Minggu, 19 Februari 2012

Jakarta , Kota Mimpiku

-->
        
         Gerak lakunya indah bersahaja. manis, dalam rekahan senyumnya nan santun menggoda. ia menatapku, lalu hatiku bergetar dilamun asmara. ia tersenyum lagi, aih, aku demikian berbunga-bunga. kembali alunan sebuah lagu itu terngiang dikepala. menyesakkan ruang didada saja. ku untai berangkai-rangkai puisi mesra disana, dari relung sulbiku, dan kulantunkan menjadi sebait lagu nan penuh dinamika cinta. Lalu anganku bersajak. Bahwa aku rindu lagi tempat itu, rindu lagi udaranya itu, saat bibir tak mampu berucap, ketika lidah tak cakap lagi mengeja. Maka aku telah remuk dalam tatap mata sayunya, terpesona kala bias wajahnya merona. Kukenang kesan itu sejenak, tak terlupa, masih membekas dipelupuk mata. lalu aku terenyuh, terbata digerus rasa yang tak jua mereda. 


          Disinilah mimpi itu bermula, tentang aku, kamu, dan para sahabat lama. Embun sejuknya bertaburan, berbulir indah diatas rekahan sekuntum bunga. Kuhirup udara hangat itu, kugenggam tanah  halus itu, lalu kenangan memelukku. 


          Dan dikota ini aku telah lama membiarkan mataku terbuka, di dalam keheningan perasaan, disela waktu yang bergulir tak peduli. Perasaan itu kian remuk saja ketika kusaksikan butir-butir debu menghempaskan kedua kelopak mataku yang terurai basah. Maka ingin kutenggelamkan kenangan itu bersama waktu, lalu membiarkan diri ini bersama kelegaan, bersama rasa sejuk dan kedamaian yang telah sekian lama aku rindukan. Namun tetap saja air mata itu mengering, karna rasa sakit yang begitu pilu telah menusuk  keyakinanku, lantas melukai perasaan itu dengan sayatan sembilunya agar kulupakan saja semua mimpi. Dan ini teramat sulit... begitu sulit sekali... Karna bayangan gadis nun jauh disana itu senantiasa muncul menghantuiku, membuatku merasa sepi tak terkira, dengan dengungan sebuah lagu rindu ditelinga, disela tangis harap nan menetes meluruhkan jiwa.  

Entahlah,, Dia selalu saja datang padaku, disetiap saat dalam imajinasiku, bahkan tanpa aku minta, dan tanpa aku panggil.


         Kini tak ada yang berubah di kota ini. maka untuk mengenang kesan itu sejenak, biarlah kuhirup kembali udara sepi bertabur rindu ini disekelilingku. Karna dihati kecilku, bisikan itu terus saja menggema, lalu meniupkan hasrat semu dikalbuku.

Ya,,
Kumohon tunggulah,, kisahku akan berlabuh disana.

0 komentar: