Kamis, 31 Mei 2012

Kesan Mimpi nan lalu


            Kota ini masih saja tetap sama. Dan kenangan itu, masih jelas membekas dipelupuk mata. Jangan katakan nostalgia masa lalu mampu mengobati apa saja. Karna bagiku, justru romansa seperti inilah yang membuat batinku kian tersiksa.
Udara basah disini tak jua berubah. Gerimis, deru angin, embun dikaca rumah, pantulan lampu mobil dijalan, kucing yang menguap malas, dan kesenyapan ketika hujan menyapa, perlahan melemparkan aku lagi pada cerita masa silam. Aku kemudian melepas rindu pada bulir gerimis yang bertebaran dikota ini. Berjalan pelan menjejakkan langkah guna meresapi kesejukan alam nan menentramkan.
Di tepi perbukitan inilah udara sejuk itu dulu pernah kuhirup.
Indah tak terperi.
Dari atas sini, hilir mudik kendaraan samar-samar tersingkap dari celah rerimbunan hijau dibawah sana. Mobil-mobil besar berarak pelan, berjejer panjang tak putus-putus dengan mesinnya yang meraung-raung berat. Hutan alam terhampar indah. Terlukis sempurna seitaran mata memandang. Riak sungai singgalang, kayu lapuk berserakan, ranting kering dipembatas jalan, kera-kera berkeliaran, bau basah pegunungan, dedaunan teduh nan berjuntai beriringan, hingga hempasan air terjun lembah perbukitan, kian kentara saja merebak dalam jiwa. Keindahan ini lantas menjebakku. Hingga tiba-tiba, kerinduan tentang seseorang seakan mendekapku dari dalam.
Kubuyarkan lamunan itu, lalu kutekan gemuruh rasa sesak dalam ruang didada. Ini begitu sulit. Entah kenapa aku masih belum siap.
Aku menuju rumah sambil melipat lengan. Hawa dingin seketika menyergap. Begitulah kota padang-panjang bila gerimis merekah. Kusapa orang-orang yang kutemui. Mereka tersenyum, membinarkan bola mata, dan kembali melontarkan sapa padaku. Senyuman selamat pulang, senyuman lama tak bertemu, dan senyuman penuh rindu kini bersemi didepanku.
Brrrr,, 
Tiba juga aku dikota ini. Tapi mengapa dadaku sesak ?
Aku berlalu dari mereka dengan susah payah guna menyembunyikan kemelut perasaan. Pura-pura lupa dari segalanya bukan perkara mudah, dan kegetiran ini tak akan lenyap begitu saja.
“Tenanglah, rasa itu tak sedikitpun salah.” Demikian bisik embun dipipiku.
            Alam ternyata tahu! Mereka akhirnya tahu apa yang kupendam. Tapi bukankah mereka cuma sekedar tahu ? Tak ada yang mampu memahamiku. Tak akan pernah, bahkan dia sekalipun tak akan pernah mau tahu. Dan aku tak akan mau menyuarakannya.
Kenangan itu makin mendekat.
Kulihat oma tengah tersenyum di pintu depan. Ia ternyata menungguku. Yah, wanita tua itu makin termakan usia saja. Aku balas tersenyum, melambaikan tangan, berusaha meresapi kehangatan yang tulus berasal dari hatinya.
Selalu begitu, selalu pancaran itu terkuak dari wajahnya. Bahkan semenjak dulu, ketika ia mau berbesar hati menerima keberadaanku dirumah ini.
 Rumah ku yang hangat, rumah keduaku yang damai. Meski dari jauh, rasa rindu itu sudah menelusup dalam kalbu. Apa daya, Justru dari bangunan tua inilah kenangan lama itu bersemayam di hatiku.
Kini aku pulang.
Kusalami beliau sambil tak lupa mencium tangan kurusnya. Ia mempersilahkanku masuk, lalu berlalu sesaat meninggalkanku sendiri diruang tamu. Tak lama, ia datang lagi sembari menyuguhkan segelas teh hangat untukku. Kebiasaan lama di penghujung senja. Kutiup kepulan asap dicangkir itu, kuseruput perlahan, lalu ku awali pembicaraan sore itu dengan bertanya seputar kabar oma, rekontruksi rumah, dan jualan kecil-kecilannya. Jawaban beliau masih saja tentang arisan, tensi tinggi, encok dipersendian, sakit magg, tidur yang tak pulas, hingga keluh-kesahnya tentang si sultan, cucunya yang selalu malas bersekolah.
Perbincangan kami terus berlanjut hingga senja berlalu. Dari penuturan panjang lebar beliau, aku akhirnya tahu, bahwa semenjak aku dan teman-temanku tak lagi tinggal disini, rumah jadi terlihat sepi. Tak ada lagi ribut-ribut dipagi hari, kehebohan ketika antri mandi, diskusi, take suting, debat politik yang ujung-ujungnya ngawur, makan malam bersama, hingga menertawakan sesuatu yang tak masuk akal, kini memang tak terlihat lagi. Kebersamaan itulah yang kerap dirindukan oma.
Mendengar penuturan tersebut, mataku jadi berkaca-kaca. Cerita lalu mengalir begitu saja. Dan kenangan itu kian terbesit dikepala. Sesaat .. lamunanku terlempar ke dalam dimensi ruang dan waktu.
Ingatan itu masih jelas, dan kepingan kisah itu masih tersimpan rapi dirumah ini. layaknya beberapa tahun yang lalu.
Tak terasa, hari telah larut malam.
Oma sudah berulang kali melihat aku menguap. Aku disuruh istirahat saja. Mataku memang sudah lima watt. Maklumlah, rasa penat dan lelah di atas bus tadi membuat rasa kantuk kian menyergap. Kukatakan pada oma, aku ingin tidur dikamar belakang saja. Ia menatapku heran, bukankah kamar itu sudah lama tak ditempati ? Aku hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa oma ..” Ujarku singkat.
Gagang pintu kuputar, aroma kesejukan seketika menyeruak, lalu terbukalah serpihan kenangan itu.
Lihatlah .. kamar ini belum banyak berubah. Sama persis dengan yang kuingat terakhir kali. Hanya saja poster itu tak lagi ada, dan selembar foto dia, tak lagi kusimpan dibawah bantal, seperti waktu dulu.
Aih,, andai dia bisa tahu, disinilah perasaan itu mekar berbunga. Dan di tempat inilah dulu aku pernah berkisah tentang rindu, dari semua, dan terutama, tentang dirinya.
Mata ini kupejamkan. Tapi aku masih gelisah. Bayang itu kian berkelebat di pikiranku. Kupatut posisi bantal, kuselimuti separuh wajah, percuma. Kuresapi sayup-sayup suara jangkrik di luar rumah, tak mempan juga. Padahal tadi, rasa kantuk bertubi-tubi menyerangku. Aneh!
Ini karna sebuah nama di kusen jendela. Ku ukir tiga tahun lalu.

-Aluna- -

****
 


Minggu, 18 Maret 2012

Diaz Madun


            Ia menebar berita itu dengan deru-desah nafas yang memburu di ujung telfon sana. Untaian kata kemenangan nan terlalu menggelora untuk dikoarkan. Aku turut bersuka cita mendengar ucapan penuh takjub darinya, karna sesudah penantian yang cukup begitu lama, cecunguk gila itu akhirnya diberikan kemudahan juga untuk mengecap manisnya mimpi yang telah susah payah ia pelihara.
            “Gue dikontrak cui … , bulan depan udah bisa take shuting!! Gila ... !!”
            Aku mematung mendengar berita itu tak ubahnya bak gelegar sambaran petir yang begitu membahana. Berita itu membuatku terkejut bukan main. Ku ucap asma allah berulang kali, tak putus-putus terucap dihati, lalu langit biru kupandang … kutahan bendungan air mata sembari mendongakkan kepala ke atas sana. lalu kuhaturkan rasa kagum akan mukjizat dari langit yang penuh kejutan. Maha suci engkau yang Allah, ternyata mimpi lama itu terpeluk juga. Tak percuma rasanya bila dulu ia pernah sesumbar menjanjikan harapan itu setinggi langit. Dan akhirnya, keajaibanpun kini mulai tersingkap dengan sendirinya dari jubah kebesaranMU nan penuh keagungan itu.
            “ Kau yakin teman ? benarkah dari sekian ratus orang yang ikut seleksi, engkau termasuk kedalam segelintir makluk beruntung yang berjumlah dua puluh empat orang itu ? 
             Kupastikan kabar baik itu padanya. dan ternyata semakin pasti pula ia memberi kebenaran akan nasib baik yang telah memeluknya. Dadaku bergemuruh mendengar ia menasbihkan pengejawantahannya akan filosofi sebuah mimpi yang realitanya seolah tak terbantahkan lagi. 
            “ Kau percaya Allah cui ? Benarlah kiranya Allah yang agung itu selalu menyimpan rahasia mimpi kita dalam pelukan kasih sayangnya. Bukankah allah menyukai hamba yang meminta apapun darinya ? Inilah bingkisan dari tuhan akan harapan yang kutitipkan pada langit dulu, ketika dunia luar tertawa mematahkan semangat mimpi kita.”
           Ia terdiam untuk sesaat. Jelas sekali derai tangis keharuan itu ia sembunyikan melalui setiap getaran lirih suaranya. Perasaanku terenyuh, kurasakan jiwaku juga bergejolak ingin menumpahkan air mata kemenangan yang telah sekian lama kuragukan kedatangannya. Kudengarkan dengan seksama kata-kata penuh rasa syukur itu.
            “ Alhamduliilah.... Gue bener-bener lulus audisi itu cui !! Di serial Tendangan si Madun gue dikontrak dua tahun. Ini benar-benar diluar dugaan. Ga kebayang Allah mendengar do’a gue secepat ini.”
            Kemudian ia menuturkan berita bahagia itu dengan segenap perasaan gegap gempita. Ia mengatakan bahwa film Tendangan si Madun yang identik dengan juggling bola atau lazimnya disebut free style itu sangat butuh pemeran tambahan. Karna itulah diadakan seleksi panjang hingga diikuti oleh ratusan komunitas free styler di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, saking ketatnya audisi, banyak ajang ini mengikut sertakan komunitas-komunitas free styler hingga dari daerah luar yang juga berkualitas jauh di atas standar rata-rata. Selain tingkat persaingannya yang begitu tinggi, persentase kelulusan audisipun hanya terbatas pada dua puluh empat orang finalis akhir saja. Maka mendengar ia termasuk dari yang dua puluh empat orang itu, tak ayal begitu membuat aku terhenyak dilamun kenyataan, bahwa betapa sahabat lamaku ini telah selangkah lebih maju menuju puncak karir tertinggi dalam pendakian gemunung mimpinya.
            Aku masih ingat saja ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika aku dan dia sama-sama bermimpi selangit untuk menaklukan dunia glamour selebritas nan begitu menjanjikan itu. Kami pergi kesana kemari, berpanas-panasan mengunjungi alamat Production House diberbagai tempat, kehausan, kelaparan, terjebak macet tak sudah-sudah, antri berjam-jam menunggu giliran, hingga berbalas rasa sakit karna ditolak mentah-mentah. Tapi semua itu belum dapat membuat kami surut. Tak sedikitpun keadaan itu memaksa kami jera agar menyerah begitu saja. "kesempatan pasti datang" selalu kata-kata itu yang terngiang dikepala kami  Masih ada jalan lain, dan itu bisa dimulai dari cara apapun. Karna itu tak henti-hentinya kami mencari tahu segala informasi kapan, dimana, dan tentang apa sebuah casting dilangsungkan. Dimanapun tempatnya. Semua kami lalui dengan pengorbanan yang sungguh-sungguh tak dapat dipahami logika.
            Kami bahkan rela melepas masa depan kami yang begitu menjanjikan. membuang-buang percuma waktu, tenaga, materi dan kehidupan yang menyenangkan. Kepedihanpun seolah melengkapi penderitaan ini manakala bisikan-bisikan menyakitkan itu berhembus memuakkan dari dunia luar. Pesimistis kembali merebak dihati, lalu bertebaran menusuk ulu hati hingga mematahkan semangat kami untuk bermimpi. Orang-orang pun tertawa. Keluarga tercintapun bahkan tak setuju dengan jalan pikiran kami yang penuh hasrat gila ini. Tapi anehnya, itulah yang membuat kami kembali kuat. Karna apapun bentuk rintangan yang datang menghalang, selalu saja kami percaya bahwa nanti disuatu saat, jalan itu akan terbuka, dan mimpi itu pasti akan menjadi realita.
            Kini setelah sekian lama kami memilih untuk tetap melanjutkan cita-cita, meski dijalan dan tempat yang telah berbeda, disaat kami pincang berjalan karna keadaan memaksa kami untuk berpisah, akhirnya bayang-bayang masa lalu itu perlahan mulai menampakkan keajaibannya. Dan meskipun masih sebatas hal yang wajar-wajar saja, namun kami sadari dihati bahwa inilah awal dari perjalanan menggetarkan kami untuk kedepannya menggenngam mimpi. Dan baru saja mataku telah dibuka oleh kebenaran keyakinan ini, dari bisikan sahabat lamaku dulu, yang perlahan tapi pasti, ia sudah semakin dekat selangkah ke atas puncak mimpi-mimpinya.
            Sahabatku ini bak lounger sejati dalam hidupku. dan ia tidak sama seperti orang kebanyakan. rasanya sudah sejak lama sekali aku mengenal siapa dia. kehidupan kami selalu berjalan bersamaan, termasuk ketika dulu kami melalui ujian itu dengan tertatih tak berdaya. kami bahkan satu ambisi, satu cita-cita, dan satu keyakinan untuk menatap perjalan masa depan. dan untuk menuju semua harapan itu kami tuangkan dalam indahnya sebuah mimpi. lama aku dan dia satu arah dalam menuju dunia itu, sebuah dunia tak tersentuh yang tiada seorangpun mengerti jika bukan diri kami sendiri. tapi semua itu memudar, pupus, lenyap ditelan waktu, hingga tenggelam jauh kedasar samudra keputus-asaan karna dihadang oleh berbagai kedaan yang menuntut tanggung jawab dari kami. Hingga akhirnya waktu harus membuat perjalanan itu usai dan mau tak mau keputusan menyesakkan itu terpaksa harus kami ambil saja. Biarlah untuk sementara kami memilih jalan dulu sendiri-sendiri, hingga akhirnya, aku dan dia memutuskan meninggalkan saja semua kenangan lama kami, cita-cita kami, dan harapan kami tentang kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. ia memilih tetap melanjutkan kehidupannya ditempat tersebut, dikota mimpiku itu, sedangkan aku, akhirnya malah kembali pulang kerumah untuk menggeluti dunia lamaku yang menjenuhkan, dan sebisa mungkin selalu kuusahan untuk kujalani dengan sepenuh hati. Dengan harapan, aku dapat belajar menerima kenyataan hidup dan berharap pencerahan itu datang melalui makna yang tersirat dibalik segala beban kehidupan yang silih berganti datang menghampiri diri.

               Sebenarnya teramat menyakitkan sekali ketika sahabat lamaku ini nyata-nyatanya telah semakin dekat saja satu langkah ketempat mimpinya berada. barangkali hanya butuh beberapa jengkal lagi, maka dapat kupastikan ia akan menggenggam segala apa yang ia cita-citakan semenjak lama. dan semuanya hanya tinggal menunggu saatnya saja, ketika penaklukan gilang-gemilang darinya benar-benar indah pada waktunya. maka terberkatilah kehidupannya. Sementara aku, hingga kini masih saja berada dalam bayang-bayang mimpi yang entah kapan akan segera tiba menyertaiku.
            Disatu sisi aku begitu bangga padanya, terharu bila teringat kembali akan kisah lama yang berlika-liku dalam perjalanannya yang teramat menggetarkan jiwa akan segala rintangan dan hadangannya. tapi tak dapat juga kubohongi hati ini, bahwa disatu sisi lain aku teramat terenyuh menahan kesedihan yang mendalam. aku terbata digerus rasa melankolis yang menusuk ulu hatiku, bahwa dibalik kemenangannya untuk mewujudkan segala ambisi mimpinya, aku yang dulu juga pernah berkoar bersamanya malah masih belum dapat apapun jika dibandingkan pencapaian mendebarkan seperti apa yang ia bisa. pada akhirnya, ketika berita itu berhembus melalui bisikan-bisikan kemenangannya, tak ayal kata-kata yang terlontarkan darinya begitu menyanyat pedih relung jiwaku, tak ubahnya seutas celurit yang menebas tak bersisa dedaunan talas yang berterbaran ditepian tambak harapan lamaku.
            Aku selalu berusaha membesarkan hati agar ikhlas menerima nasib baik satu sisi ini. meskipun tabir mimpi harapan dulu masih belum dapat memihakku seperti dia. namun butuh ketegaran lebih untuk menelan pahitnya ketertinggalanku itu mentah-mentah. tak tahu kenapa, dan aku resah memelihara rasa ini bersemayam dihatiku. tak pantas rasanya aku yang sebagai sahabat malah menyambut berita baik itu dengan segala kekalutan hati. tak seharusnya aku masih juga mengedepankan ego ku yang harus pula bernasib bak pinang dibelah dua seperti dia. dimana aku juga yang harus menerima nasib baik yang sama. Aku berusaha memandang keadaan ini dari satu sisi yang berbeda, tapi semua itu seolah karam dibenamkan hasrat keangkuhan hati yang kerap  mengandaikan segala sesuatunya harus bermula dariku, termasuk berita keberhasilan yang sangat tidak adil bila aku masih saja harus meratapi penundaanku akan masa-masa gemilang tentang mimpiku. maafkan aku teman, hingga kini aku masih selalu menganggap bahwa akulah yang terbaik darimu.
            Butuh waktu lama bagiku menegarkan diri agar batinku berlapang dada menerima kebahagiaan satu sisi ini. aku memang merana, tapi aku selalu berusaha sabar untuk meredakan gejolak jeritan tak adil yang menggema dari jiwa yang menangisi mimpi dalam sepi. sulit pasti. tapi bukankah segala sesuatunya bermula dari allah, sang penguasa alam ? maka tak ada yang pantas dilakukan selain aku cepat-cepat bersimpuh memohon ampunan di permadani keharibaannya yang begitu membuatku merasa hina dina dihadapannya. aku harus mengerti sekaligus memahami, bahwa ternyata sekujur tubuhku masih saja dilumuri dosa yang tak dapat kupahami dan kumengerti. Aku bukanlah memang tanpa apa-apa dibandingkan kebesarannya. Karna mau bagaimanapun, tetap aku hanyalah makhluk kecil yang tak punya daya upaya jika ingin  memutar balikkan segala kenyataan itu agar bersemi indah layaknya apa yang aku mau. maka kenapa pula aku harus menggenggam erat kepala ini sembari berteriak protes kepada langit nan berlapis-lapis disana ? astagfirullah ... maafkanlah hambamu ini yang ya allah. sungguh iblis telah memperdaya kembali jiwa yang berlumur dosa-dosa ini.
            
            Kini aku sudah mencoba agar aku tegar menerima kemungkinan-kemungkinan itu nanti. termasuk ketika nanti dunia luar terkekeh geli menertawakan semua kesembronoanku yang masih saja bergelut dengan kebodohan tetap memelihara mimpi, sementara hasilnya nihil. belum lagi ketika tawa itu semakin meledak menjadi-jadi disaat malah teman dekatku sendiri yang justru kehujanan puncak karir dari manisnya mengecap mimpi. aih, inilah yang benar-benar tak dapat aku bayangkan nanti. entah mau kukemanakan raut wajah sembab berguguran air mata kekalahan ini nantinya. aku bisa saja menyembunyikan semua luka itu dalam senyum yang dipaksakan, tapi tetap saja guratan frustasi itu akan muncul juga tanpa kusadari. dan akhirnya, tawa cemoohan dari mereka yang menikmati kemenangan, sikap simpati yang begitu memuakkan, tatapan empati, bisikan mengibur diri dan tepukan dipundak yang mengisyaratkan dunia ini hanya sandiwara belaka yang tak harus ditangisi, malah semakin terbayang-bayang dimataku hingga membuat aku tergugu menebak masa depan. akankah kepahitan dalam hidup itu membuat masa tuaku tak berarti lagi ?
            Dan biarlah semua itu berlalu, seolah gugurunya dedaunan kenangan dihamparan ladang yang ditinggalkan. terkadang pencerahan itu datang tak jauh-jauh. semua dapat dipahami melalui alam yang terhampar dipelupuk mata. aku mungkin bisa belajar kehidupan dari pepohonan disana, angin yang berhembus menyapa, tetes hujan di pelataran rumah, pantulan wajah di kolam, dan awan-awan kuning yang berarak pelan. ketika udara sejuk itu kuhirup, aliran itu seketika menjalar memenuhi rongga dadaku. kurasakan jiwa ini membeku dalam keheningan perasaankku tentang mimpi. maka selalu kukatakan dalam hati, biarlah aku luruh seperti sehelai daun yang jatuh kedasar bumi karna tertiup angin, biarlah adanya seperti itu. barangkali seperti inilah kehidupanku nanti, meskipun berjuta-juta harapan yang kutitipkan ke angkasa sana, tapi jika memang sang pencipta yang agung telah menetapkan lembaran takdir lain bagiku, aku hanya dapat mengelus dada untuk membujuk diriku. bahwa seperti inilah aku apa adanya. Bukankah disini aku bisa bernapas dengan lega, memejamkan mata dengan penuh kedamainan, dan bersandar dihamparan rerumputan yang menghangatkan. Dan bilapun mimpi kembali terbesit dikepalaku, dan ketika sosok penghuni mimpiku itu tersenyum melambaikan jemarinya kepadaku, maka sungguh aku akan mengiklaskan semua itu nantinya, dan senyuman manis yang menyejukkan jiwa itu juga akan kubalas, kubalas dengan sepenuh hati, seperti melihat bidadari nan cantik jelita melalui jembatan penghubung dua dunia, seperti nestapanya aku yang menikmati keelokan senyumnya dari balik kaca antara mimpi dan realita.
Biarlah seperti itu saja ........

