah dua kata keluar dari mulut ayahnya.
          “ hari ini papa akan menceritakan kisah kancil yang cerdik. Cerita bermula ketika pak budi hendak memanen timunnya. Sang kancil mengetahui …..
          Lalu cerita itu mengalir begitu saja. Selama ayahnya bercerita selama itu pula anak kecil tadi mendengarkan dengan seksama bagaimana detail peristiwa di alami si kancil. Meski cerdik, tapi sang kancil malah mencerminkan sikap tidak baik dalm dirinya. Ia mencuri timun pak budi, dan akibat itu ia menemui musibah yang menyedihkan.
          “ Kancil itu akhirnya tertangkap. Subuh lusa, pak budi akan menyembelihnya. Itulah ganjaran bagi orang yang mencuri.”
          Dengan intonasi nada yang lembut, tegas dan bekarisma, si ayah tadi menjelaskan bebarapa pelajaran moral pada anaknya. Si anak, meski baru berusia tiga tahun, namun sudah dikenalkan dengan nilai-nilai kehidupan dan agama. Hinga untuk masa dewasa nanti, dia bisa menentukan kehidupan sendiri, namun tidak lepas dari peranan dan tuntuan agama. Seperti turum temurun. Kehidupan kecil anak-anak minangkabau dianjurkan untuk memahami kejadian-kejadian yang mampu mencerminkan mana batas antara yang hak dan batil.
          Malam pun berlalu. Si ayah tetap saja bercerita dengan lugas. Ia menaydarkan kepalanya dikepala tempat tidur. Sete3ngah duduk, dan anaknya terlelap disampingnya sembari jemarinya mengusap-usap rambut anaknya. Sesekali ia menaikkan emosi, menghayati cerita agar kesan itu terasa mejalar kpada anaknya. Sang anak kadang menanggapi itu dengan bertanya dengan polos, menanayakan kenapa harus berbuat baik, kenapa tidak boleh berbohong, mencuri, dan boros. Si ayah menjawab itu semua dengan tenang. Dengan alasan-alasan dan ogika sederhana dengan berbagai analogi kecil. Hingga akhirnya, si anak tertidur pulas.
          Lelaki tadi menyadari anaknya telah masuk di alam mimpi. Ia mengamati sejenak wajah anaknya. Mencari-cari satu jejak garis yang sama tentang dirinya. Yaitu sebuah harapan. Lama menatap wajah polos anaknya, tiba-tiba ia berangan sendiri. Bahwa di suatu saat anak ini dapat mengemban segala harapan darinya. Bayangan-bayangan itu kemudian terurai menjadi visualisasi anaknya yang tengah memegang medali perak, mengangkat trofi juara sepak bola, bersujud di masjid, membca alquran, dan berjuta grafik kehidupan menjanjikan tentang masa depan anaknya.
          Menjelang tidur, setelah membetulkan posisi bantal anaknya, ia mengecup kening anaknya dengan lembut. Setengah berbisik, ia berucap dalam tarikan nafas memasrahkan segala harapan suci untuk anak lelaki pertamanya dalam doa. Layaknya kasih orang tua terhaddap sang anak.
          Anak lelaki itu akhirnya ia biarkan tidur sendiri di kasurnya. Dia sendiri tidur bersama istrinya di kasur samping anaknya. Tanpa ia tahu, anak lelaki berparas tampan itu terbawa ke dimensi ruang mimpi lain. Harapan-harapan kecil yang ia lontarkan kelangit tadi benar-benar membawa anaknya ke satu dunia lain. Seperti lengan nasib yang melingkar, sosok invisible hand itu menjalari langsung alam bawah sadar anaknya tadi lewat petualangan ganjil di alam mimpi. Satu cerita yang saling terhubung dengan seseorang ditempat lain. Dan perlahan nasib telah mengikatkan kapal pesiar mimpinya di satu dimensi aneh, pada kisah seseorang yang kelak akan mengambil alih kemudi hidupnya.
          Perlahan .. ia tenggelam memasuki alam baru. Dan tanpa ia sadar, ia terdampar dalam kehidupan seseorang yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.


***

Interval | @Jakarta

Malam kian larut di langit cerah. Bintang gemintang bertebaran di alam raya. Bulan timbul tenggelam diselimuti gugusan awan putih yang beringsut pelan. Dibawahnya, gemerlap ibukota Jakarta kian megah. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Berpadu pantulan lampu taman dan mobil di genangan air jalan raya. Gerimis baru reda.
          Ibu muda itu terlihat sedang dipapah oleh pria berkamata. Mereka memadu kasih di pelataran rumah. Pria itu mengelus perut istrinya yang tengah hamil. Ia lalu mengecup dahinya dengan penuh kasih saying. Seakan mengatakan kalau ia bersedia menemaninya sampai kapanpun. Sayu-sayup angin senja membelai kehadiran mereka. Mereka tersenyum sembari berpandangan. Lalu si pria tadi mengeluarkan earphone. Samar-samar, music classic norah jones terdengar. Dengan sedikit sentakan halus, ia menyentuhkan earphone itu ke perut istrinya.
          Sang istri hanya tersenyum. Ia turut membalas perlakuan suaminya dengan cara mengusap kepalanya. Mereka berdua larut dalam suasana hening. Berhara alunan music yang mereka sentuhkan tadi dapat didengar oleh sang anak yang masih didalam rahim. Mereka ingin berbagi keindahan. Dan menyatulah mereka dalam kebersamaan yang menghangatkan.
          “ apa dia mendengar bahasa kita mas “
          Sebuah pertanyaan meluncur halus dari bibir wanita itu.
          “ tentu .. music ini adalah pesan yang mewakili bahasa kita. Karna sejatinya music adalah bahasa. Dia pasti mendengar. “
si suami menenangkan istrinya dengan sebuah filosofi tentang kehidupan.
Kemudian bulan pun berlalu. Berganti waktu mengantarkan mereka pada sebuah peristiwa berseajrah dalam hidup mereka. Di suatu malam, ketika sang suami pulang mengguba h aransemen nada, ia mendapati sang istri tengah kesakitan dikamar. Ia panic bukan main. Melihat sang istri memegangi perut sambil meringis, ia terkejut. Dan ia paham bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. tanpa menunggu waktu lama ia membawa istrinya menuju rumah sakit bersalin. Sepanjang jalan ia berusaha meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja. Sang istri hanya menggennggam erat jemari suaminya saat mobil serena hitam itu akhirnya tiba dilobi rumah sakit. 
Pria itu begitu khawatir saat melihat rintihan istrinya di ruang bersalin. Ia tak kuasa mendengar kepedihan itu. Berulang kali ia ingin masuk, tapi suster menahan langkahnya. Karna proses berikutnya adalah hal penting. Tadi ia sudah sempat membisikkan kata-kata kuat di telinga istrinya. Dan ia berjanji akan selalu ada disampingnya. Tapi ketika ia disuruh keluar sebentar ia jadi risih. Namun ia menyerahkan sepenuhnya persoalan itu pada dokter. Lama berselang, ia memutuskan menenangkan diri sembari duduk bersandar di sebuah kursi. Jemarinya menggenggam kepalanya.dan sesekali ia mendesis sambil melirik layar kaca dipintu. Namun tirai belum juga disingkapkan.
Tiba-tiba … pukul 12 malam, suasana mendadak terang benderang baginya. Ia merasakan denyut nadi kehidupan bertedak kencang dalam dadanya. Matanya berbinar, dan ia rasakan seluruh tubunya gemetar menahan gemuruh itu. Dengan keadaan bersuka cita, telinganya jelas-jelas menangkap Sesuatu. Sebuah tangisan mendayu-dayu dari anak pertamanya. Tangis itu …. Seakan membuatnya tertawa. Lalu ia berhambur saat dokter keluar dengan raut wajah bercahaya. Beribu pertanyaan keluar dari mulutnya dengan antusias. Melihat itu, dokter jadi tertawa sendiri. Ia tak memjawab pertanyaan tadi. Namun ia membukakan pintu lebar-lebar, mengembangkan lengannya kea rah seorang suster yang tengah memeluk seorang bayi putih bersih.
Sang dokter hanya bisa tersenyum melihat laki-laki itu bergetar-getar hebat menyaksikan geliat manja bayi itu. Sejenak ia tampak gugup. Namun perlahan-lahan wajahnya merekah. dan air mata itu mengalir hangat di pipi saat bayi kecilnya terdiam didekapannya.
Berjuta rasa berkecamuk saat nafas bayi itu menyatu di dadanya. Tak terasa, air matanya mengucur deras. Anak pertamanya telah lahir ke dunia. Bayi itu berkening luas. Persis sepertinya. Tangis bayi itu semakin kuat. ia tertawa sambil mendongakkan kepalanya ke atas ubin-ubin ruangan yng pucat. Sepucat wajah bayi mungilnya. Istrinya tersenyum melihat itu. Saat tangisan bayi itu makin keras, sang suami mengecup keningnya sebelum ditidurkan di sisi istrinya. Mendengar tangis itu, mereka berdua berpelukan. Tangis itu kemudian terurai menjadi nada-nada merdu. Maka terbesitlah sebuah nama di awal subuh bertepatan dengan tabir surge yang dkmandangkan muazin saat azan. Sebuah kombinasi alunan nan merdu dari surga. Bisikan itu kemudian bergema dihati mereka. Bayi itu, gadis kecil yang jelita itu diberi nama “ Aluna  Sagita “. 
          

0 komentar: