Minggu, 18 Maret 2012

Diaz Madun


            Ia menebar berita itu dengan deru-desah nafas yang memburu di ujung telfon sana. Untaian kata kemenangan nan terlalu menggelora untuk dikoarkan. Aku turut bersuka cita mendengar ucapan penuh takjub darinya, karna sesudah penantian yang cukup begitu lama, cecunguk gila itu akhirnya diberikan kemudahan juga untuk mengecap manisnya mimpi yang telah susah payah ia pelihara.
            “Gue dikontrak cui … , bulan depan udah bisa take shuting!! Gila ... !!”
            Aku mematung mendengar berita itu tak ubahnya bak gelegar sambaran petir yang begitu membahana. Berita itu membuatku terkejut bukan main. Ku ucap asma allah berulang kali, tak putus-putus terucap dihati, lalu langit biru kupandang … kutahan bendungan air mata sembari mendongakkan kepala ke atas sana. lalu kuhaturkan rasa kagum akan mukjizat dari langit yang penuh kejutan. Maha suci engkau yang Allah, ternyata mimpi lama itu terpeluk juga. Tak percuma rasanya bila dulu ia pernah sesumbar menjanjikan harapan itu setinggi langit. Dan akhirnya, keajaibanpun kini mulai tersingkap dengan sendirinya dari jubah kebesaranMU nan penuh keagungan itu.
            “ Kau yakin teman ? benarkah dari sekian ratus orang yang ikut seleksi, engkau termasuk kedalam segelintir makluk beruntung yang berjumlah dua puluh empat orang itu ? 
             Kupastikan kabar baik itu padanya. dan ternyata semakin pasti pula ia memberi kebenaran akan nasib baik yang telah memeluknya. Dadaku bergemuruh mendengar ia menasbihkan pengejawantahannya akan filosofi sebuah mimpi yang realitanya seolah tak terbantahkan lagi. 
            “ Kau percaya Allah cui ? Benarlah kiranya Allah yang agung itu selalu menyimpan rahasia mimpi kita dalam pelukan kasih sayangnya. Bukankah allah menyukai hamba yang meminta apapun darinya ? Inilah bingkisan dari tuhan akan harapan yang kutitipkan pada langit dulu, ketika dunia luar tertawa mematahkan semangat mimpi kita.”
           Ia terdiam untuk sesaat. Jelas sekali derai tangis keharuan itu ia sembunyikan melalui setiap getaran lirih suaranya. Perasaanku terenyuh, kurasakan jiwaku juga bergejolak ingin menumpahkan air mata kemenangan yang telah sekian lama kuragukan kedatangannya. Kudengarkan dengan seksama kata-kata penuh rasa syukur itu.
            “ Alhamduliilah.... Gue bener-bener lulus audisi itu cui !! Di serial Tendangan si Madun gue dikontrak dua tahun. Ini benar-benar diluar dugaan. Ga kebayang Allah mendengar do’a gue secepat ini.”
            Kemudian ia menuturkan berita bahagia itu dengan segenap perasaan gegap gempita. Ia mengatakan bahwa film Tendangan si Madun yang identik dengan juggling bola atau lazimnya disebut free style itu sangat butuh pemeran tambahan. Karna itulah diadakan seleksi panjang hingga diikuti oleh ratusan komunitas free styler di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, saking ketatnya audisi, banyak ajang ini mengikut sertakan komunitas-komunitas free styler hingga dari daerah luar yang juga berkualitas jauh di atas standar rata-rata. Selain tingkat persaingannya yang begitu tinggi, persentase kelulusan audisipun hanya terbatas pada dua puluh empat orang finalis akhir saja. Maka mendengar ia termasuk dari yang dua puluh empat orang itu, tak ayal begitu membuat aku terhenyak dilamun kenyataan, bahwa betapa sahabat lamaku ini telah selangkah lebih maju menuju puncak karir tertinggi dalam pendakian gemunung mimpinya.
            Aku masih ingat saja ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika aku dan dia sama-sama bermimpi selangit untuk menaklukan dunia glamour selebritas nan begitu menjanjikan itu. Kami pergi kesana kemari, berpanas-panasan mengunjungi alamat Production House diberbagai tempat, kehausan, kelaparan, terjebak macet tak sudah-sudah, antri berjam-jam menunggu giliran, hingga berbalas rasa sakit karna ditolak mentah-mentah. Tapi semua itu belum dapat membuat kami surut. Tak sedikitpun keadaan itu memaksa kami jera agar menyerah begitu saja. "kesempatan pasti datang" selalu kata-kata itu yang terngiang dikepala kami  Masih ada jalan lain, dan itu bisa dimulai dari cara apapun. Karna itu tak henti-hentinya kami mencari tahu segala informasi kapan, dimana, dan tentang apa sebuah casting dilangsungkan. Dimanapun tempatnya. Semua kami lalui dengan pengorbanan yang sungguh-sungguh tak dapat dipahami logika.
            Kami bahkan rela melepas masa depan kami yang begitu menjanjikan. membuang-buang percuma waktu, tenaga, materi dan kehidupan yang menyenangkan. Kepedihanpun seolah melengkapi penderitaan ini manakala bisikan-bisikan menyakitkan itu berhembus memuakkan dari dunia luar. Pesimistis kembali merebak dihati, lalu bertebaran menusuk ulu hati hingga mematahkan semangat kami untuk bermimpi. Orang-orang pun tertawa. Keluarga tercintapun bahkan tak setuju dengan jalan pikiran kami yang penuh hasrat gila ini. Tapi anehnya, itulah yang membuat kami kembali kuat. Karna apapun bentuk rintangan yang datang menghalang, selalu saja kami percaya bahwa nanti disuatu saat, jalan itu akan terbuka, dan mimpi itu pasti akan menjadi realita.
            Kini setelah sekian lama kami memilih untuk tetap melanjutkan cita-cita, meski dijalan dan tempat yang telah berbeda, disaat kami pincang berjalan karna keadaan memaksa kami untuk berpisah, akhirnya bayang-bayang masa lalu itu perlahan mulai menampakkan keajaibannya. Dan meskipun masih sebatas hal yang wajar-wajar saja, namun kami sadari dihati bahwa inilah awal dari perjalanan menggetarkan kami untuk kedepannya menggenngam mimpi. Dan baru saja mataku telah dibuka oleh kebenaran keyakinan ini, dari bisikan sahabat lamaku dulu, yang perlahan tapi pasti, ia sudah semakin dekat selangkah ke atas puncak mimpi-mimpinya.
            Sahabatku ini bak lounger sejati dalam hidupku. dan ia tidak sama seperti orang kebanyakan. rasanya sudah sejak lama sekali aku mengenal siapa dia. kehidupan kami selalu berjalan bersamaan, termasuk ketika dulu kami melalui ujian itu dengan tertatih tak berdaya. kami bahkan satu ambisi, satu cita-cita, dan satu keyakinan untuk menatap perjalan masa depan. dan untuk menuju semua harapan itu kami tuangkan dalam indahnya sebuah mimpi. lama aku dan dia satu arah dalam menuju dunia itu, sebuah dunia tak tersentuh yang tiada seorangpun mengerti jika bukan diri kami sendiri. tapi semua itu memudar, pupus, lenyap ditelan waktu, hingga tenggelam jauh kedasar samudra keputus-asaan karna dihadang oleh berbagai kedaan yang menuntut tanggung jawab dari kami. Hingga akhirnya waktu harus membuat perjalanan itu usai dan mau tak mau keputusan menyesakkan itu terpaksa harus kami ambil saja. Biarlah untuk sementara kami memilih jalan dulu sendiri-sendiri, hingga akhirnya, aku dan dia memutuskan meninggalkan saja semua kenangan lama kami, cita-cita kami, dan harapan kami tentang kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. ia memilih tetap melanjutkan kehidupannya ditempat tersebut, dikota mimpiku itu, sedangkan aku, akhirnya malah kembali pulang kerumah untuk menggeluti dunia lamaku yang menjenuhkan, dan sebisa mungkin selalu kuusahan untuk kujalani dengan sepenuh hati. Dengan harapan, aku dapat belajar menerima kenyataan hidup dan berharap pencerahan itu datang melalui makna yang tersirat dibalik segala beban kehidupan yang silih berganti datang menghampiri diri.

               Sebenarnya teramat menyakitkan sekali ketika sahabat lamaku ini nyata-nyatanya telah semakin dekat saja satu langkah ketempat mimpinya berada. barangkali hanya butuh beberapa jengkal lagi, maka dapat kupastikan ia akan menggenggam segala apa yang ia cita-citakan semenjak lama. dan semuanya hanya tinggal menunggu saatnya saja, ketika penaklukan gilang-gemilang darinya benar-benar indah pada waktunya. maka terberkatilah kehidupannya. Sementara aku, hingga kini masih saja berada dalam bayang-bayang mimpi yang entah kapan akan segera tiba menyertaiku.
            Disatu sisi aku begitu bangga padanya, terharu bila teringat kembali akan kisah lama yang berlika-liku dalam perjalanannya yang teramat menggetarkan jiwa akan segala rintangan dan hadangannya. tapi tak dapat juga kubohongi hati ini, bahwa disatu sisi lain aku teramat terenyuh menahan kesedihan yang mendalam. aku terbata digerus rasa melankolis yang menusuk ulu hatiku, bahwa dibalik kemenangannya untuk mewujudkan segala ambisi mimpinya, aku yang dulu juga pernah berkoar bersamanya malah masih belum dapat apapun jika dibandingkan pencapaian mendebarkan seperti apa yang ia bisa. pada akhirnya, ketika berita itu berhembus melalui bisikan-bisikan kemenangannya, tak ayal kata-kata yang terlontarkan darinya begitu menyanyat pedih relung jiwaku, tak ubahnya seutas celurit yang menebas tak bersisa dedaunan talas yang berterbaran ditepian tambak harapan lamaku.
            Aku selalu berusaha membesarkan hati agar ikhlas menerima nasib baik satu sisi ini. meskipun tabir mimpi harapan dulu masih belum dapat memihakku seperti dia. namun butuh ketegaran lebih untuk menelan pahitnya ketertinggalanku itu mentah-mentah. tak tahu kenapa, dan aku resah memelihara rasa ini bersemayam dihatiku. tak pantas rasanya aku yang sebagai sahabat malah menyambut berita baik itu dengan segala kekalutan hati. tak seharusnya aku masih juga mengedepankan ego ku yang harus pula bernasib bak pinang dibelah dua seperti dia. dimana aku juga yang harus menerima nasib baik yang sama. Aku berusaha memandang keadaan ini dari satu sisi yang berbeda, tapi semua itu seolah karam dibenamkan hasrat keangkuhan hati yang kerap  mengandaikan segala sesuatunya harus bermula dariku, termasuk berita keberhasilan yang sangat tidak adil bila aku masih saja harus meratapi penundaanku akan masa-masa gemilang tentang mimpiku. maafkan aku teman, hingga kini aku masih selalu menganggap bahwa akulah yang terbaik darimu.
            Butuh waktu lama bagiku menegarkan diri agar batinku berlapang dada menerima kebahagiaan satu sisi ini. aku memang merana, tapi aku selalu berusaha sabar untuk meredakan gejolak jeritan tak adil yang menggema dari jiwa yang menangisi mimpi dalam sepi. sulit pasti. tapi bukankah segala sesuatunya bermula dari allah, sang penguasa alam ? maka tak ada yang pantas dilakukan selain aku cepat-cepat bersimpuh memohon ampunan di permadani keharibaannya yang begitu membuatku merasa hina dina dihadapannya. aku harus mengerti sekaligus memahami, bahwa ternyata sekujur tubuhku masih saja dilumuri dosa yang tak dapat kupahami dan kumengerti. Aku bukanlah memang tanpa apa-apa dibandingkan kebesarannya. Karna mau bagaimanapun, tetap aku hanyalah makhluk kecil yang tak punya daya upaya jika ingin  memutar balikkan segala kenyataan itu agar bersemi indah layaknya apa yang aku mau. maka kenapa pula aku harus menggenggam erat kepala ini sembari berteriak protes kepada langit nan berlapis-lapis disana ? astagfirullah ... maafkanlah hambamu ini yang ya allah. sungguh iblis telah memperdaya kembali jiwa yang berlumur dosa-dosa ini.
            
            Kini aku sudah mencoba agar aku tegar menerima kemungkinan-kemungkinan itu nanti. termasuk ketika nanti dunia luar terkekeh geli menertawakan semua kesembronoanku yang masih saja bergelut dengan kebodohan tetap memelihara mimpi, sementara hasilnya nihil. belum lagi ketika tawa itu semakin meledak menjadi-jadi disaat malah teman dekatku sendiri yang justru kehujanan puncak karir dari manisnya mengecap mimpi. aih, inilah yang benar-benar tak dapat aku bayangkan nanti. entah mau kukemanakan raut wajah sembab berguguran air mata kekalahan ini nantinya. aku bisa saja menyembunyikan semua luka itu dalam senyum yang dipaksakan, tapi tetap saja guratan frustasi itu akan muncul juga tanpa kusadari. dan akhirnya, tawa cemoohan dari mereka yang menikmati kemenangan, sikap simpati yang begitu memuakkan, tatapan empati, bisikan mengibur diri dan tepukan dipundak yang mengisyaratkan dunia ini hanya sandiwara belaka yang tak harus ditangisi, malah semakin terbayang-bayang dimataku hingga membuat aku tergugu menebak masa depan. akankah kepahitan dalam hidup itu membuat masa tuaku tak berarti lagi ?
            Dan biarlah semua itu berlalu, seolah gugurunya dedaunan kenangan dihamparan ladang yang ditinggalkan. terkadang pencerahan itu datang tak jauh-jauh. semua dapat dipahami melalui alam yang terhampar dipelupuk mata. aku mungkin bisa belajar kehidupan dari pepohonan disana, angin yang berhembus menyapa, tetes hujan di pelataran rumah, pantulan wajah di kolam, dan awan-awan kuning yang berarak pelan. ketika udara sejuk itu kuhirup, aliran itu seketika menjalar memenuhi rongga dadaku. kurasakan jiwa ini membeku dalam keheningan perasaankku tentang mimpi. maka selalu kukatakan dalam hati, biarlah aku luruh seperti sehelai daun yang jatuh kedasar bumi karna tertiup angin, biarlah adanya seperti itu. barangkali seperti inilah kehidupanku nanti, meskipun berjuta-juta harapan yang kutitipkan ke angkasa sana, tapi jika memang sang pencipta yang agung telah menetapkan lembaran takdir lain bagiku, aku hanya dapat mengelus dada untuk membujuk diriku. bahwa seperti inilah aku apa adanya. Bukankah disini aku bisa bernapas dengan lega, memejamkan mata dengan penuh kedamainan, dan bersandar dihamparan rerumputan yang menghangatkan. Dan bilapun mimpi kembali terbesit dikepalaku, dan ketika sosok penghuni mimpiku itu tersenyum melambaikan jemarinya kepadaku, maka sungguh aku akan mengiklaskan semua itu nantinya, dan senyuman manis yang menyejukkan jiwa itu juga akan kubalas, kubalas dengan sepenuh hati, seperti melihat bidadari nan cantik jelita melalui jembatan penghubung dua dunia, seperti nestapanya aku yang menikmati keelokan senyumnya dari balik kaca antara mimpi dan realita.
Biarlah seperti itu saja ........