RSUD Payakumbuh | 20.22
Ucapan kecil mengalir lembut di sebuah kamar
A17, Ruang ICU. Anak kecil bermata sipit itu mengguncang-guncang lengan
ayahnya. Keningnya mengerut, setengah memelas ia meminta lanjutan dongeng
semalam dari ayahnya ditempat tidur. Seperti biasa, ia akan bisa tidur bila
ayahnya mendngengkan ia serial cerita si kacnil yang cerdik penghantar anak
lelaki pertamanya untuk terlelap. Dan kini anak itu memaksa ayahnya yang
matanya sudah mulai berat. Pekerjaan dikantor tadi amat sibuk. Ia hanya mampu
menghela nafas, dan mendengar celotehan anaknya yang tidak juga reda, ia
mengalah, dengan tersenyum ia melakukan apa yang anaknya mau.lagipula, sakit
tipus yang diderita anak itu membuat ia tidur dirumah sakit selama tiga hari
ini.
“
ya udah, papa akan cerita. Kamu dengar baik-baik ya.”
Ia
kemudian mengusap kepala anaknya. Anak lelaki itu akhirnya diam. Ia memeluk
erat lengan ayahnya kuat-kuat. dengan telinga terpasang, dan wajah lugu, ia
menunggu sepatah dua kata keluar dari mulut ayahnya.
“
hari ini papa akan menceritakan kisah kancil yang cerdik. Cerita bermula ketika
pak budi hendak memanen timunnya. Sang kancil mengetahui …..
Lalu
cerita itu mengalir begitu saja. Selama ayahnya bercerita selama itu pula anak
kecil tadi mendengarkan dengan seksama bagaimana detail peristiwa di alami si
kancil. Meski cerdik, tapi sang kancil malah mencerminkan sikap tidak baik dalm
dirinya. Ia mencuri timun pak budi, dan akibat itu ia menemui musibah yang
menyedihkan.
“ Kancil itu akhirnya tertangkap. Subuh lusa, pak budi akan menyembelihnya.
Itulah ganjaran bagi orang yang mencuri.”
Dengan
intonasi nada yang lembut, tegas dan bekarisma, si ayah tadi menjelaskan
bebarapa pelajaran moral pada anaknya. Si anak, meski baru berusia tiga tahun,
namun sudah dikenalkan dengan nilai-nilai kehidupan dan agama. Hinga untuk masa
dewasa nanti, dia bisa menentukan kehidupan sendiri, namun tidak lepas dari
peranan dan tuntuan agama. Seperti turum temurun. Kehidupan kecil anak-anak
minangkabau dianjurkan untuk memahami kejadian-kejadian yang mampu mencerminkan
mana batas antara yang hak dan batil.
Malam
pun berlalu. Si ayah tetap saja bercerita dengan lugas. Ia menaydarkan
kepalanya dikepala tempat tidur. Sete3ngah duduk, dan anaknya terlelap
disampingnya sembari jemarinya mengusap-usap rambut anaknya. Sesekali ia
menaikkan emosi, menghayati cerita agar kesan itu terasa mejalar kpada anaknya.
Sang anak kadang menanggapi itu dengan bertanya dengan polos, menanayakan
kenapa harus berbuat baik, kenapa tidak boleh berbohong, mencuri, dan boros. Si
ayah menjawab itu semua dengan tenang. Dengan alasan-alasan dan ogika sederhana
dengan berbagai analogi kecil. Hingga akhirnya, si anak tertidur pulas.
Lelaki
tadi menyadari anaknya telah masuk di alam mimpi. Ia mengamati sejenak wajah anaknya.
Mencari-cari satu jejak garis yang sama tentang dirinya. Yaitu sebuah harapan.
Lama menatap wajah polos anaknya, tiba-tiba ia berangan sendiri. Bahwa di suatu
saat anak ini dapat mengemban segala harapan darinya. Bayangan-bayangan itu
kemudian terurai menjadi visualisasi anaknya yang tengah memegang medali perak,
mengangkat trofi juara sepak bola, bersujud di masjid, membca alquran, dan
berjuta grafik kehidupan menjanjikan tentang masa depan anaknya.
Menjelang
tidur, setelah membetulkan posisi bantal anaknya, ia mengecup kening anaknya
dengan lembut. Setengah berbisik, ia berucap dalam tarikan nafas memasrahkan
segala harapan suci untuk anak lelaki pertamanya dalam doa. Layaknya kasih
orang tua terhaddap sang anak.
Anak
lelaki itu akhirnya ia biarkan tidur sendiri di kasurnya. Dia sendiri tidur
bersama istrinya di kasur samping anaknya. Tanpa ia tahu, anak lelaki berparas
tampan itu terbawa ke dimensi ruang mimpi lain. Harapan-harapan kecil yang ia
lontarkan kelangit tadi benar-benar membawa anaknya ke satu dunia lain. Seperti
lengan nasib yang melingkar, sosok invisible hand itu menjalari langsung alam
bawah sadar anaknya tadi lewat petualangan ganjil di alam mimpi. Satu cerita
yang saling terhubung dengan seseorang ditempat lain. Dan perlahan nasib telah
mengikatkan kapal pesiar mimpinya di satu dimensi aneh, pada kisah seseorang
yang kelak akan mengambil alih kemudi hidupnya.
Perlahan
.. ia tenggelam memasuki alam baru. Dan tanpa ia sadar, ia terdampar dalam
kehidupan seseorang yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
***
Interval | @Jakarta
Malam kian larut di langit cerah. Bintang
gemintang bertebaran di alam raya. Bulan timbul tenggelam diselimuti gugusan
awan putih yang beringsut pelan. Dibawahnya, gemerlap ibukota Jakarta kian
megah. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Berpadu pantulan lampu taman dan mobil
di genangan air jalan raya. Gerimis baru reda.
Ibu
muda itu terlihat sedang dipapah oleh pria berkamata. Mereka memadu kasih di
pelataran rumah. Pria itu mengelus perut istrinya yang tengah hamil. Ia lalu
mengecup dahinya dengan penuh kasih saying. Seakan mengatakan kalau ia bersedia
menemaninya sampai kapanpun. Sayu-sayup angin senja membelai kehadiran mereka.
Mereka tersenyum sembari berpandangan. Lalu si pria tadi mengeluarkan earphone.
Samar-samar, music classic norah jones terdengar. Dengan sedikit sentakan
halus, ia menyentuhkan earphone itu ke perut istrinya.
Sang
istri hanya tersenyum. Ia turut membalas perlakuan suaminya dengan cara
mengusap kepalanya. Mereka berdua larut dalam suasana hening. Berhara alunan
music yang mereka sentuhkan tadi dapat didengar oleh sang anak yang masih
didalam rahim. Mereka ingin berbagi keindahan. Dan menyatulah mereka dalam
kebersamaan yang menghangatkan.
“
apa dia mendengar bahasa kita mas “
Sebuah
pertanyaan meluncur halus dari bibir wanita itu.
“
tentu .. music ini adalah pesan yang mewakili bahasa kita. Karna sejatinya
music adalah bahasa. Dia pasti mendengar. “
si
suami menenangkan istrinya dengan sebuah filosofi tentang kehidupan.
Kemudian
bulan pun berlalu. Berganti waktu mengantarkan mereka pada sebuah peristiwa
berseajrah dalam hidup mereka. Di suatu malam, ketika sang suami pulang
mengguba h aransemen nada, ia mendapati sang istri tengah kesakitan dikamar. Ia
panic bukan main. Melihat sang istri memegangi perut sambil meringis, ia
terkejut. Dan ia paham bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. tanpa menunggu waktu lama ia membawa istrinya menuju rumah sakit bersalin.
Sepanjang jalan ia berusaha meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik
saja. Sang istri hanya menggennggam erat jemari suaminya saat mobil serena hitam itu akhirnya tiba dilobi rumah sakit.
Pria
itu begitu khawatir saat melihat rintihan istrinya di ruang bersalin. Ia tak
kuasa mendengar kepedihan itu. Berulang kali ia ingin masuk, tapi suster
menahan langkahnya. Karna proses berikutnya adalah hal penting. Tadi ia sudah
sempat membisikkan kata-kata kuat di telinga istrinya. Dan ia berjanji akan
selalu ada disampingnya. Tapi ketika ia disuruh keluar sebentar ia jadi risih.
Namun ia menyerahkan sepenuhnya persoalan itu pada dokter. Lama berselang, ia
memutuskan menenangkan diri sembari duduk bersandar di sebuah kursi. Jemarinya
menggenggam kepalanya.dan sesekali ia mendesis sambil melirik layar kaca
dipintu. Namun tirai belum juga disingkapkan.
Tiba-tiba
… pukul 12 malam, suasana mendadak terang benderang baginya. Ia merasakan
denyut nadi kehidupan bertedak kencang dalam dadanya. Matanya berbinar, dan ia
rasakan seluruh tubunya gemetar menahan gemuruh itu. Dengan keadaan bersuka
cita, telinganya jelas-jelas menangkap Sesuatu. Sebuah tangisan mendayu-dayu
dari anak pertamanya. Tangis itu …. Seakan membuatnya tertawa. Lalu ia
berhambur saat dokter keluar dengan raut wajah bercahaya. Beribu pertanyaan
keluar dari mulutnya dengan antusias. Melihat itu, dokter jadi tertawa sendiri. Ia tak
memjawab pertanyaan tadi. Namun ia membukakan pintu lebar-lebar, mengembangkan
lengannya kea rah seorang suster yang tengah memeluk seorang bayi putih bersih.
Sang
dokter hanya bisa tersenyum melihat laki-laki itu bergetar-getar hebat menyaksikan geliat manja bayi itu. Sejenak ia tampak gugup. Namun perlahan-lahan wajahnya merekah. dan air mata itu mengalir hangat di pipi saat bayi kecilnya terdiam didekapannya.
Berjuta rasa berkecamuk saat nafas bayi itu
menyatu di dadanya. Tak terasa, air matanya mengucur deras. Anak pertamanya
telah lahir ke dunia. Bayi itu berkening luas. Persis sepertinya. Tangis bayi
itu semakin kuat. ia tertawa sambil mendongakkan kepalanya ke atas ubin-ubin
ruangan yng pucat. Sepucat wajah bayi mungilnya. Istrinya tersenyum melihat
itu. Saat tangisan bayi itu makin keras, sang suami mengecup keningnya sebelum
ditidurkan di sisi istrinya. Mendengar tangis itu, mereka berdua berpelukan.
Tangis itu kemudian terurai menjadi nada-nada merdu. Maka terbesitlah sebuah
nama di awal subuh bertepatan dengan tabir surge yang dkmandangkan muazin saat
azan. Sebuah kombinasi alunan nan merdu dari surga. Bisikan itu kemudian
bergema dihati mereka. Bayi itu, gadis kecil yang jelita itu diberi nama “ Aluna Sagita “.
0 komentar:
Posting Komentar