Minggu, 19 Februari 2012

Jakarta , Kota Mimpiku

-->
        
         Gerak lakunya indah bersahaja. manis, dalam rekahan senyumnya nan santun menggoda. ia menatapku, lalu hatiku bergetar dilamun asmara. ia tersenyum lagi, aih, aku demikian berbunga-bunga. kembali alunan sebuah lagu itu terngiang dikepala. menyesakkan ruang didada saja. ku untai berangkai-rangkai puisi mesra disana, dari relung sulbiku, dan kulantunkan menjadi sebait lagu nan penuh dinamika cinta. Lalu anganku bersajak. Bahwa aku rindu lagi tempat itu, rindu lagi udaranya itu, saat bibir tak mampu berucap, ketika lidah tak cakap lagi mengeja. Maka aku telah remuk dalam tatap mata sayunya, terpesona kala bias wajahnya merona. Kukenang kesan itu sejenak, tak terlupa, masih membekas dipelupuk mata. lalu aku terenyuh, terbata digerus rasa yang tak jua mereda. 


          Disinilah mimpi itu bermula, tentang aku, kamu, dan para sahabat lama. Embun sejuknya bertaburan, berbulir indah diatas rekahan sekuntum bunga. Kuhirup udara hangat itu, kugenggam tanah  halus itu, lalu kenangan memelukku. 


          Dan dikota ini aku telah lama membiarkan mataku terbuka, di dalam keheningan perasaan, disela waktu yang bergulir tak peduli. Perasaan itu kian remuk saja ketika kusaksikan butir-butir debu menghempaskan kedua kelopak mataku yang terurai basah. Maka ingin kutenggelamkan kenangan itu bersama waktu, lalu membiarkan diri ini bersama kelegaan, bersama rasa sejuk dan kedamaian yang telah sekian lama aku rindukan. Namun tetap saja air mata itu mengering, karna rasa sakit yang begitu pilu telah menusuk  keyakinanku, lantas melukai perasaan itu dengan sayatan sembilunya agar kulupakan saja semua mimpi. Dan ini teramat sulit... begitu sulit sekali... Karna bayangan gadis nun jauh disana itu senantiasa muncul menghantuiku, membuatku merasa sepi tak terkira, dengan dengungan sebuah lagu rindu ditelinga, disela tangis harap nan menetes meluruhkan jiwa.  

Entahlah,, Dia selalu saja datang padaku, disetiap saat dalam imajinasiku, bahkan tanpa aku minta, dan tanpa aku panggil.


         Kini tak ada yang berubah di kota ini. maka untuk mengenang kesan itu sejenak, biarlah kuhirup kembali udara sepi bertabur rindu ini disekelilingku. Karna dihati kecilku, bisikan itu terus saja menggema, lalu meniupkan hasrat semu dikalbuku.

Ya,,
Kumohon tunggulah,, kisahku akan berlabuh disana.

Sabtu, 18 Februari 2012

Kotak Musik Gita

             Melihat keunikan buku kotak musik gita yang persis menyerupai sebuah kaset lagu, aku jadi menganalogikan buku ini seperti sebuah Cassette Recorder yang dapat ku mainkan sendiri di Portable Music Tape hayalanku. Andanari Yogaswari yang pada mulanya adalah seorang Penulis, malah kugambarkan seolah-olah sang Composer musik Orchestra yang begitu handal mengaransemen penulisan katanya menjadi alunan musik yang lebih hidup, lebih mengena dan mampu menjangkau sisi tak tersentuh dari kepekaan pengamatan kita tentang pentingnya arti sebuah kehidupan. Kemasan bukunya yang begitu menarik, lugas serta ekpresif, sanggup mengupas tuntas tentang sisi menarik dari kehidupan seorang aluna sagita gutawa yang sukses di usianya yang begitu muda. Hal itu lantas membuatku merasa bahwa buku ini adalah bacaan yang tepat untuk aku jadikan ukuran, sudah sampai sejauh manakah pencapaian ku selama ini? Aku berasumsi - jika memang ada bangsa yang begitu merindu akan kemunculan lahirnya Generasi terbaik di Ranah Pertiwinya, maka buku Kotak musik Gita ini perlu dijadikan Referensinya.




             Seperti sebuah Album lagu, aku benar-benar telah terlarut dalam warna-warni seputar kehidupan aluna sagita gutawa. Tak dapat kupungkiri, aku seakan dibuat tersenyum sendiri ketika secara bergantian memutar ulang Side A hingga Side B buku karya Andanari Yogaswari ini dalam imajinasiku. Penuturan Gita yang begitu transparan telah membuat aku tenggelam dalam kehidupannya, lalu serta merta terbawa ke dalam kesehariannya. Sehingga dengan jelas, Portable Musik hayalanku tadi secara teramat nyata menggambarkan Klipnya padaku, dengan transformasi foto-foto masa kecil hingga remaja Gita sebagai visualisasinya. Disana aku melihat prinsip hidup yang begitu tertata rapi, penuh warna dan selalu berirama. Prestasi luar biasa yang ia capai seakan membangunkan aku dari tidur panjang. Dan aku sadar, ternyata aku masih tertinggal jauh darinya. 
               Bukan itu saja, selain mengispirasiku kembali, dia juga telah memberikan pencerahan padaku, lantas mengajarkan aku agar bagaimana menghadapi hidup yang sesungguhnya, tanpa pernah mengesampingkan kewajiban lain yang seperti tidak ada habisnya. Keluarga, Persahabatan, dan pendidikan, semua juga punya arti yang sedemikian besar untuk di selaraskan menjadi sebuah Prioritas. Belum lagi pelajaran-pelajaran lain yang selalu dia berikan padaku sebagai modal utama menjalani sebuah kehidupan. Seperti mengatasi rasa malu, bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil, tetap semangat, pantang menyerah, tak sungkan mencoba serta percaya bahwa mimpi itu akan menjadi nyata, semua kian mengakar kuat di benakku.
 
              Entahlah, mungkin tak lagi dapat kujelaskan, kenapa setiap kali aku membaca buku Semi Autobiografi gadis ajaib ini, semakin kentara pula rasa ingin berubah menggeliat dalam diriku. Begitupun dengan berbagai pelajaran moral lain yang terus saja kudapat hingga pemutaran side B buku kecil ini berakhir. Saat kisah menawan itu benar-benar usai, aku seakan dibuat tersentak, dan seketika itu aku seolah menjauh dari kehidupan nyata Gita sehingga terlempar kembali ke dalam kehidupan ku semula. Saat aku benar-benar kembali, awalnya kurasa hidup ini tak kan bisa di perbaiki lagi karna kelalaianku yang selama ini terlalu susah untuk aku akhiri. Namun buku ini seakan bernyanyi kembali untukku, memberikan arti tersendiri buatku, baik itu perubahan, pencerahan serta kemauan yang kuat untukku belajar bagaimana menapaki kehidupan ini dengan lebih baik lagi di masa depan nantinya. Belum ada kata terlambat, masih ada hari esok.. Buku ini bilang – “Gita bisa, kenapa kita tidak?”-

Kamis, 16 Februari 2012

Aluna Sagita

--> 
           Dulu, ketika lamunanku tertaut ke dalam alunan sebuah lagu, aku yang kala itu tengah blingsatan mencari jati diri, ternyata masih terlalu lugu untuk mengenal cinta semenjak dini. Menurutku, perasaan itu masih sebatas hitam dan putih. Maka kuterima saja rasa itu mentah-mentah ketika aku terlarut dalam dunia kecilnya dibalik kaca. Aku bahkan tak pernah tahu, jika pada akhirnya, keputusan itu jualah yang menyebabkan aku terpuruk dalam nestapa yang tak berkesudahan. Ia begitu mudahnya membuat aku luluh, meremukkan harga diriku lewat seulas senyum, dan menggetarkan hatiku melalui sebuah lagu. Aku tak memikirkan apa-apa ketika dulu ia menjebakku dengan binar bola matanya yang bening. Dan yang aku ingat, ketika itu ia terlihat jelita dimataku.  

           Dialah wanita yang membuat aku lupa akan segalanya. Seorang gadis mungil dengan sejuta pesona. Apalagi ketika ia tengah tertawa manja, akan ada getaran hangat menyusup dalam hati. Disudut bibirnya yang ranum itu, selalu terselip secercah gingsul mungil yang semakin terlihat memukau kala ia tersipu malu dengan rona wajah yang memerah. Raut wajah yang melenakan, karna dengan siapapun ia bicara, senyumnya yang manis itu tetap akan tersaji dengan indahnya.
            Ia belum beranjak dewasa kala aku melihatnya untuk yang pertama kali. Mungkin baru berusia sekitar tiga belasan tahun. Namun ia sudah terlihat dewasa dimataku. Sikap manjanya, rengekan lembut suaranya, raut wajah malunya ketika dirayu, dan sifat kekanakannya yang lucu, tak urung telah membuatku jatuh hati padanya. Aku semakin tak berdaya ketika pada saat pementasan musical waktu itu, ia yang dengan suara merdunya turut menyanyikan sebuah lagu sembari menekan tuts-tuts piano dengan gemulai lentik jemari mungilnya. Penampilan atraktif yang begitu memukau dan membuatku terpasung dalam kekaguman yang meluluh-lantakkan perasaanku. Hanya dalam sekejap mata saja, aku yang sebelumnya ragu membuka hatiku pada wanita lain, kini malah dibuat bertekuk lutut dihadapan pesona gadis ayu ini.



            Aku akhirnya menyadari, ternyata hasratku begitu menggebu untuk semakin mengenal siapa dia sesungguhnya. Aku makin tak dapat lagi mengelak, bahwa pesonanya itu telah membuatku terhanyut dalam buaian nada indahnya nan merdu. Tatapan matanya begitu hangat, merenyuhkan jiwa, menjalari denyut nadi, hingga menelusup lembut menyentuh kalbu. Ia serta-merta menghipnotis pikiranku, karna dimanapun aku berada, senyumnya nan manis itu kian terasa akrab di imajinasiku. Kemanapun aku melangkah, kehadiran bayangnya yang semu seolah enggan berpaling dariku.
Masih jelas kuingat, sejak kejadian dihari dulu itu, disebuah pertunjukan live performanya dibalik keanggunan gaun putihnya, sejak itulah rasanya aku dibuat terbius lalu tenggelam dalam jerat kerinduan hati yang begitu menggelora. Tak butuh waktu lama aku menyukainya, dan ini begitu tak biasa. Ingin aku mengungkapkan hal ini kepada orang-orang disekelilingku, ingin aku berkisah mencurahkan perasaan ganjil ini pada mereka, mengeluhkan keadaan hati yang sudah lama tak dipenuhi rasa, bertanya-tanya, apakah mungkin aku benar-benar telah jatuh cinta padanya? Atau apakah mungkin batas kenyataan mimpi itu tak lagi ada, sehingga mudah saja aku cenderung mencintainya? Namun hasrat tersebut urung kulakukan karna pasti menurut mereka, aku sudah terlampau jauh bermain-main dengan anganku.
            Lama aku bergelut dengan rasa ini. Suatu perasaan aneh yang kupendam seorang diri hingga perlahan telah menjelma menjadi rasa cinta terlarang dalam hati. Aku tak ingin dibilang punya harapan setinggi langit, sementara aku tak kuasa mewujudkannya. Aku begitu takut memelihara rasa tak wajar itu, karna pada kenyataannya aku memang telah terlalu jauh dibutakan mimpi yang tak masuk akal. Kerap aku dibuat sengsara oleh rasa aneh ini, bahwa disetiap saat aku selalu berharap dalam angan semuku agar semua ini dapat kuungkapkan mesra dihadapannya. Namun seiring waktu berlalu, melihat takdirku yang terkuak pilu, timbul keraguan dalam diri, bahwa semua itu telah berujung menjadi satu kesimpulan ambigu. Dan ini makin menyesakkanku saja,  karna mau tak mau, aku harus menerima julukan absurd itu, bahwa aku ini, tak lain dan tak bukan, hanyalah seorang pungguk tak tahu malu yang coba-coba merindukan bulan.  
Selain itu, kenyataanpun berkata lain, karna diantara kami berdua terbentanglah sebuah perbandingan mutlak diantara dua dunia yang berbeda. Dia begitu jauh dari kehidupanku, dan sama sekali bukanlah berasal dari kalangan orang sepertiku, melainkan jauh sekali diatas tingkat kasta statusku yang rendah. Biasanya anganku akan menciut bila kenyataan pahit itu terbayang lalu terurai menjadi beban dalam diri lantas makin berkecamuk hebat dihati, bahwa ceritaku ini tak ubahnya hanyalah replikasi saja dari cerita Aladin dalam kisah Negri seribu satu malam yang terkenal itu. Bedanya, nasib lebih memihak jalan kisah mereka, sementara aku, selamanya akan tetap bak gayung yang tak akan pernah bersambut. 


