Sabtu, 23 Februari 2013

Masa Lajang


20 februari 2013         

Aku baru saja pulang kuliah. tak ingin pulang terlebih dahulu, aku berkunjung ke kos bulek. wajar saja, karna motor yang tengah kujadikan media transportasi tadi adalah pinjaman dari mas nop. karna itu, tak efisien rasanya jika aku berlama-lama mengeksploitasi motornya untuk kubawa pulang. Sudah hampir satu hari sejak tadi malam motornya kubawa. alasannya masih sama. Vario pinky ku belum juga dikembalikan ayah.
          Hatiku sangat berbunga-bunga saat sampai dikos ini. semua terasa berwarna. bagaimana mungkin hatiku berdebar-debar tak tentu arah? ah, jatuh hati bukan asumsi yang tepat, tapi pikirankulah yang justru telah tercuri. tadi waktu dikelas, seseorang gadis berperawakan chuby tiba-tiba saja mengalihkan duniaku. setidaknya sampai detik ini.
          Sebenarnya ini sudah pertemuan kedua kuliah. baru memang, tapi baru kali inilah kurasakan sesuatu yang beda tentang gadis itu. waktu awal kuliah kompleksitas seminggu yang lalu, gadis itu sudah ku amati. ketika ia kebetulan duduk dikursi depanku. rambut panjangnya tergerai lurus dengan poni sebatas alis matanya. pipi gadis itu bulat, hingga ketika ia bicara pipi itu akan menggembung seiring mata kecilnya yang berbinar. bibirnya berwarna ungu, aku tak tahu apakah itu pengaruh lipgloss atau apa, dan secawat behel berhias manik-manik terlihat memagari gigi putih bersihnya.
          Hari itu biasa saja, tapi kini ada yang membuat ku tertarik melihat paras wajah oriental lucu itu. saat perkuliahan usai, aku tak sengaja menatap matanya saat melewatinya di sisi pintu. pandangan kami seharusnya beradu, terlihat dari lirikannya yang coba-coba ikut menatapku. tapi aku cepat-cepat mengalihkan wajah. pura-pura menatapnya sekilas, lalu berlalu keluar kelas.
          Ah ... harusnya tadi ku ikuti insting naluriku untuk menatap bola mata bulat itu lama-lama. bisa saja pipinya yang chuby itu menggelembung lagi saat kulemparkan senyum sapa. aku yakin, ia juga akan membalas senyumku. setidaknya senyum perkenalan lewat tatapan mata.
          Aku merutuk sendiri ketika kejadian itu berlalu begitu saja, tanpa ada gereget yang harusnya tejadi dengan indah. seperti gelagat salah tingkah ketika beradu pandang, seperti pipinya yang merona malu, gugup, dan berjuta kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. ah,, kelemahanku masih saja terletak pada sifat malu yang kronis. seperti yang sudah-sudah, salah satu faktor utama yang hingga kini terus membuatku terjebak dalam status jomblo permanent. menyedihkan, tapi justru dari sifat inilah yang membuat aku berbeda dari anak-anak muda kebanyakan. jika benar kata mereka bahwa pacaran itu tidak akan asik tanpa hubungan fisik, yang merupakan bumbu dari suatu hubungan, maka aku sangat beruntung sekali karna hingga kini aku belum sedikitpun menyentuh hal-hal tidak senonoh seperti demikian. jangankan hubungan fisik, bicara pada wanita pun jujur sudah membuatku gugup, grogi, dan salah tingkah.
          Hmm .. dua sisi yang saling bertolak belakang. disatu sisi aku bisa dibilang cement karna hingga usia 22 tahun aku belum menghadirkan beberapa mantan yang pernah singgah dihatiku. pernah sih, tapi itu cuma satu kali seumur hidup waktu kelas satu SMA dulu. dan sejak itu aku tak lagi membuka diri. di satu sisi lainnya, meskipun orang-orang bilang aku payah, aku sudah cukup bersyukur telah diberikan suatu keadaan yang menjauhkan aku dari dunia menjemukan yang harus menuntutku ini-itu. dan demikian, barangkali aku juga bisa terlepas dari pengaturan waktu yang meski kubagi di masing-masing hari dalam satu minggu. seperti kapan waktu apel, jalan, nonton, nemenin doi shoping, nelfon hingga larut malam, dan beberapa aktifitas lain yang kadang tak masuk akal. sisi ini lebih membuatku kuat mendengar ocehan-ocehan mengiriskan yang sampai ditelingaku.
          Tapi tak tertutup kemungkinan masa sendiri ini ku akhiri ketika suatu saat akan ada seorang wanita yang terang-terangan telah membuat aku lupa pada segalanya. seorang gadis yang tak perlu punya spesifikasi kusus. cukup membuat hatiku tergetar saat ia tersenyum, berbicara dan menatapku lewat sepasang bola mata indahnya. maka bila itu sudah terjadi, dan sudah kurasakan pergolakan batin itu dihati ini, maka aku tak akan ragu lagi membuka diri. Dan untuk wanita spesial seperti itu, aku akan melakukan apa saja untuk merebut hatinya, meski melakukan hal-hal tak masuk akal sekalipun, termasuk mengenyahkan jauh-jauh sifat maluku yang selalu menjadi perisai akan datangnya rasa suka yang kemudian bermetamorfosis menjadi cinta. klise memang, tapi jika kesempatan itu datang, aku tak akan menunggu lama karna, saat itu jugalah perasaan ini akan ku ucapkan mesra dihadapannya. dan aku tak akan mau peduli dunia mau berkata apa.
          Seperti kesanku tentang gadis mungil di masa lalu ... gadis kecil dengan senyum ginsul yang ia punya, yang entah kenapa selalu membuat aku terpesona dalam cara apapun. apa lagi ketika ia tertawa dengan manis. Dan rasa rindu yang hadir telah  menusukku dari dalam. tentang segala hal, tentang tutur sapanya, alunan jemari mungilnya saat memainkan nada, senyumnya yang meluluhkan jiwa, dan suara indahnya yang terngiang selalu ditelinga. maka jika segala hal tentang gadis seperti dia termanifestasi melalui sosok lain diduniaku, meski defenisi pesonanya tak terlalu rinci seperti pesona yang ia punya, maka getaran yang ia sentuhkan pada hatiku sudah cukup. dan senyum yang ia punya itu bisa mengingatkan aku sewaktu-waktu  pada sebuah ulasan senyum yang pernah membuat aku terpesona .. tentang dia, tentang satu wajah yang hingga kini masih menjadi kekuatan kenapa hati ini tertutup lama dari perasaan yang terangkai menjadi kata cinta. setidaknya biarlah begitu hingga nanti aku benar-benar sampai pada masa dimana tulang rusukku nanti akan memperlihatkan diri dengan sendirinya. tak mengapalah jika dia bukanlah gadis itu.
          Tak terasa, anton dan bulek yang sedari tadi tertidur saat aku sampai kini telah terbangun. kehebohan suasana yang mereka munculkan cukup membuat rasa yang tadi mendera-dera dihatiku sedikit pudar. gadis dikelas tadi memang telah mempesonaku. tapi seperti biasa, rasa itu tak akan lama. mungkin hanya sebatas rasa kagum sementara. tadi bisa saja kubilang aku suka, tapi sekarang aku malah merasakan sosok itu biasa-biasa saja. tadi sempat terbesit dipikiranku untuk membuat rasa ini berujung pada satu akhir yang menyatukan kami dalam sebuah hubungan yang terimajinasi di kepala. Pacaran !!
Ught .. lagi-lagi khayalan ini mengambil alih. seperti biasa selalu, bila ada wanita yang ku suka, imajinasi ku akan menari-nari dengan sendirinya. menyajikan momen-momen indah yang belum sempat terjadi. aku saja jadi geli saat imajinasi di pikiranku terangkai menuju suasana saat seusai kuliah, dimana aku dengan motor baruku vixion nanti membonceng dia dan punggung jenjangku menjadi sandaran kepalanya.  berlanjut saat kami suap-suapan di sebuah pantai, makan malam di cafe restro, hingga mengantarnya lagi pulang ke rumah. adegan luar biasa justru terjadi di depan pagar rumah gadis itu  ... kami saling bertatap muka terlarut dalam suasana aneh dimana mata kami menjanjikan harapan lebih tentang masa depan. dimata itu kami sama-sama melihat cinta ini begitu suci, seakan-akan pertemuan ini adalah awal dan akhir hingga masa tua kami menjelang. Angin malampun mendesis. Hening .. sejurus kemudian, tanpa terduga sama sekali, kontan saja bibir kami bersentuhan. Begitu saja .. seolah tak ada beban. lalu berpelukan lama sekali. Sepertinya tak ada keraguan untuk melakukan hal yang lebih jauh dari sekedar kissing. Apapun bisa terjadi, karna keyakinan semu barangkali terlalu kuat hingga nilai-nilai moral yang ada menjadi terkalahkan bahwa apa yang terlakukan adalah manifestasi dari sebuah rasa cinta yang utuh. Wajar saja rasanya. Karna begitu jugalah dulu iblis mengukir sejarah saat menyesatkan adam dan hawa. Ketika iblis membutakan hati, meragukan nurani antara benar dan salah dalam rayuan sesat di telinga. Menggoda perisai keimanan manusia seperti aku yang telah melangkah jauh di alam imajiner sana.
          Ah ,, itu keterlaluan sekali. aku jadi bernafas lega karna itu hanya sebatas imajinasi. Untung saja tatapan mata kami dikelas tadi tidak bermakna lebih. dan kemauanku untuk berharap kesan pertama itu akan membuat hati kami bersemi lalu berujung menjadi sebuah jalinan hati juga belum sempat terjadi. Besar kemungkinan itu adalah awal dari gejala lahirnya sebuah hubungan baru. Dan bila nanti aku benar-benar pacaran, jujur godaan seperti itu tak akan dapat kukendalikan. Karna mau bagaimanapun, tetap saja dunia pacaran tak jauh-jauh dari yang namanya hubungan fisik. Ada sih sebagian yang dapat mengendalikan hubungannya harus seperti apa, tapi melihat fenomena seputar dunia remaja saat ini, rasanya terlalu riskan bahwa pacaran itu bersih dari hal-hal demikian. Kalaupun tidak sampai sejauh itu, minimal pegangan, pelukan, dan belaian itu pastilah ada.
          Sekali lagi .. biarlah semua perasaan ini bersemi di suatu hari nanti, dalam sebuah pertemuan tak terduga, di dalam alur cerita yang tak pernah kureka-reka. biarlah semua ini akan indah pada waktunya.

0 komentar: