Kota
ini masih saja tetap sama. Dan kenangan itu, masih jelas membekas dipelupuk
mata. Jangan katakan nostalgia masa lalu mampu mengobati apa saja. Karna
bagiku, justru romansa seperti inilah yang membuat batinku kian tersiksa.
Udara basah
disini tak jua berubah. Gerimis, deru angin, embun dikaca rumah, pantulan lampu
mobil dijalan, kucing yang menguap malas, dan kesenyapan ketika hujan menyapa,
perlahan melemparkan aku lagi pada cerita masa silam. Aku kemudian melepas
rindu pada bulir gerimis yang bertebaran dikota ini. Berjalan pelan menjejakkan
langkah guna meresapi kesejukan alam nan menentramkan.
Di tepi
perbukitan inilah udara sejuk itu dulu pernah kuhirup.
Indah tak
terperi.
Dari atas
sini, hilir mudik kendaraan samar-samar tersingkap dari celah rerimbunan hijau
dibawah sana. Mobil-mobil besar berarak pelan, berjejer panjang tak putus-putus
dengan mesinnya yang meraung-raung berat. Hutan alam terhampar indah. Terlukis
sempurna seitaran mata memandang. Riak sungai singgalang, kayu lapuk
berserakan, ranting kering dipembatas jalan, kera-kera berkeliaran, bau basah
pegunungan, dedaunan teduh nan berjuntai beriringan, hingga hempasan air terjun
lembah perbukitan, kian kentara saja merebak dalam jiwa. Keindahan ini lantas
menjebakku. Hingga tiba-tiba, kerinduan tentang seseorang seakan mendekapku
dari dalam.
Kubuyarkan
lamunan itu, lalu kutekan gemuruh rasa sesak dalam ruang didada. Ini begitu
sulit. Entah kenapa aku masih belum siap.
Aku menuju
rumah sambil melipat lengan. Hawa dingin seketika menyergap. Begitulah kota
padang-panjang bila gerimis merekah. Kusapa orang-orang yang kutemui. Mereka
tersenyum, membinarkan bola mata, dan kembali melontarkan sapa padaku. Senyuman
selamat pulang, senyuman lama tak bertemu, dan senyuman penuh rindu kini
bersemi didepanku.
Brrrr,,
Tiba juga
aku dikota ini. Tapi mengapa dadaku sesak ?
Aku berlalu
dari mereka dengan susah payah guna menyembunyikan kemelut perasaan. Pura-pura
lupa dari segalanya bukan perkara mudah, dan kegetiran ini tak akan lenyap
begitu saja.
“Tenanglah,
rasa itu tak sedikitpun salah.” Demikian bisik embun dipipiku.
Alam
ternyata tahu! Mereka akhirnya tahu apa yang kupendam. Tapi bukankah mereka
cuma sekedar tahu ? Tak ada yang mampu memahamiku. Tak akan pernah, bahkan dia
sekalipun tak akan pernah mau tahu. Dan aku tak akan mau menyuarakannya.
Kenangan itu makin mendekat.
Kulihat oma
tengah tersenyum di pintu depan. Ia ternyata menungguku. Yah, wanita tua itu
makin termakan usia saja. Aku balas tersenyum, melambaikan tangan, berusaha
meresapi kehangatan yang tulus berasal dari hatinya.
Selalu
begitu, selalu pancaran itu terkuak dari wajahnya. Bahkan semenjak dulu, ketika
ia mau berbesar hati menerima keberadaanku dirumah ini.
Rumah ku yang hangat, rumah keduaku yang
damai. Meski dari jauh, rasa rindu itu sudah menelusup dalam kalbu. Apa daya,
Justru dari bangunan tua inilah kenangan lama itu bersemayam di hatiku.
Kini aku
pulang.
Kusalami
beliau sambil tak lupa mencium tangan kurusnya. Ia mempersilahkanku masuk, lalu
berlalu sesaat meninggalkanku sendiri diruang tamu. Tak lama, ia datang lagi
sembari menyuguhkan segelas teh hangat untukku. Kebiasaan lama di penghujung
senja. Kutiup kepulan asap dicangkir itu, kuseruput perlahan, lalu ku awali
pembicaraan sore itu dengan bertanya seputar kabar oma, rekontruksi rumah, dan jualan
kecil-kecilannya. Jawaban beliau masih saja tentang arisan, tensi tinggi, encok
dipersendian, sakit magg, tidur yang tak pulas, hingga keluh-kesahnya tentang
si sultan, cucunya yang selalu malas bersekolah.
Perbincangan
kami terus berlanjut hingga senja berlalu. Dari penuturan panjang lebar beliau,
aku akhirnya tahu, bahwa semenjak aku dan teman-temanku tak lagi tinggal
disini, rumah jadi terlihat sepi. Tak ada lagi ribut-ribut dipagi hari,
kehebohan ketika antri mandi, diskusi, take suting, debat politik yang
ujung-ujungnya ngawur, makan malam bersama, hingga menertawakan sesuatu yang
tak masuk akal, kini memang tak terlihat lagi. Kebersamaan itulah yang kerap
dirindukan oma.
Mendengar
penuturan tersebut, mataku jadi berkaca-kaca. Cerita lalu mengalir begitu saja.
Dan kenangan itu kian terbesit dikepala. Sesaat .. lamunanku terlempar ke dalam
dimensi ruang dan waktu.
Ingatan itu
masih jelas, dan kepingan kisah itu masih tersimpan rapi dirumah ini. layaknya
beberapa tahun yang lalu.
Tak terasa,
hari telah larut malam.
Oma sudah
berulang kali melihat aku menguap. Aku disuruh istirahat saja. Mataku memang
sudah lima watt. Maklumlah, rasa penat dan lelah di atas bus tadi membuat rasa
kantuk kian menyergap. Kukatakan pada oma, aku ingin tidur dikamar belakang
saja. Ia menatapku heran, bukankah kamar itu sudah lama tak ditempati ? Aku
hanya tersenyum.
“Tidak
apa-apa oma ..” Ujarku singkat.
Gagang pintu
kuputar, aroma kesejukan seketika menyeruak, lalu terbukalah serpihan kenangan
itu.
Lihatlah ..
kamar ini belum banyak berubah. Sama persis dengan yang kuingat terakhir kali.
Hanya saja poster itu tak lagi ada, dan selembar foto dia, tak lagi kusimpan
dibawah bantal, seperti waktu dulu.
Aih,, andai
dia bisa tahu, disinilah perasaan itu mekar berbunga. Dan di tempat inilah dulu
aku pernah berkisah tentang rindu, dari semua, dan terutama, tentang dirinya.
Mata ini
kupejamkan. Tapi aku masih gelisah. Bayang itu kian berkelebat di pikiranku. Kupatut
posisi bantal, kuselimuti separuh wajah, percuma. Kuresapi sayup-sayup suara
jangkrik di luar rumah, tak mempan juga. Padahal tadi, rasa kantuk bertubi-tubi
menyerangku. Aneh!
Ini karna sebuah
nama di kusen jendela. Ku ukir tiga tahun lalu.
-Aluna- -
****