            Aku tahu sikap ini salah, karna tak sepantasnya aku sampai mau merendahkan diri hingga sejauh itu, apalagi hanya dikarnakan seorang wanita. Namun begitulah aku, seorang pemuda yang telah dibutakan perasaan hingga aku lupa, bahwa dia juga manusia biasa yang hakikatnya tak jauh beda denganku. Tapi kenapa aku masih saja tetap mengelu-elukan dia hingga setinggi langit? Entahlah, aku memang tak pernah peduli akan hal tersebut, karna disatu sisi perbandingan ini benar adanya. Maka aku hanya bisa mengelus dada untuk membujuk diri, mendustai hati dengan segala kemungkinan tak jelas bahwa itu akan terwujud menjadi realita, agar nantinya pesimistis tak lagi menjarah harga diriku, hingga lambat-laun, penyesalanpun usah menjadi keluh-kesah dalam sepiku. Aku tak pernah tahu, entah kenapa demi semua itu aku bahkan bersedia menutup hatiku dari bunga-bunga bermekaran diluar sana, sementara kembang bunga dihatiku itu saja tak pernah mau mekar ditamanku.
            Dan sekarang aku masih saja terpuruk dalam jurang kesalahan masa lalu. Hingga jika aku dapat berandai-andai, maka hal pertama yang terbesit dipikiranku hanyalah kembali ke masa lampau dulu, saat takdir tak memberi kabar bahwa secara diam-diam aku akan dipertemukan dengannya. Maka ingin aku menjemput kembali diri yang kala itu sedang terdiam bisu merenungkan pesona ayu manjanya, menyeret lagi angan yang tengah melayang diterbangkan alunan nada-nada indah nyanyian merdunya, lalu menyentakkan kembali kesadaran yang sekejap mata hilang karna telah dibuat terlelap dalam untaian lembut alunan musik instrumental yang dimainkan jemari lentik mungilnya. Tapi apa daya, tak ada yang dapat kulakukan sama sekali. Pelampiasan sesalku hanya sesaat itu saja, karna berharap itu akan terjadi, rasanya akan teramat riskan. Apa mungkin, roda masa lalu bisa berputar kembali? Tak ada yang dapat kusalahkan selain kebodohan itu sendiri.
            Kadang, bila kerinduan telah jenuh menyiksaku, dan pada akhirnya perasaan itu makin kentara meluluhkanku, maka tak ayal aku akan selalu mencari tempat untuk menyendiri, berkeluh kesah sendiri, dan meredakan gemuruh jantungku juga seorang diri. Biasanya aku akan pergi ke tempat-tempat yang jauh, yang tiada seorangpun dapat melihat air mataku bercucuran. Aku melakukan itu bukan tanpa apa-apa, melainkan memang sudah tidak sanggup lagi menahan gejolak perasaan yang kerap berteriak parau dibagian terdalam lubuk jiwa ini. Bahwa disetiap saat, aku selalu ingin bertemu dengannya, berbincang sesaat bersamanya, bertanya ini-itu pada dirinya, mengunjungi keluarganya, melihat dari dekat kesehariannya dan masih banyak lagi yang akan kutanyakan dalam kehidupannya.
Bila sudah begini, atau karna kerinduan seolah tak dapat kukendalikan lagi, maka aku akan menangis tersedu dalam jeritan kerinduan yang tertahan. Lalu aku akan mencari tempat dimana dia berada seraya membenamkan lagi ingatanku kedalam serpihan kenangan masa lalu. Seperti yang seringkali kulakukan pada satu sore nan sahdu, ketika aku termangu dengan sendu menikmati nuansa senja di pesisir pantai yang riak-riak kecilnya memantulkan kemilau nirwana. Ditelingaku, sambil menyelingi pemandangan indah itu dihadapanku, akan kusisipkan sepasang earphone portable musikku disana agar suara merdu gadis itu mengalun lembut dalam benakku. Hingga ketika kusaksikan sang surya kembali ke peraduannya, dan ketika kemilau indahnya terbiaskan temaram senja, setidaknya kerinduan yang mendera dihati itu juga turut menjadi sirna ditelan hangatnya terpaan sang bianglala. Seperti itulah aku akan menghabiskan waktu hingga gejolak kerinduan itu mereda.
            Sering kuyakini, bahwa ternyata dia adalah sosok yang begitu menginspirasiku. Meski usianya masih muda, namun ia lebih matang dari yang aku duga. Begitu banyak hal yang dapat ia banggakan. Prestasinya mengejutkan, baik dibidang akademik, maupun dalam karirnya bermusik. Dalam berperilaku, dia terlihat begitu santun, dan akan langsung terlihat dari cara ia bertutur sapa, caranya bertata-krama, suara halusnya ketika berbicara, sikap pedulinya dan terutama, tatap matanya yang meneduhkan jiwa. Biasanya, ia akan menyapaku lewat akumulasi pesonanya yang indah itu, membisikiku dengan untaian sajak-sajak mesra untuk mendengar segala keluh kesahku tentang kerasnya hidup, sembari tersenyum manis seakan mau bersimpati merasakan apa yang telah aku rasa.
Di dalam hati kecilku, Ia termanifestasikan sebagai seorang anak bertipikal gadis rumahan yang selalu menomor satukan pendidikan, keluarga, persahabatan, dan kebersamaan. Ia memang tak mengenal kesia-siaan dalam kesehariannya. Prinsip hidupnya selalu tertata rapi, berwarna serta selalu berirama. Hingga bagiku, tanpa perlu tahu semua itu sekalipun, aku tetap akan melihat ia sempurna dimataku. Karna disamping parasnya yang ayu itu, dibalik tatapan sayu dalam kibasan rambut hitam nan tergerai lurus berhias ikatan bando putih dulu, telah terkuak jutaan rahasia menakjubkan dari sosoknya yang penuh misteri. Maka dialah wanita mungil yang telah menjebakku di masa lalu, yang bahkan mampu membuat singa terlelap dalam pangkuannya ketika tengah bernyanyi.
            Karna itu, aku kerap menjadikan pencapaian kehidupannya sebagai tolak ukurku dalam pencarian jati diri. Bahkan, ia sudah menjadi inspirasi tersendiri bagiku. Seperti ketika aku berpetualang dalam kehidupan, maka ia akan terus memotivasiku, memompa adrenalin dalam semangatku, berbisik kecil dalam keputus-asaanku, hingga menghembuskan aroma positif dalam keterpurukanku, bahwa sudah sejauh mana aku berlari, apa yang aku dapat selama ini, dan jika aku gagal, ia akan berbisik bahwa tidak sepantasnya kegagalan itu kutangisi. Maka dialah persepsiku akan defenisi tentang cinta dan penterjemahanku akan segala bentuk keindahan. Mengenalnya adalah sebuah anugrah terindah bagiku. Karna sejak itulah aku jadi lebih tahu ke arah mana aku harus melangkahkan kakiku.
Di satu sisi, pertemuanku dengannya terasa meremukkan hati. Bukan tak mungkin kepedihan senantiasa menggerogoti luka dalam diri, bahwa betapa senyumnya itu telah membuat aku terenyuh dalam rindu. Ia seolah menyiksaku dengan akumulasi pesona cahaya matanya kala terkejut, reaksi gugupnya ketika malu, sifat kemayunya saat digoda, dan untaian lagu yang dinyanyikannya kala bersenandung. Namun disatu sisi lainnya, aku justru merasa beruntung telah dipertemukan dengan gadis jelita ini, karna dibalik pesonanya nan tak tersentuh, juga lahir makna hidup baru dalam kemauanku yang kuat untuk berubah bahkan diberikan lagi kesempatan untuk mencari tahu dunia, hingga memutar sejenak lajur-mundur masa lalu lewat beragam karunia terindah tentang anugrah yang tengah kurasa, bahwa hidup ini terlalu indah untuk kulewatkan secara percuma.

Dulu sekali, ketika belum secuilpun perasaan itu menyelinap dihati, pendeskripsianku tentang diri hanya sebagai pemuda yang tak jelas, pemalas, tak mengenal survive menyongsong hari esok, dan terlebih, tak punya komitmen dalam hidup. Bahkan aku kerap menjalani keseharianku dengan percuma belaka, menghabiskan waktu tanpa melakukan hal-hal penting untuk kedepannya hingga membuatku takut membayangkan bagaimana masa depanku ini setelahnya. Aku seolah terintimidasi oleh derita menyedihkan yang di alami orang kebanyakan, yang masih belum menemukan apa arti hidup, jati diri dan karakter kedewasaannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghinggapi kesendiriannya. Seiring itu, apapun yang pernah kuberikan tak sedikitpun menjadi kehidupan. Tak jauh beda dengan keinginanku yang selalu menjauh dari kenyataan. Hingga akhirnya, ketika gadis bersenyuman gingsul itu hadir dengan pesonanya, itulah saat paling menakjubkan dimana hidayah allah datang lewat perantaraannya.

Inilah perlakuan cinta padaku, cinta yang dengan caranya terkadang tak dapat kupahami. Kadang ia membuatku terjebak dalam asa, hingga menggoreskan luka dalam tanya, bahwa sampai kapanpun diri ini tak akan pernah terbesit dihatinya. Kadang ia memberikan harapan untukku, berbisik mesra ditelingaku, agar disuatu saat aku bersedia memenuhi ruang dihatinya, dan itu membuat aku pilu. Namun biarlah, apapun keluhan itu sudah tak masalah lagi bagiku, karna dalam hati aku hanya sebatas ingin merasakan apa arti cinta saja, bagaimana rasanya mencintai, meskipun tak pernah bisa untuk dicintai.

****